Kelas Penggerak GUSDURian: Meneruskan Tongkat Estafet Keteladanan Gus Dur di GUSDURian Yogyakarta

Awal tahun 2026, Komunitas GUSDURian Yogyakarta kembali mengadakan Kelas Penggerak GUSDURian (KPG) sebagai bentuk upaya meneruskan estafet keteladanan Gus Dur untuk generasi muda. Kegiatan ini diadakan pada 23-25 Januari 2026 di Seknas Jaringan GUSDURian. Kelas Penggerak merupakan sebuah wadah untuk melatih para anak muda memahami gerakan dan kerja-kerja GUSDURian khususnya di Yogyakarta.

Kelas Penggerak tahun ini mengambil tema “Memimpin dan Bergerak: Impelementasi Nilai, Pemikiran, dan Keteladanan Gus Dur di Tengah Tantangan Zaman”. Adapun hal yang ingin dicapai ialah bagaimana kelas ini dapat membangun kapasitas kepemimpinan, menginternalisasikan nilai, pemikiran, dan keteladanan Gus Dur, dan juga memperdalam pemahaman isu kontemporer. Yang perlu pembaca ketahui bahwa kelas penggerak ini merupakan rangkaian kelas yang dilaksanakan selama dua bulan dengan alur: kelas pertama, kelas mingguan, kelas kedua, dan kelas ketiga. Setelah mengikuti rangkaian kelas selama dua bulan maka peserta KPG dinyatakan lulus atau tidaknya.

Peserta kelas penggerak diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Yogyakarta, terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum. Mereka diharapkan bisa mengampanyekan nila,pemikiran dan keteladanan Gus Dur. Selain itu juga mereka dapat memahami kepemimpinan yang berbasis pada nilai serta bisa menggerakan komunitas GUSDURian. Dengan pemahaman mereka yang ada, mereka juga diharapkan dapat menginternalisasi sikap yang tanggung jawab, toleran serta inklusif yang terpancar dalam keseharian mereka.

Acara yang dipandu oleh fasilitator nasional yakni Abdurahman Aulia dan satu fasilitator lokal yakni Wiji Nurasih, serta dibantu lima fasilitator muda untuk memandu jalannya proses Kelas Penggerak. Salah satu fasilitator muda yakni Akasya menyampaikan bahwa kegiatan kelas penggerak ini sangat menarik dan antusias peserta cukup terlihat di mana mereka aktif dan kritis untuk saling bertanya serta berdiskusi. Ia melihat bahwa para peserta bisa menjadi potensial untuk meneruskan tongkat estafet dari keteladanan Gus Dur di GUSDURian Yogyakarta.

Penulis juga berkesempatan untuk berbincang dengan Naufal, seorang mahasiswa dari CRCS UGM memberikan testimoninya tentang kegiatan ini. Baginya KPG merupakan pengalaman yang baru karena dia merupakan pribadi yang awam dalam komunitas di akar rumput. Ia juga mengatakan kegiatannya menyenangkan dan dirinya ikut bangga bisa bergabung masuk dalam kegiatan tersebut. Salah satu materi yang membuatnya tersadar ialah materi listening, di mana ia diajak

mendengarkan terlebih dahulu walaupun ada hal-hal yang rasanya ingin sekali ia debat.

Materi itu membuatnya belajar untuk bisa menahan diri dan mendengarkan jauh lebih banyak untuk bisa memahami lawan bicaranya. Latar belakang Naufal yang merupakan keluarga Nadhatul Ulama membuatnya tidak asing untuk mengenal Gus Dur dan GUSDURian. Ia juga mengapresiasi kerja-kerja komunitas yang tidak mengandalkan dukungan dana tapi mengandalkan jejaring yang ada untuk bisa terus bisa bekerja atas nama kemanusiaan.

Kelas Penggerak bukanlah program rutinan dari komunitas GUSDURian di mana pun daerahnya. KPG ialah upaya untuk meneruskan keteladanan Gus Dur dengan menyasar anak muda. Gus Dur memang tidak mewariskan jabatan untuk anak-anaknya tapi dia mewariskan teladannya di berbagai bidang yang ada. Ketika kita bicara tentang agama, Gus Dur menjadi sosok yang berbicara banyak tentang agama, terutama tentang keadilan dan keterpihakan terhadap kelompok yang dimarjinalkan. Ketika bicara kemanusiaan, Gus Dur menjadi sosok yang hadir lebih dulu untuk menunjukkan posisinya. Jelas posisinya ialah membela kaum yang lemah dan termarjinalkan. Gus Dur juga mengambil kebijakan yang ramah untuk keberadaan masyarakat secara luas terutama juga bagi kelompok minoritas.

Penghargaan pahlawan nasional yang beberapa waktu kemarin diberikan oleh Presiden Prabowo kepada Gus Dur bukanlah sesuatu yang spesial menurut saya. Tanpa gelar itu pun dia sosok yang menginspirasi dan menjadi pahlawan di hati para pengikutnya. Pengikut Gus Dur tidak harus orang yang getol membaca tulisannya tetapi siapa mereka yang berpihak kepada keadilan ia ada di jalan yang Gus Dur dulu perjuangkan. Melalui kelas penggerak biarlah muncul semangat baru GUSDURian muda yang mau dan rela berpihak pada korban dan keadilan untuk terciptanya Indonesia yang beragam.

Mahasiswa CRCS UGM. Penggerak Komunitas GUSDURian Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *