Opini

Orang Muhammadiyah di Muktamar NU

Menghadiri Muktamar NU ke-35 di Jombang kali ini adalah pengalaman kedua bagi saya. Pada tahun 2004, saya pernah menghadiri Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Boyolali, Surakarta. Ketika itu, saya sedang getol-getolnya memfasilitasi proses penulisan buku Fiqih Antikorupsi bersama para kiai muda NU dan Muhammadiyah. Itulah persentuhan pertama saya dengan komunitas kiai muda NU.

Saya begitu kagum melihat kemampuan mereka dalam mengemukakan dalil dan memberikan argumentasi keagamaan tentang pentingnya jihad melawan korupsi pada saat itu. Kekaguman tersebut kemudian mendorong keinginan saya untuk hadir dan melihat langsung Muktamar NU.

Kehadiran saya di Muktamar NU ke-35 di Jombang kali ini dilatarbelakangi oleh dua alasan yang lebih sederhana. Pertama, saya ingin menghadiri diskusi GUSDURian. Kedua, karena lokasi Muktamar berada di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Saya kagum dengan sosok KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu tokoh penting dalam perkembangan pesantren yang dikenal dengan nama Bahrul Ulum, yang berarti “lautan ilmu”.

KH Abdul Wahab Hasbullah memiliki jasa besar dalam sejarah pendirian NU. Usia beliau terpaut sekitar 17 tahun dengan KH Hasyim Asy’ari. Pada masa mudanya, beliau dikenal sebagai sosok yang progresif, cerdas, dan pemberani, serta menjadi salah satu anak muda yang paling bersemangat dalam proses pendirian NU.

Keunikan Muktamar NU

Muktamar NU ke-35 ini dihadiri oleh ribuan orang dengan berbagai niat dan kepentingan. Mereka tidak datang hanya dengan satu tujuan, yaitu menggunakan hak suara untuk memilih calon ketua yang mereka kehendaki, lalu selesai dan pulang. Tidak! Gambaran seperti itu jauh dari kenyataan yang saya lihat.

Saya menduga, mayoritas orang yang hadir dalam Muktamar kali ini bukanlah peserta resmi yang memiliki hak suara dan terlibat langsung dalam proses pemilihan. Namun, mereka juga bukan “pasukan tak diundang” yang dapat digerakkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan pragmatis dalam proses pemilihan.

Setidaknya, kesan itu saya tangkap dari anak-anak muda yang hadir dalam acara yang diampu oleh GUSDURian. Sepanjang kehadiran saya di sana, nyaris tidak ada gangguan atau hal-hal yang mengarah pada upaya mengacaukan acara yang saya ikuti.

Para muktamirin datang dengan berbagai tujuan dan harapan. Ada yang sekadar ingin reuni dan berkumpul dengan sesama kawan. Ada yang ingin mendengarkan pengajian, mengikuti berbagai acara diskusi, bahkan ada yang sekadar berbelanja, menikmati banyak makanan gratis, atau ngopi-ngopi di lokasi Muktamar.

Semua niat itu seperti menemukan ruangnya masing-masing dalam keriuhan suasana Muktamar. Tidak ada kesan bahwa Muktamar hanya milik mereka yang memiliki kartu peserta dan hak suara. Semua orang seolah menemukan cara sendiri untuk menikmati dan memanfaatkan momentum besar ini bersama komunitasnya masing-masing.

Kalaupun ada pasukan keamanan, tugas utama mereka justru membantu dan memudahkan siapa saja yang datang untuk berjalan-jalan, berbelanja, melaksanakan salat, mencari tempat menginap, atau mengikuti berbagai kegiatan.

Nyaris tidak terdengar larangan ini dan itu. Pengaturan yang paling terasa justru soal parkir kendaraan agar tidak terjadi kemacetan.

Bagi saya, suasana seperti inilah yang menarik. Muktamar tidak hanya menjadi forum resmi untuk memilih pemimpin dan menentukan arah organisasi. Ia berkembang menjadi sebuah peristiwa besar yang mampu menampung berbagai kepentingan, kegiatan, dan ekspresi warga NU.

Semua hadir dengan caranya masing-masing, tetapi tetap merasa menjadi bagian dari sebuah perhelatan besar bernama Muktamar NU.

Saya bergabung dengan acara yang digelar oleh kawan-kawan GUSDURian. Seperti biasa, komunitas ini, meski diampu oleh kawan-kawan yang berafiliasi dengan NU, tetap menjadi rumah bersama bagi siapa saja.

Sebagai warga Muhammadiyah, saya sama sekali tidak merasa canggung untuk nimbrung, ikut berdiskusi, bersuara, dan menyampaikan pendapat di forum-forum GUSDURian.

Saya juga bertemu dengan kawan-kawan EcoBhinneka Muhammadiyah. Bahkan, Hening Parlan menjadi salah satu narasumber yang diundang. Beberapa Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) juga terlihat mengikuti acara diskusi.

Di dalam wadah GUSDURian ini, saya berjumpa dengan banyak anak muda NU yang cerdas, mandiri, dan memiliki agenda keagamaan yang ingin mereka suarakan dengan sangat jelas.

Kali ini, isu yang mereka angkat adalah “Agama untuk Alam Semesta: Merusak Alam Sama dengan Merusak Kemanusiaan”, sebuah tema yang menurut saya sangat menarik untuk diikuti.

Saya kagum melihat bagaimana anak-anak muda NU mampu menjadikan momentum Muktamar sebagai ruang yang merdeka untuk menyuarakan berbagai gagasan. Muktamar tidak dipersempit hanya sebagai momen untuk memilih pimpinan organisasi.

Bahkan, sebagian Gus muda yang saya temui tampak tidak terlalu antusias, bahkan tidak terlalu peduli, dengan proses pemilihan Ketua Umum yang sedang berlangsung di arena resmi Muktamar.

“Saya tidak peduli, Mas. Terserah siapa saja yang mau jadi ketua NU. Kan, sudah ada yang akan memilih dengan cara yang mereka tetapkan. Saya lebih senang berdiskusi di sini bersama kawan-kawan.”

Begitu kira-kira jawaban yang saya dengar dari beberapa Gus muda yang saya temui, di antaranya Gus Jay Akhmad, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian, dan Gus Roy Murtadho, pengasuh Pondok Pesantren Misykat Al-Anwar, Bogor.

Beberapa tokoh muda NU yang saya temui memang datang ke Jombang untuk mengikuti berbagai kegiatan yang dibuat oleh forum-forum keagamaan dan komunitas yang tidak secara langsung terikat dengan struktur organisasi NU.

Saya sungguh mengapresiasi kawan-kawan muda NU yang mampu membangun gerakan kultural ini. Mereka seperti “organisasi skoci” yang bergerak di lingkaran besar komunitas NU.

Secara ideologis dan kultural, mereka adalah bagian dari keluarga besar NU. Namun, secara struktural, mereka tidak menjadi bagian dari organisasi NU atau memang memilih untuk berada di luar struktur tersebut.

Inilah kehebatan kawan-kawan muda NU. Mereka mampu menggerakkan berbagai sumber daya yang ada di komunitas untuk hadir dan bergerak bersama menyemarakkan momentum Muktamar.

Cara ini sangat kreatif dan keren. Muktamar tidak hanya menjadi arena untuk memilih pengurus atau menentukan arah organisasi, tetapi juga menjadi medium bagi berbagai kelompok, komunitas, dan anak-anak muda NU untuk hadir, berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan membangun jejaring dengan caranya masing-masing.

Mereka hadir pada waktu yang sama, tetapi tidak harus dengan agenda yang sama. Bahkan, agenda yang mereka suarakan tidak selalu berkaitan dengan agenda resmi Muktamar.

Secara keorganisasian, kegiatan mereka pun tidak harus saling terkait dengan struktur dan agenda resmi Muktamar.

Mungkin itulah yang membuat saya, sebagai warga Muhammadiyah, sama sekali tidak merasa asing berada di tengah hajatan Muktamar NU ke-35.

Saya datang sebagai orang Muhammadiyah, tetapi merasa menemukan ruang untuk belajar, berdiskusi, dan menikmati perhelatan besar ini bersama kawan-kawan NU.

Penulis: Ahsan Jamet Hamidi (Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian