Peristiwa

Gelar Kelas Lilin Aromaterapi Minyak Jelantah, GUSDURian Majalengka Meriahkan Festival Jagat

Jombang – Salah satu bentuk pengejawantahan ide-ide kelestarian lingkungan yang menjadi fokus utama pelaksanaan Festival Jagat disalurkan melalui sebuah wadah yang dinamai Sekolah Ekologi. Tujuan dari wadah ini adalah memberikan pandangan praktis kepada warga pondok pesantren dan masyarakat sekitar tentang cara pemanfaatan sumber daya sekitar guna mengusahakan terciptanya kelestarian lingkungan.

Salah satu kelas yang disediakan adalah kelas pembuatan lilin aromaterapi menggunakan media minyak jelantah yang difasilitasi oleh Komunitas Gusdurian Majalengka. Bertempat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026), kelas ini dihadiri oleh lebih dari 40 orang dari berbagai latar belakang.

Kelas dimulai dengan penjelasan proses penjernihan minyak jelantah dengan bantuan arang selama satu minggu sebelum dapat digunakan sebagai bahan utama pembuatan lilin aromaterapi. Setelah melewati proses itu, barulah kemudian dilakukan penyaringan dan pemberian aroma menggunakan bahan-bahan alami yang biasa ditemukan di dapur atau kebun rumahan dengan proses penjemuran dan lain sebagainya.

Selanjutnya, kelas dilanjutkan dengan praktik pembuatan dan pencetakan lilin aromaterapi menggunakan bahan-bahan yang sudah disediakan dan dipersiapkan oleh tim dari Komunitas Gusdurian Majalengka. Dengan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, setiap peserta secara langsung dapat mempraktikkan penjelasan yang sudah diberikan dan bisa bertanya apa pun yang belum dipahami.

Dalam tataran ide, pemanfaatan limbah minyak jelantah adalah bagian dari upaya pelestarian lingkungan. Menurut Intan, fasilitator kelas pembuatan lilin aromaterapi, minyak jelantah harus dikendalikan dengan baik, sebab jika dibuang sembarangan ia bisa menimbulkan polusi dan jika digunakan secara tidak proporsional, minyak jelantah juga bisa menimbulkan permasalahan kesehatan.

“Kalau hanya membuang minyak jelantah yang enggak dipakai secara sembarangan itu akan merusak ekosistem dan berbahaya. Misalkan dibuang ke tanah, itu akan mati kesuburan tanahnya. Kalau misalkan dibuang di aliran sungai akan mencemari sungai itu. Dan biasanya kalau ibu-ibu itu eman, kalau bahasa Jawanya eman begitu kalau dibuang secara percuma ketika sudah dipakai tiga kali. Gimana sih cara biar tetap sehat? Kita kumpulkan untuk lilin aromaterapi, itu kita buat lilin,” ucap Intan.

Muhammad Ridwan, salah satu peserta dalam kelas pembuatan lilin aromaterapi, menganggap kelas ini tidak hanya bermanfaat secara pengetahuan dan pelestarian saja, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang cukup baik untuk membantu masyarakat.

“Tadi prosesnya sudah dijelaskan, kemudian sampai dengan tingkat perekonomiannya, jadi misalnya dijual harganya berapa. Kemudian kita juga dikasih buku panduannya. Penjelasannya juga meyakinkan dan sangat bagus. Jadi sekali lagi kesannya ya sangat-sangat bermanfaat. Ya, mudah-mudahan nanti ada pelatihan-pelatihan lainnya,” ucapnya kepada tim Kampung Gusdurian. (SDH)

Kautsar M. Ilahy

Penggerak Komunitas GUSDURian Jogja