Peristiwa

Tadarus Pemikiran Gus Dur: Menelusuri Perjalanan Kelahiran hingga Intelektual

CIPUTAT – Rentangan waktu antara masa kelahiran Gus Dur hingga proses intelektualnya jadi pembahasan Tadarus Pemikiran Gus Dur, Gusdurian Ciputat pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Tadarus Pemikiran Kali ini bagian dari Rencana Aksi Kelas Pemikiran Gus Dur beberapa Minggu lalu yang akan dilakukan selama enam kali pertemuan per dua minggunya. 

M Ali Ma’ruf dan Lizardho Jesta Saputra sebagai pemantik menyampaikan latar sosial dan keluarga yang Gus Dur alami. Dimulai dari lahir di rahim pesantren, jadi santri hingga penjelajahan Gus Dur di Timur Tengah dan Eropa.

“Jadi saat kecil itu, Gus Dur emang sudah bandel dia, pernah juga pas di Jakarta Gus Dur ketemu sama bapak Republik Indonesia, Tan Malaka” Ucap Aldo di tengah Tadarus Pemikiran.

Bagi Aldo meskipun Gus Dur terbilang bandel atau nakal, Gus Dur tetap terbuka dengan dunia luar, itu sebabnya kenapa Gus Dur sejak zaman Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah mengenal tokoh-tokoh Barat seperti Karl Marx dan novelis-novelis Barat lainnya. Tampaknya perjumpaan-perjumpaan Gus Dur dengan dunia luar atau Barat yang menjadi bekal Gus Dur jadi sosok yang inklusif. 

Senada dengan itu, Ali menimpali proses intelektual Gus Dur selain dari sikap terbuka pada dunia luar, berpikir kritis pun dilakukan oleh Gus Dur. Maksudnya Gus Dur tidak serta menerima apa yang Gus Dur dapatkan tetapi melewati proses pengendapan dan pengoreksian ulang. Ini yang kemudian Ali sebut dengan “Evolusi Intelektual”. “Pendidikan dan pembentukan karakter adalah proses berkelanjutan sepanjang hayat” ketus Ali.

Ali meneruskan, bahwa sembilan nilai Gus Dur yang kita kenal selama ini sebenarnya mengambil spirit dari Nabi Muhammad. Katanya, “dari sembilan nilai itu, sebenarnya juga menerapkan nilai-nilai Nabi Muhammad”. Hal ini Ali refleksikan setelah ia menyelesaikan novel Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan.  

Ini tampak antara lain ketika Gus Dur memberi hak kepada umat Konghucu, menghargai agama minoritas dan kepercayaan lain.

“Nabi Muhammad pun demikian” Ujar Ali menguatkan.

Lebih jauh, salah seorang peserta Kelas Pemikiran Gus Dur, Fatih menanyakan kenapa kemudian, haul Gus Dur itu lebih besar daripada KH Hasyim Asyari atau Wahid Hasyim? Diskusi pun menjalar ke bagian-bagian yang berbeda hingga berjalan saling mengisi satu sama lain. 

Pada akhirnya, keterbukaan Gus Dur bukan sekadar kesediaan menerima perbedaan, melainkan juga keberanian untuk berdialog, menguji pemikiran, dan meninjau kembali pandangan yang telah diyakini. Itu yang kemudian menjadi ruang perjumpaan hingga melahirkan pemikiran yang kritis, kontekstual, dan berpihak pada kemanusiaan.

Insya Allah jika tidak ada kendala Tadarus Pemikiran berikutnya akan digelar pada Sabtu 24 Oktober mendatang dengan tema Gus Dur & Gerakan masyarakat sipil. Sebagai informasi Tadarus Pemikiran Gus Dur terbuka untuk umum, silakan jika ingin bergabung, Gusdurian Ciputat hadir menjadi ruang belajar yang aman dan nyaman bagi siapapun. (SDH)

Nurul Anwar

Penggerak GUSDURian Ciputat