Opini

Ikhlas di Tengah Ketidakadilan: Ketika Mindfulness Menjadi Semu

Dua bulan terakhir ini, hari Minggu saya punya warna baru. Kalau biasanya hari Minggu diisi dengan istirahat atau menghabiskan waktu untuk diri sendiri, sekarang saya punya agenda untuk bertemu dengan orang-orang baru di Serang Book Party, sebuah komunitas book club yang diinisiasi oleh anak-anak muda di Kota Serang. Serang Book Party sendiri merupakan anak kandung dari Indonesia Book Party yang hadir di berbagai daerah.

Hadirnya komunitas book club ini bertujuan menjadikan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan sekaligus menyediakan ruang aman untuk bercerita dan berbagi perspektif. Setiap orang bebas membawa buku dari genre apapun sesuai selera, tanpa perlu takut dihakimi atau diremehkan.

Meski begitu, saya tidak bisa memungkiri bahwa terkadang muncul perasaan minder ketika melihat teman-teman lain membawa buku-buku bergenre filsafat, sains, psikologi, politik, dan berbagai bacaan lain dengan pembahasan yang cukup berat. Sementara itu, saya masih berkutat dengan bacaan yang mungkin terasa lebih ringan. Entah kenapa, ada saja perasaan kecil yang membuat saya membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dan ya, itu yang saya rasakan.

Tentu, itu hanya perasaan saya. Teman-teman tidak perlu merasa minder seperti saya. Kalian tetap harus mencoba datang dan bergabung dengan komunitas ini. Ada banyak insight yang bisa didapatkan, bahkan hanya dengan duduk, mendengarkan, dan menyimak teman-teman lain berbagi cerita tentang buku yang mereka bawa. Kadang, dari buku yang belum pernah kita baca, kita justru menemukan sudut pandang baru dari cerita orang lain.

Dari pertemuan pekan lalu, ada satu hal yang terus terngiang di kepala saya hingga sekarang. Saat itu, salah seorang teman membahas istilah mindfulness semu dalam konteks profesi guru yang dibayar murah, tetapi dituntut untuk tetap mengajar dengan ikhlas. Jujur, istilah tersebut terus membuat saya berpikir berulang kali. Terlebih saya juga berprofesi sebagai seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta. 

Salah satu definisi mindfulness yang menarik datang dari Jon Kabat-Zinn, seorang profesor kedokteran di University of Massachusetts Medical School. Ia mengembangkan program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) dan mendefinisikan mindfulness sebagai perhatian yang diberikan secara sengaja pada saat ini, tanpa menghakimi. Definisi ini kemudian menjadi salah satu rumusan yang banyak digunakan dalam pembahasan mindfulness modern (Mojok, 2026).

Artinya, mindfulness bukan tentang mengosongkan pikiran atau bersikap tidak peduli terhadap keadaan sekitar. Sebaliknya, kita diajak untuk hadir sepenuhnya dalam momen yang sedang dijalani, menyadari apa yang terjadi tanpa terlalu larut dalam hal-hal di luar kendali kita. Kita juga belajar untuk merespons sesuatu dengan lebih bijak, tidak terburu-buru bereaksi, apalagi membiarkan diri dikuasai oleh emosi sesaat. Pertanyaanya apakah kemampuan mengelola emosi bisa dijadikan solusi utama, sementara sumber utamanya berasal dari sistem sosial dan ekonomi?

Kalau dikaitkan dengan buku yang sedang saya baca, Rezim Kerja Murah (2026) yang ditulis oleh Arif Novianto seorang dosen di Universitas Tidar. Istilah mindfulness semu ini terasa semakin menarik untuk dibahas. Buku tersebut menjelaskan bagaimana kapitalisme platform bekerja melalui aplikasi seperti Gojek, Maxim, dan berbagai layanan transportasi berbasis platform lainnya. Di balik kemudahan yang ditawarkan kepada pengguna, ada praktik kerja yang secara tidak kasatmata melanggengkan eksploitasi terhadap para pengemudi ojek online.

Mereka dituntut mengejar target poin harian dan mengumpulkan poin bulanan, sementara beban cicilan utang terus membayangi. Pendapatan yang diperoleh sering kali hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari, meskipun mereka telah menghabiskan waktu sekitar 15 jam sehari untuk bekerja (overtime). Belum lagi persoalan minimnya jaminan perlindungan sosial, baik dari pihak korporasi maupun negara.

Dalam kondisi seperti ini, gagasan mindfulness justru terasa seperti ironi yang getir. Bagaimana mungkin seseorang diminta untuk tetap tenang, hadir sepenuhnya pada saat ini, dan mengelola emosinya dengan bijak ketika hidupnya terus dibayangi ketidakpastian ekonomi dan tuntutan kerja yang melelahkan? Jangan-jangan, yang perlu kita pertanyakan bukan lagi bagaimana para pengemudi ojek online belajar mengelola stres, melainkan mengapa mereka harus terus bertahan dalam sistem kerja yang membuat mereka begitu rentan terhadap stres itu sendiri.

Pada akhirnya, persoalannya bukan terletak pada mindfulness atau keikhlasan itu sendiri, melainkan pada bagaimana keduanya digunakan untuk memaknai ketidakadilan. Mengelola emosi memang penting, tetapi kemampuan seseorang untuk tetap tenang dan menerima keadaan tidak seharusnya menjadi alasan bagi siapa pun untuk mengabaikan kondisi yang membuatnya terus tertekan. Guru tidak semestinya dituntut untuk mengajar dengan ikhlas sebagai pengganti kesejahteraan yang layak, sebagaimana pengemudi ojek online tidak seharusnya dibebani tanggung jawab untuk mengelola stres tanpa adanya upaya memperbaiki sistem kerja yang menekan mereka.

Barangkali, di sinilah mindfulness semu menemukan maknanya. Ketika seseorang terus diajak berdamai dengan keadaan, tetapi tidak diberi ruang untuk mempertanyakan mengapa keadaan itu harus diterima. Kita memang perlu belajar menerima hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Namun, menerima keadaan bukan berarti berhenti mempertanyakan ketidakadilan, apalagi membiarkannya berlangsung tanpa perubahan. Sebab, yang dibutuhkan bukan hanya individu yang mampu bertahan di tengah tekanan, melainkan juga sistem yang tidak terus-menerus memaksa mereka untuk bertahan. (SDH)

Nita Andriani

Penggerak Komunitas GUSDURian Banten.