Ngabuburit dalam Semangat Toleransi di Tengah Keberagaman

Ngabuburit merupakan tradisi sederhana yang mampu menjadi ruang perjumpaan hangat bagi keberagaman, karena sesungguhnya toleransi dapat dibangun dengan duduk berasama, saling memahami dan menjaga harmoni dalam perbedaan

YOGYAKARTA – Komunitas GUSDURian Jogja kembali membuka ruang temu lintas iman dalam acara Jalan-Jalan Toleransi pada Minggu (8/3/2026). Lokasinya berada di Pura Jagatnatha Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI DIY), Banguntapan, Bantul, DIY. Jalan Tol kali ini cukup berbeda karena dilaksanakan sore hari, tidak di pagi hari seperti biasanya. Sebagaimana temanya, “Ngabuburit dalam Toleransi”, GUSDURian Jogja mengajak masyarakat Jogja memiliki momen ngabuburit yang berkesan melalui kunjungan dan dialog lintas iman. 

Sebanyak 40 teman Jalan Tol yang hadir berasal dari berbagai latar belakang sosial keagamaan, mulai dari mahasiswa, aktivis komunitas, maupun masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap isu toleransi dan keberagaman.

Jalan Tol menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal lebih dekat dengan kehidupan umat agama Hindu. Di antaranya fungsi pura, praktik ibadah, nilai-nilai spiritualitas agama Hindu, ornamen, dan kebudayaan ogoh-ogoh.

Selama walking tour,  peserta Jalan Tol dibersamai langsung oleh tokoh-tokoh pendiri Pura Jagatnatha Banguntapan. 

Pihak Pura Jagatnatha menyambut baik Jalan Tol sebagai bagian dari merawat toleransi. 

“Dalam keberagaman, kita harus menjaga harmoni dan merawat toleransi untuk dapat saling menghargai satu sama lain,” jelas Budi Sanyotho, pengurus Pura Jagatnatha.

Kunjungan ke pura menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar peserta Jalan Tol, termasuk untuk Ichi, mahasiswa asal Yogyakarta sekaligus santri Pesantren Gerakan GUSDURian.  

“Kegiatan ini memberikan hal positif bagi saya yang pertama kali dapat kesempatan belajar hal baru selama dua tahun berada di Kota Yogyakarta. Dari kegiatan ini saya belajar banyak hal mengenai perbedaan pandangan dan konsep ketuhanan yang tidak seharusnya menjadi alasan perpecahan,” jelas Ichi.

Menurutnya, Jalan Tol bukan sekadar jalan-jalan, melainkan pemantik reflektif dalam memperluas pemahaman tentang keberagaman keyakinan. Kesempatan mengenal praktik keagamaan dan cara pandang yang berbeda menjadi ruang belajar yang berharga, terutama bagi yang belum pernah berinteraksi  dekat dengan tradisi keagamaan lain. 

Ichi menjelaskan, muncul kesadaran bahwa perbedaan dalam memandang konsep ketuhanan merupakan realitas yang tidak dapat dihindari dalam masyarakat plural. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya dipahami sebagai sumber konflik, melainkan sebagai peluang untuk membangun sikap saling menghormati dan memperkuat toleransi dalam kehidupan bersama.

“Saya berharap semoga kedepan kegiatan ini bisa disambut hangat oleh masyarakat yang lebih luas lagi, dan mampu merangkul lebih banyak elemen lintas generasi,” imbuhnya.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh keberagaman, toleransi seharusnya tidak berhenti sebagai slogan atau sekadar bahan diskusi di ruang akademik. Toleransi justru tumbuh dari perjumpaan sehari-hari, ketika orang-orang saling menyapa, berbincang, dan belajar memahami mereka yang berbeda. Melalui pertemuan langsung dengan pemeluk agama lain, seseorang dapat menyadari bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan kekayaan yang patut dirawat bersama.

Ramadan sendiri merupakan momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Di bulan yang mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama ini, kegiatan ngabuburit toleransi seperti yang dilakukan oleh Komunitas GUSDURian menghadirkan wajah Ramadan yang lebih hangat dan inklusif. Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah yang bersifat personal, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan kemanusiaan di tengah masyarakat yang beragam.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa anak-anak muda masih memiliki kepedulian besar terhadap isu keberagaman. Di tengah arus informasi yang kadang memperuncing perbedaan, mereka justru memilih jalan yang berbeda: belajar, berdialog, dan membuka ruang perjumpaan. Sikap seperti inilah yang memberi harapan bahwa masa depan kehidupan sosial dapat tumbuh lebih damai dan saling menghargai.

Pada akhirnya, ngabuburit  bisa menjadi ruang refleksi sosial, tempat orang-orang saling mengenal, meruntuhkan prasangka, dan membangun rasa saling menghargai. Sebab, di balik tradisi sederhana seperti ngabuburit, tersimpan pelajaran penting tentang bagaimana keberagaman dapat dirawat melalui perjumpaan yang hangat. Toleransi tidak selalu lahir dari wacana besar, tetapi dari kebersamaan yang sederhana, ketika orang-orang duduk bersama, saling memahami, dan menjaga harmoni dalam perbedaan.

Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *