Jombang – Sejalan dengan menyempitnya ruang hidup, tempat untuk membuang kotoran sisa-sisa proses perputaran kebudayaan manusia juga semakin terbatas. Tak sedikit Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah ditutup akibat overload atau tidak lagi mampu menampung sampah yang terus direproduksi. Di kancah global, hal semacam ini bukanlah barang baru, sudah umum diketahui bahwa tak sedikit negara maju yang sengaja mengekspor sampahnya ke negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia.
Pada tingkat hulu, permasalahan sampah adalah permasalahan produksi dan ekspansi kapital dalam skala masif. Sementara pada tingkat hilir, tingkat yang langsung menyentuh masyarakat, permasalahan sampah berada dalam taraf kesadaran dan pengetahuan tentang cara pengelolaan sampah. Menyadari permasalahan di tingkat kedua tersebut, Komunitas Gusdurian Mojokerto menggelar Kelas Ekologi dalam rangkaian Festival Jagat dengan tema pengelolaan sampah anorganik melalui Bank Sampah, Minggu (30/8/2026).
Berlokasi di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, kelas ini dihadiri oleh setidaknya 40 peserta yang berasal dari berbagai macam latar belakang berbeda. Ini selaras dengan tujuan besar Kelas Ekologi yang ingin menjangkau masyarakat seluas-luasnya dan membagikan ilmu sebanyak-banyaknya.
Kelas dimulai dengan mengenalkan bentuk-bentuk sampah di sekitar dan kemudian dipilah menyesuaikan nilai ekonomi tertentu. Metode ini jauh lebih menarik dan mudah dipahami, sebab selain mudah diingat karena tidak terlalu banyak jenisnya, pemilahan sampah berbasis potensi ekonominya juga jauh lebih mudah dilakukan sebab memiliki nilai pragmatis yang bisa dilihat hasilnya dalam waktu dekat.
Namun Ilul, sebagai salah satu fasilitator di forum tersebut, mengingatkan bahwa pada dasarnya pengolahan sampah haruslah dilakukan berdasarkan pada pemecahan dan penanggulangan masalah. Nilai ekonomi adalah bonus yang diperoleh kemudian.
“Artinya, bukan berarti teman-teman itu disuruh untuk mencari sampah sebanyak mungkin, tidak, tapi biar tidak terbuang secara sia-sia dan juga merupakan tanggung jawab. Maka kalau ada nilai ekonomisnya mungkin menjadi penyemangat mereka untuk menyisihkan sampah-sampah, yang mungkin dikelompokkan ke depannya untuk menjadi uang,” kata Ilul.
Selain itu, Puji Akas sebagai peserta yang sekaligus merupakan wakil dari Gereja Katolik Paroki Santa Maria, Jombang, menunjukkan antusiasmenya, sekaligus keinginannya untuk mengadopsi sistem pengelompokan sampah yang sudah diajarkan.
“Tadi kami mendapatkan pengalaman baru yang selama ini memang belum terjamah ya, terutama di komunitas kami. Kami punya sekolah juga dan di lingkungan gereja untuk permasalahan memilah sampah ini, belum sampai ke sana. Jadi dengan acara seperti ini, kami dapat wawasan baru setidaknya ada gerakan, oh iya kami harus seperti ini juga,” pungkas Puji Akas kepada tim Kampung Gusdurian. (SDH)