Jombang – “Semakin beriman, semakin sulit,” salah satu pernyataan menarik diucapkan oleh Hendrikus Hari Wantoro, peserta Kelas Ekologi Festival Jagat bertajuk Pengelolaan Sampah Berbasis Pesantren. Mengingat persoalan sampah hari ini mustahil dilepaskan dari kehidupan umat beragama. Di Yogyakarta, ia telah mencoba melakukan praktik baik pengelolaan sampah di tempat ibadah dan rumah tangga.
Kelas yang diselenggarakan Jaringan GUSDURian di Pesantren Khoiriyah Hasyim ini bertujuan untuk mendiseminasi praktik baik yang telah dilakukan sehingga dipahami oleh setiap individu yang terlibat sebagai upaya merawat kehidupan. Sebelum sesi utama, peserta memanfaatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman pengelolaan sampah dari komunitas masing-masing. Khosiah dari Gusdurian Gresik pernah bekerja sama dengan ECOTON dan Dinas Lingkungan Hidup dalam penyediaan layanan edukasi masyarakat.
Santi dari Sanggar Ijo Indonesia mengingatkan bahwa prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) tidak boleh dibolak-balik dan harus dibarengi dengan pengurangan dari sumbernya. Selain itu, praktik baik yang dibagikan adalah green bill, kolaborasi dengan pasar untuk mendorong pengurangan penggunaan produk sekali pakai.
Zen dari Gusdurian Jember mengampanyekan pengurangan sampah plastik sekaligus pola makan sehat dalam kegiatan-kegiatan komunitas. Hanya saja tantangannya adalah bagaimana pesan tersebut dapat bertahan dan membekas, terutama di kalangan generasi muda.
Selaras dengan itu, narasumber utama, Gus Sholahuddin Wahid—atau akrab dipanggil Ra Mamak—menyampaikan bahwasanya, ”Proses kemanusiaan berasal dari proses berkebudayaan.” Gagasan zero waste mungkin terdengar sebagai konsep yang terlalu jauh.
Karena itu, Gus Mamak menawarkan langkah yang lebih sederhana dengan menjadi wise, bijak dalam memperlakukan barang. Budaya baik akan tumbuh dari pemahaman yang berkaitan dengan cara manusia bertanggung jawab atas lingkungan sekitarnya.
“Memang perlu untuk mengembalikan kepada apa arti komunitas itu sendiri,” ungkapnya.
Sebuah pernyataan yang mengindikasikan bahwa yang lebih mendasar adalah bagaimana membangun kesadaran sebagai individu yang hidup berkomunal. Selanjutnya, ia banyak menceritakan pengalaman mendidik santri dalam mengelola sampah sebagai pengasuh Pesantren Annuqayah, Sumenep.
Persoalan sampah ternyata tidak cukup diselesaikan dengan menyediakan tempat sampah dan mengangkutnya ke tempat pembuangan saja. Perlu adanya upaya untuk menanamkan kesadaran lebih awal. Adapun persoalan teknis, seperti halnya metode dan teknologi tepat guna, menempati urutan kesekian setelah pemahaman dan kesadaran itu bisa diterima.
Pembahasan mengenai sampah dalam kelas tersebut kemudian bergeser menjadi pertanyaan yang lebih mendasar. Gus Fardan, pengasuh Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, memberikan poin-poin pernyataan yang cukup memantik.
Pertama, ia menyetujui bahwa pengelolaan sampah yang baik selalu dimulai dari tataran ’konsep’ yang meliputi kesadaran akan ”mengapa sampah itu harus ada?”—pertanyaan akan hal ini beberapa kali ia layangkan kepada para santri Seblak. Kedua, kemudahan regulasi dalam komunitas.
“Jangan sampai tempat sampah ditempatkan jauh dari orang yang akan membuang sampah,” ujarnya.
Terakhir, logika yang sering keliru bahwa “setiap yang terlihat beres, itu sudah selesai.” Padahal belum tentu demikian, kenyataannya banyak sampah komunitas yang masih menumpuk di tempat-tempat yang tak terjangkau pandangan.
“Di tempat-tempat yang salah. Sampah itu barang berharga di tempat yang salah,” ucapnya, menutup pemaparan dengan kalimat menarik.
Gayung bersambut, Gus Mamak pun membicarakan prinsip refuse, yakni sebuah penolakan. Bahkan, sebelum berbicara tentang konsep 3R yang sudah banyak diketahui (reduce, reuse, dan recycle), perlu mempertimbangkan R yang lain (refuse).
Hal ini bisa ditengarai dengan mengubah paradigma kita, bahwa tidak setiap barang yang selesai kita pakai harus dibuang. Dengan kata lain, pengelolaan sampah sebaiknya dimulai sejak sebelum barang tersebut diakui sebagai sampah. Terkadang kita harus mempertegas kepada komunitas terkecil di sekitar kita,
”Tolak, jangan sampai ada sampah,” katanya.
Prinsip tersebut menempatkan pengurangan sampah sebagai langkah awal. Cara pandang terhadap sampah perlu diubah dari sesuatu yang harus segera disingkirkan menjadi sesuatu yang layak dikelola, dimanfaatkan, dan dicegah sejak awal.
Dalam konteks pesantren, pengelolaan sampah kemudian dapat menjadi bagian dari kebudayaan. Pendekatan kebudayaan tersebut dapat dilakukan melalui dakwah bil hal, yakni menyampaikan nilai melalui tindakan nyata.
Salah satu persoalan yang pernah dihadapi dalam pengelolaan sampah di pesantren adalah timbulan sampah dalam jumlah besar, yang mencapai sekitar dua ton per hari atau 60 ton dalam satu bulan.
Dengan maksud membangun kapasitas dalam memahami persoalan sampah, sejumlah santri diberikan kesempatan belajar dan mengikuti pelatihan di Yogyakarta selama tiga bulan. Namun, ia tidak ingin menunggu sebab perubahan tidak cukup berasal dari satu-dua orang.
“Zero TPA besok, jangan menunggu mereka,” ujar Gus Mamak.
Gagasan pengelolaan sampah tersebut menemukan relevansinya dalam pengalaman peserta kelas. Aulia, peserta Bank Sampah Tebuireng, bercerita pernah mengelola sampah organik yang didekomposisi di kandang, namun sekali lagi tantangan yang muncul adalah soal kesadaran yang tidak dirasakan secara kolektif.
”Ternyata yang sadar cuma saya,” ujarnya.
Kalimat tersebut menguatkan pernyataan di awal bahwa kesadaran tidak cukup dimiliki satu orang. Ia membutuhkan ekosistem yang subur untuk memastikan upaya dapat dijangkau bersama. Oleh karena itu, bagi Ra Mamak, keberadaan regulasi yang mendukung itu sangat penting.
Perubahan perilaku tidak dapat dibebankan kepada individu, ia membutuhkan kepemimpinan yang dapat memberikan contoh.
Hal inilah yang diterapkan di PP Annuqayah, ia mendidik para santri dengan imbauan yang luwes, salah satunya dengan memanfaatkan momentum menonton Piala Dunia untuk santri sebagai strategi awal menerapkan regulasi penyadaran akan sampah.
“Kesadaran itu nggak bisa sendirian. Kalau sendirian itu namanya kesurupan,” timpal Fardan yang disambung dengan gelak tawa hadirin yang hadir.
“Maka dari itu, penting kemudian untuk mengasah kepemimpinan. Pucuk pimpinan, sadar dulu,” ujar Ra Mamak sebagai pamungkas.
Pernyataan ini memberikan pengertian bahwa kepemimpinan adalah hal yang krusial sebagai metode pengelolaan sampah yang dilakukan di komunitas pesantren.
“Sampah adalah kita, kita adalah santri. Santri tidak boleh keluar dari pesantren, sampah pun juga,” sambungnya kemudian. (SDH)