Oleh: Saypulloh Mahpud
DESA Sumberrejo terletak di lereng perbukitan Jawa Timur, di mana angin sore selalu membawa aroma tanah basah dan daun tebu yang bergoyang pelan. Rumah-rumah kayu dan tembok bata merah berdiri rapat di sepanjang jalan tanah yang berlubang-lubang. Sawah-sawah hijau membentang hingga kaki gunung.
Ahmad, pemuda dua puluh tahunan tiba di rumah ibunya pada suatu sore hujan deras. Tas ranselnya basah kuyup, baju kaosnya menempel di kulit. Ia baru saja meninggalkan pekerjaan di Surabaya sebagai guru kontrak di sebuah sekolah swasta.
“Ibu sakit,” kata adiknya lewat telepon dua minggu lalu. Sekarang, Bu Aminah duduk di teras dengan selimut tipis di pangkuan, wajahnya pucat tapi senyumnya masih hangat seperti dulu. Melihat Ahmad, wajahnya langsung sumringah.
“Masuk, Nak. Air teh sudah siap,” katanya pelan.
Ahmad memeluk ibunya lama. Di dada ibunya, ia merasakan denyut jantung yang lemah tapi teguh.
Ia akhirnya mendengar sesuatu yang jauh lebih dalam dari kabar ibunya yang sakit. Desa Sumberrejo tengah mengalami gejolak. Tiga tahun Ahmad tidak pulang dan di saat itu kampung halamannya tidak lagi sama.
Desa Sumberrejo yang hijau itu mulai pudar oleh bayang- bayang traktor milik investor besar yang mengintai dari balik pagar kawat. Desa yang dulu damai itu kini seperti kain tenun yang benangnya mulai terlepas—satu tarikan saja, bisa putus semuanya.
***
Keesokan harinya, Ahmad berjalan ke sawah. Pak Karto,
tetangga sebelah, sedang membersihkan parit dengan cangkul. Tubuhnya bungkuk, tapi matanya tajam.
“Wah, Mas Ahmad pulang. Desa lagi panas, lho. Ada investor mau beli tanah semua. Katanya pabrik gula. Tapi harganya murah sekali. Y ang nolak, dibilang anti- pembangunan,” kata Pak Karto sambil menyeka keringat.
Di mana-mana, Ahmad mendengar presiden dan menteri menyebut swasembada pangan. Namun kenapa di desanya yang jadi salah satu lumbung padi dan penghasil tebu, sawah- sawah justru mau dihilangkan?
Ahmad kemudian mendengar cerita itu berulang di warung kopi. Beberapa warga sudah menandatangani surat perjanjian. Beberapa lainnya menolak. Y ang paling keras menolak adalah Mbak Rina, guru SD yang rumahnya di ujung desa. Ia memiliki petak sawah yang jadi perencanaan pembangunan pabrik.
Ia seorang Katolik, satu-satunya di kampung ini. Dulu tak ada masalah. Tapi sejak ada grup WhatsApp desa Mbak Rina sering terpojok.
“Saya pernah diteror, Mas. Jangan aneh-aneh kalau jadi minoritas,” kisah Mbak Rina. Karena sikapnya yang enggan menjual sawah warisan keluarganya, ia sampai mendapat pesan aneh-aneh dari nomor tak dikenal. Intinya, mereka ingin Mbak Rina mengikuti proyek ini atau ia akan kehilangan segalanya. “Tentu saja saya takut,” sambungnya.
‘Sial!’ ujar Ahmad. Ia tak menyangka pembangunan ini menggunakan cara-cara untuk mengadudomba warganya. Di sinilah kepulangannya ke kampung halaman bukan sekadar kebetulan. Ia ingin melakukan sesuatu yang lebih.
***
Ahmad bangun sebelum azan subuh berkumandang. Yang
ia rindukan adalah suara lalu lalang orang yang saling sapa ketika berangkat ke sawah. Pagi itu, ia berjalan ke sawah dan bertemu Pak Karto, tetangganya yang sudah sepuh. Sejak Ahmad kecil, Pak Karto adalah petani yang ulet dan rajin. Ia pergi ke sawah tepat setelah Subuh dan pulang jelang Magrib. Alasan Ahmad suka dengan sawah Pak Karto adalah di sana terdapat gubuk yang cukup bersih dan nyaman.
Dari Pak Karto inilah Ahmad semakin mendapat gambaran bagaimana pihak aparat desa ikut-ikutan bermain dalam proyek pabrik gula. Konon, Kepala Desa membeli sawah warga dengan harga di bawah yang ditawarkan investor.
“Padahal dengan harga investor saja, kami tidak mau,” kata Pak Karto.
Ahmad manggut-manggut. Ia tahu betul bagi orang-orang seperti Pak Karto bertani adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Di desanya, orang bertani memang tidak untuk menjadi kaya. Mereka hidup sederhana dan bersahaja.
Berbeda dengan dirinya dan anak muda di desanya pada umumnya yang ingin meninggalkan kampung halaman demi kehidupan yang lebih layak. Meski ia akhirnya menyerah dengan kehidupan di kota yang tidak selalu berjalan sesuai yang dibayangkan olehnya.
Sepulang dari sawah Pak Karto, Ahmad tak sengaja bertemu dengan Pak Lurah. Mereka berbincang-bincang cukup panjang.
“Nak Ahmad saat ini kan menganggur. Bagaimana jika saya libatkan di proyek pembangunan pabrik gula ini? Lumayan lho gajinya,” ujar Pak Lurah.
Ahmad menolak dengan halus. Ia beralasan ingin menjaga ibunya dahulu. Padahal, alasan Ahmad menolak karena ia tahu proyek ini bermasalah.
***
Konflik semakin memanas saat rapat desa digelar di balai desa. Pak Lurah membawa proposal investor. “Saudara-saudara semua. Pembangunan pabrik adalah kemajuan bagi desa ini! Jalan aspal, listrik 24 jam, dan ribuan lapangan kerja akan tersedia!” teriaknya. “Anak-anak muda kita tidak harus keluar desa hanya untuk mencari pekerjaan,” sambungnya.
Sebagian warga mendukung. Sebagian lagi mempertanyakan karena jika proyek itu berjalan, warga akan kehilangan sawahnya. Apalagi mereka menilai harga yang ditawarkan pemerintah desa jauh lebih rendah dibanding tawaran investor yang mereka ketahui.
“Pak, kenapa harganya di proposal dan yang ditawarkan pemerintah desa berbeda?”
“Betul. Selisihnya lumayan. Dengan harga investor saja kami berpikir ulang. Apalagi dengan harga dari desa?!”
Ahmad yang hadir di pertemuan itu menyampaikan bahwa alasan utama warga menolak adalah karena mereka masih ingin bertani. Menjadikan kampungnya sebagai lokasi pabrik hanya akan membawa keuntungan ekonomi sementara.
“Jika bapak dan ibu tidak mau, ya sudah. Jangan salahkan saya jika nanti semuanya tambah kacau,” ancam sang Kepala Desa.
***
Sebagian warga tahu, ancaman itu bukan bualan. Pak Kepada Desa mantan preman yang bisa menggunakan cara nekat demi memuluskan tujuannya.
Ujian terbesar kemudian benar-benar menghampiri warga. Beberapa preman mengintimidasi. Ahmad jadi salah satu sasarannya. “Jangan ikut campur, Mas. Ini urusan besar.”
Ahmad berdiri tegak meski lututnya gemetar. “Saya tak takut. Saya hanya mau keadilan untuk desa ini.”
Puncaknya terjadi di musyawarah besar di lapangan desa. Hujan rintik membasahi atap tenda darurat. Ahmad berdiri di depan ratusan warga. Ia tak berpidato panjang. Hanya menceritakan kisah ibunya yang sakit tapi tetap menanam. “Sawah dan kebun adalah sumber kehidupan kita.”
Ia mengingatkan. Bagi orang desa, sawah adalah segalanya. Perampasan atasnya sama dengan merebut ruang hidup. Apalagi perangkat desa hanya menggunakan dalih tidak adanya sertifikat sebagai alasan mereka mencaplok sawah-sawah warga.
Ahmad kemudian menyampaikan temuan-temuan dugaan korupsi yang dilakukan oleh aparat desa. Ia bersama beberapa pemuda beberapa minggu terakhir menelaah proposal yang diberikan investor. Ada banyak masalah, mulai dari harga hingga ribuan pekerja yang dijanjikan ternyata bukan untuk warga Sumberrejo, melainkan dari luar.
Misalnya saja syarat jadi buruh pabrik harus sarjana. Sementara pemuda pengangguran di Sumberrejo banyak yang putus sekolah. Pabrik gula yang ingin didirikan sama sekali tidak menjawab persoalan desa.
Apalagi pabrik akan mengancam sungai yang mengalir di Sumberrejo karena di sanalah pabrik rencananya akan membuang limbah produksinya.
“Kita tidak hanya kehilangan sawah, tapi ketenangan yang selama ini kita rasakan bersama,” tegas Ahmad.
Suara tepuk tangan menggelegar. Karena tidak ada tanda- tanda warga akan melepaskan sawahnya, Pak Lurah akhirnya mundur.
Setelah pertemuan itu warga sepakat membentuk koperasi sawah. Sawah tak dijual. Mereka justru membangun usaha bersama agar persoalan di desa bisa benar-benar teratasi.
Enam bulan kemudian, Ahmad duduk di teras rumah ibunya di tengah hamparan sawah yang menghijau kembali. Tak jauh dari sana, anak-anak bermain di lapangan. Awalnya, di lapangan itulah pabrik akan didirikan hingga beberapa hektar ke sawah-sawah milik warga.
Ibu tersenyum, kesehatannya membaik. “Nak, kamu bawa angin baik bagi desa,” katanya. Ahmad hanya tersenyum.
Angin sore berhembus lagi. Daun tebu bergoyang. Dan Ahmad tahu, perjuangannya jauh dari kata selesai.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.