Peristiwa

GUSDURian Yogyakarta Bedah Pemilahan Sampah hingga Praktik Komposter dan Biopori [KURANG FOTO, FKW DSB]

Jombang – “Prinsip dari sampah organik adalah dia akan terurai,” ujar Hafi, salah satu fasilitator dari Gusdurian Yogyakarta mengisi rangkaian Kelas Ekologi dalam gelaran Festival Jagat dengan materi pengolahan sampah berbasis komposter dan biopori. Kelas bertema ekologi ini dilaksanakan di salah satu ruangan gedung MA Salafiyah Syafiiyah Seblak dan dihadiri oleh sejumlah guru madrasah. Sesi ini dipandu oleh dua fasilitator, Pandu dan Hafi, yang mengawali materi dengan menyampaikan beberapa prinsip dasar sampah organik.

Hamada Hafidzu, sebagai fasilitator pertama, memperkenalkan pengelompokan sampah ke dalam empat kategori utama, yaitu sampah organik seperti sisa sayuran dan tulang, anorganik seperti bungkus mi instan, kemasan detergen, hingga gelas kaca, sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), serta sampah residu.

“Gelas kaca tuh juga anorganik ya temen-temen. Kretek itu masuknya organik, karena dia berasal dari tumbuhan. Teman-teman ada yang tahu sampah residu itu apa?” ujarnya.

Fasilitator Hafi memantik jawaban peserta kelas, bahwa sampah residu merupakan jenis sampah yang sudah tidak dapat diolah kembali. Sebagai contoh kontekstual di lingkungan santri, fasilitator menunjukkan peci yang sudah rusak dan membedah alasannya masuk kategori residu karena memiliki material berlapis (multilayer) yang bercampur antara plastik, mika, hingga kertas.

“Peci hancur kenapa masuk residu? Karena dia lapisannya banyak, atau biasanya disebut multilayer. Peci ini kadang ada plastik, ada mikanya, ada kertasnya,” jelas Hafi.

Diskusi kelas juga diperkuat dengan pandangan mengenai pentingnya pemilahan, di mana salah satu guru yang menjadi peserta, Bu Neneng, menyampaikan bahwa memilah sampah dilakukan demi kebermanfaatan selanjutnya, yang kemudian ditanggapi fasilitator bahwa setiap jenis sampah memiliki potensi bahaya maupun manfaatnya masing-masing. Peserta kemudian diajak menonton tayangan film dari Ravacana Friends yang menceritakan dinamika sosial dan perilaku warga lokal yang kerap membuang sampah sembarangan demi menghindari teguran, sebelum menutup sesi pertama dengan refleksi check-out berupa pesan untuk bumi.

“Hai bumiku, aku berjanji untuk menjagamu dan tidak merusakmu,” ucap salah satu peserta.

Memasuki sesi kedua, Pandu menjelaskan klasifikasi sampah organik menjadi sampah basah dan sampah kering, dilanjutkan dengan pengenalan dua alat pengolahan, yaitu metode keranjang Takakura dan pipa biopori berbahan paralon yang ditanam di dalam tanah. Kedua media ini sudah dimanfaatkan sebagai metode pengolahan sampah organik di area sekretariat Gusdurian Yogyakarta. Para peserta kemudian memahami cara kerja biopori di dalam tanah serta melihat langsung pengomposan dengan metode Takakura.

Hana Rusmalia

Penggerak GUSDURian Jogja