Peristiwa

Mengenal Larva BSF dalam Pengolahan Sampah dari Budidaya Maggot

Jombang – “Kalau sudah banyak, maggotnya itu, tiga piring habis itu sehari, rakus maggot itu, Pak, Bu,” ujar Bang Jali, fasilitator Kelas Ekologi Pengolahan Sampah kepada peserta Festival Jagat yang memperkenalkan salah satu keunggulan larva lalat tentara hitam (black soldier fly). Melalui kelas yang digelar di salah satu ruangan MA Salafiyah Syafiiyah Seblak, para peserta, yang di antaranya merupakan guru madrasah, diajak untuk mengenal pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan maggot. 

Bang Jali, yang juga merupakan seorang dosen, telah mencoba mempraktikkan budidaya maggot ini di lingkungan GUSDURian Lombok Tengah dan sekitarnya. Ia membawa media pembelajaran berupa satu baskom dedak yang berisi sejumlah maggot dan satu kresek sisa makanan dapur yang nantinya akan dihabiskan oleh maggot.

Kelas tersebut selain membahas maggot sebagai pengurai sampah, juga memperkenalkan praktik budidayanya secara sederhana. Sebagaimana disampaikan oleh Bang Jali, budidaya tidak berhenti di produksi maggot saja, tapi proses mereproduksi secara berkala sehingga membentuk ekosistem agar kebermanfaatannya dirasakan lebih luas.

Pertama-tama, Bang Jali menjelaskan tahapan produksi maggot sejak fase baby atau telur. Ia menyediakan pengalaman bagi peserta untuk melihat secara langsung media budidaya yang digunakan. Media pembesaran yang disiapkan adalah dengan mencampurkan dedak dan konsentrat, kemudian pada bagian atasnya diberi tumpukan sisa makanan dapur, untuk selanjutnya memasuki masa pemeliharaan sekitar tiga minggu lamanya.

“Ini baru bagaimana cara kita produksi dari telur. Gimana cara produksi telurnya? Bapak campur butiran pakan ayam, biarin saja sampai tiga minggu, nanti dia akan muncul di bawah,” jelas Bang Jali.

Sampah organik yang diberikan kepada maggot perlu diperhatikan kondisinya. Sampah yang mengandung terlalu banyak air atau minyak sebaiknya ditiriskan terlebih dahulu.

“Kalau sampahnya ada air atau minyaknya, kalau bisa dipisahkan minyaknya, ditiriskan terlebih dahulu,” ujarnya.

Menurut Bang Jali, kemampuan maggot dalam mengonsumsi limbah organik menjadi salah satu alasan budidaya ini menarik, terutama bagi masyarakat yang memiliki peternakan ayam. Kandungan protein yang tinggi pada maggot dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pakan sehingga berpotensi membantu menekan biaya pakan dan perawatan ternak secara signifikan. Pengalaman tersebut turut dibagikan melalui cerita dari salah satu organisasi binaan. Sebelum mengenal maggot, produksi telur ayam yang mereka pelihara disebut hanya sekitar satu butir. Setelah memanfaatkan maggot sebagai bagian dari pakan, produksi telur meningkat hingga 15 butir.

“Dulu sebelum tahu maggot, ayam itu bertelur satu. Setelah tahu, lima belas,” tutur Bang Jali, mengulang kesaksian dari kelompok binaannya.

Selain larvanya, sisa hasil pengolahan maggot juga masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman.

”Kalau dia dibiarkan, sisanya bisa jadi pupuk. Bisa ditaruh di pohon atau di tanaman. Itu lebih ampuh daripada (pupuk) EM4. Kalau maggotnya tidak dijual dalam keadaan segar, bisa dikeringkan di oven,” jelasnya.

“Keripik maggot,” celetuk salah satu guru, diselingi tawa.

Namun, tidak semua sampah organik dapat diberikan kepada maggot. Sampah berupa daun kering, misalnya, tidak cocok digunakan sebagai pakan maggot karena lebih tepat diolah melalui proses pengomposan.

“Kalau sampahnya daun yang kering, kalau daun-daunan itu tidak bisa. Itu bisa jadi kompos. Setiap jenis sampah organik memiliki karakteristik yang berbeda. Pemilahan itu penting dalam pengelolaan sampah agar dapat dimanfaatkan secara optimal.”

Antusiasme terlihat ketika sesi tanya jawab berlangsung. Seorang peserta membagikan pengalamannya ”menjebak” untuk mendapatkan indukan maggot secara alami di kebun. Ia menggunakan ampas tahu dan cairan EM4 berwarna cokelat sebagai pemancing, kemudian menutup perangkap tersebut menggunakan kain sarung. Ia menanyakan temuan larva berukuran besar berwarna putih yang muncul dari perangkapnya, yang kemudian dikonfirmasi oleh fasilitator bahwa variasi fisik tersebut merupakan bagian dari siklus larva maggot sejenis black soldier fly.

Bang Jali juga memberikan saran meja dan plastik sebagai media budidaya. Telur diletakkan pada bagian tertentu kemudian ditutupi daun pepaya hingga menetas dan menjadi larva. Pengambilan dapat dilakukan menggunakan sarung tangan, tisu, atau alat bantu lain yang bersih. Secara tekstur, telur maggot menyerupai butiran kecil. Persoalan bau juga menjadi perhatian peserta. Menurut fasilitator, bau yang muncul tidak berasal dari maggot, itu bisa jadi disebabkan oleh makanan yang belum habis. Pertumbuhan maggot yang lambat dapat membuat sisa makanan menumpuk dan menimbulkan bau.

“Kalau bau, bukan maggotnya, tapi makanannya belum habis,” jelasnya.

Bang Jali juga menyinggung pemanfaatan bahan-bahan dapur sebagai bagian dari pengolahan limbah. Bahan dapur tertentu yang sudah tidak terpakai dapat dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk cair.

“Kalau Bapak pingin meracuni Ibu yang cerewet, atau Ibu pingin meracuni Bapak yang pingin nikah lagi, bisa pakai insektisida. Pakai bahan-bahan dapur, pokoknya yang bersifat bumbu, kayak lengkuas. Itu jadiin satu, bikin dia jadi pupuk cair. Itu ampuh sekali, tinggal semprot saja ke tempat-tempat yang banyak serangga atau tikus,” ujarnya panjang, diiringi tawa seisi kelas. (SDH)

Hana Rusmalia

Penggerak GUSDURian Jogja