Jiwa Menulis Gus Dur: Resensi Buku Gus Dur Sang Kosmopolit Karya Hairus Salim

Enam belas tahun setelah wafatnya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tidak hanya dikenang sebagai Presiden keempat Republik Indonesia. Bukan pula sebatas Bapak Pluralisme. Jejak intelektualnya tetap hidup dan terus diperbincangkan melalui warisan pemikiran yang ia tinggalkan, salah satunya dalam bentuk tulisan.

Di balik sosoknya yang egaliter dan jenaka, Gus Dur adalah seorang penulis yang sangat produktif. Esai-eseinya kerap menghiasi berbagai media ternama di masanya, seperti Majalah Tempo, Jurnal Prisma, dan sejumlah media penerbitan lainnya.

Gus Dur bukan sekadar pembaca yang rakus. Ia juga pembaca yang reflektif. Ia mampu mengolah hasil bacaannya menjadi gagasan yang tajam, kontekstual, dan komunikatif. Kemampuan inilah yang kemudian diwujudkannya dalam tulisan-tulisan esai yang hidup dan menggugah.

Buku Gus Dur Sang Kosmopolitan karya Hairus Salim dengan cermat dan elegan memotret sosok Gus Dur dari sudut kepenulisannya—sebuah sisi yang kerap luput dari perhatian publik.

Hairus Salim dengan lihai menuturkan bahwa humor yang selama ini melekat pada diri Gus Dur tidak hanya hadir dalam lisan, tetapi juga menjelma menjadi kekuatan utama dalam tulisan-tulisannya. Humor tersebut terasa renyah, cerdas, dan sarat makna, sehingga membuat pembaca tersenyum sekaligus merenung. Melalui buku ini, pembaca diajak memahami keistimewaan Gus Dur sebagai penulis dengan gaya yang khas dan orisinal.

Pertama, Gus Dur adalah pembaca yang kuat sekaligus penulis yang cepat. Goenawan Mohamad, mantan Pemimpin Redaksi Tempo, menyebut bahwa Gus Dur memiliki “investasi bacaan” yang dikumpulkan dengan disiplin, ditopang oleh kemampuan analisis serta refleksi yang tajam. Kombinasi inilah yang membuat tulisannya kaya perspektif dan bernas.

Kedua, cakrawala bacaan Gus Dur tidak terbatas pada buku-buku berbahasa Indonesia. Ia juga akrab dengan literatur berbahasa asing, terutama Bahasa Inggris dan Arab. Hal ini memperkaya sudut pandangnya serta memperkuat watak kosmopolitan dalam pemikirannya.

Ketiga, kekuatan deskripsi menjadi ciri khas lain dalam tulisan Gus Dur. Ia piawai menggambarkan situasi kebudayaan, dinamika sosial, maupun sosok tokoh dengan bahasa yang hidup dan mudah dipahami, tanpa kehilangan kedalaman analisis.

Keempat, Gus Dur dikenal piawai meramu judul tulisan yang provokatif sekaligus mengundang rasa ingin tahu. Judul-judul seperti “Gatotkaca Anti Israel”, “Tiga Pendekar dari Chicago”, “Tuhan Tak Perlu Dibela”, “Lebaran Tanpa Takbiran”, dan “Istilah Sama Arti Berbeda” menunjukkan keberaniannya bermain diksi sekaligus gagasan.

Kelima, Gus Dur tidak menulis sekadar untuk mengisi ruang media. Tulisan-tulisannya selalu memuat keberanian menyampaikan gagasan, bahkan ketika berhadapan dengan arus besar opini publik. Ia menempatkan tulisan sebagai medium kritik sosial dan pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Keenam, kemampuan refleksi Gus Dur yang tinggi menjadi fondasi intelektualnya. Ia kerap merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar atas berbagai persoalan bangsa. Bagi Gus Dur, kapasitas seorang intelektual tidak ditentukan oleh seberapa banyak jawaban yang diberikan, melainkan oleh kualitas pertanyaan yang diajukan kepada masyarakat dan bangsanya.

Terakhir, humor tetap menjadi napas utama dalam tulisan Gus Dur. Ia gemar menyelipkan satire, perumpamaan, ilustrasi cerita, dan lelucon sebagai cara halus untuk menyindir kekuasaan atau mengkritik realitas sosial. Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam tulisannya berjudul “Melawan Melalui Lelucon”.

Mas Hairus Salim menyebutnya seperti Bung Karno, Gus Dur mulai dikenal sebagai penulis sejak usia muda. Ia telah aktif menulis sejak usia sekitar 20 tahun, tepatnya pada dekade 1970-an. Dalam buku ini, Hairus Salim mencatat pengakuan Gus Dur bahwa tulisan pertamanya membahas novel-novel karya William Faulkner yang dimuat di majalah Media milik HMI pada dekade 1960-an. Fakta ini semakin menegaskan bahwa dunia literasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan intelektual Gus Dur sejak awal.

Melalui Gus Dur Sang Kosmopolitan, Hairus Salim tidak hanya menghadirkan potret Gus Dur sebagai tokoh bangsa, tetapi juga sebagai penulis yang menjadikan membaca, menulis, humor, dan refleksi sebagai satu kesatuan perjuangan intelektual. (SS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *