Peristiwa

Ketika GKJW Berseloroh Menjadi ’Gusdurian Jawi Wetan’

YOGYAKARTA – Relasi lintas iman di Indonesia kerap kali diuji oleh dinamika sosial dan politik. Namun, di tingkat akar rumput, harmoni terbukti mampu bertahan berkat memori kolektif yang dirawat dengan konsisten. Pijakan sejarah inilah yang melandasi pertemuan hangat antara perwakilan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dengan Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURian di Griya Gusdurian, Yogyakarta, Senin (20/7/2026). Kunjungan resmi ini menjadi penegasan atas misi GKJW untuk aktif mewujudkan tanda-tanda kehadiran kebaikan di tengah dunia.

Hubungan emosional antara komunitas Kristen Jawi Wetan dan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) rupanya telah mengakar jauh sebelum reformasi bergulir. Ketua Rombongan GKJW, Pendeta Nathael, mengungkapkan bahwa dokumen historis GKJW baru-baru ini resmi diakui sebagai memori kolektif bangsa oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Salah satu lembaran paling berharga dalam arsip tersebut mencatat kehadiran Gus Dur di Balai Wiyata, Malang, sekolah pendeta pertama di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1927.

Selama tujuh tahun, tepatnya pada periode 1974 hingga 1981, Gus Dur secara rutin sebulan sekali datang untuk mengajar ilmu Islamologi kepada para calon pendeta GKJW. Kamar tempat Gus Dur menginap selama mengajar di kompleks tersebut bahkan masih dijaga dan dirawat dengan khidmat hingga hari ini.

“Gus Dur sejak dekade 1970-an sudah membangun fondasi penting, jika ingin belajar tentang Islam, belajarlah langsung dari orang Islam, begitu pula sebaliknya dengan kristologi. Langkah ini efektif memotong penyaringan prasangka sejak dini,” ujar Pdt. Natael, Wasekum GKJW dan pengurus Komisi Hubungan Antar Umat (KHAUM) GKJW.

Kedekatan historis ini teruji saat kerusuhan Situbondo pecah pada 10 Oktober 1996. Dalam rekonsiliasi pascakonflik, Ketua Umum PBNU Gus Dur mengambil peran sentral guna meredam ketegangan agar tidak meluas secara nasional.

Karena insiden tersebut turut membakar sebuah gereja Katolik dan memicu perhatian internasional, Gus Dur bahkan menemui Paus pascaperistiwa. Langkah diplomasi ini diambil untuk menegaskan kondisi riil di akar rumput kepada dunia, bahwa benturan yang terjadi bukanlah konflik agama, melainkan murni persoalan politik.

Transformasi Gerakan Akar Rumput

Dalam perkembangannya, sinergi ini tidak lagi berhenti pada romantisme masa lalu. Koordinator Seknas Jaringan GUSDURian, Jay Akhmad, menegaskan bahwa jaringan penggerak mereka kini tumbuh menjadi ruang inklusif yang melintasi batas-batas identitas kelompok agama.

“Seperti yang disampaikan Mbak Alissa (Wahid), Gusdurian itu tidak sekadar nahdliyyin, tapi juga diisi dengan teman-teman lintas agama. Ini bisa jadi semacam prototipe baru bahwa Gusdurian bukan hanya orang NU. Di tengah ketidakjelasan sekarang, kerja sama dan dialog ini menjalin solidaritas antarwarga,” ujar Jay Akhmad.

Kedekatan yang begitu organik di lapangan bahkan memicu kelakar hangat yang mencerminkan meleburnya sekat antarkelompok iman tersebut.

“Saking cairnya hubungan kami di lapangan, kami sering berseloroh kalau singkatan GKJW itu sudah selayaknya diartikan sebagai ’Gusdurian Jawi Wetan’,” seloroh Jay dibarengi tawa.

Realitas inklusif tersebut mewujud nyata di lapangan, salah satunya melalui fleksibilitas jemaat gereja dalam menyambut para penggerak lintas iman.

“Di Jawa Timur, Gusdurian sudah menjadi sahabat kami. Bahkan 24 jam terbuka untuk teman-teman Gusdurian. Gereja kami juga biasa digunakan untuk shalat teman-teman Gusdurian,” ungkap Niko Suseno, pengurus Komisi Hubungan Antar Umat (KHAUM) GKJW

Selain di Mojokerto, ruang perjumpaan yang setara ini juga bergerak masif di wilayah lain seperti Madiun, Nganjuk, hingga Situbondo. Keterlibatan aktif jemaat GKJW lokal menjadi motor utama dalam menghidupkan kembali sel-sel komunitas Gusdurian daerah yang sempat vakum melalui gerakan anak muda. Bahkan secara institusional, GKJW kini memasukkan materi seputar gagasan toleransi Gus Dur ke dalam kurikulum wajib pembinaan calon pendeta mereka. (SDH)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian