Peristiwa

Ziarah Makam Gus Dur Dihadiri Tokoh Lintas Iman Jadi Penutup Festival Jagat

Ziarah Makan Gus Dur, Festival Jagat (Jombang, (30/8)

Jombang – Peserta Festival Jagat berkumpul di halaman Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Syafiiyah Seblak, Jombang, untuk berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Pesarean Keluarga Besar Tebuireng, Minggu (30/8/2026). Peziarah kemudian bersama-sama berjalan kaki menuju kompleks pemakaman. Lain dari umumnya maqbaroh, peserta mata acara ini berasal dari berbagai kalangan dan beragam agama. Tidak hanya bersarung dan berpeci, tampak juga peziarah yang mengenakan celana dan kaus, serta kebaya.

Perjalanan dengan berjalan kaki tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Langkah kaki para peziarah lintas generasi dan lintas iman ini menjadi simbol perjumpaan budaya serta komitmen bersama dalam merawat toleransi dan kelestarian alam yang telah diperjuangkan Gus Dur sepanjang hidupnya.

Sesampainya di makam, rombongan peserta Festival Jagat diarahkan untuk menempati pendopo. Tampak pula rombongan peziarah lain yang memadati area pesarean. Ziarah ke makam Gus Dur ini merupakan penutup dari rangkaian Festival Jagat yang dilaksanakan pada 29-30 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang. Sebelumnya telah dilaksanakan Majelis Keadilan Ekologi, Fun Games, Panggung Jagat, Kelas Belajar Jagat, dan Cek Kesehatan. Seluruh mata acara ini, dengan ziarah sebagai puncaknya, merupakan ikhtiar untuk meneladani perjuangan dan nilai-nilai Gus Dur.

Dalam sambutannya, Jay Akhmad selaku Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian menyampaikan bahwa selama dua hari teman-teman Gusdurian dan penggerak lintas iman berkumpul untuk membicarakan agama dan lingkungan. Pertemuan ini menghasilkan Risalah Jagat 2026 yang meneguhkan peran penting agama untuk menjaga alam semesta. Ia juga menggarisbawahi bahwa alam dan kemanusiaan itu saling terkait dan tak terpisahkan.

”Merusak alam sama dengan merusak kemanusiaan. Artinya kita perlu menjaga alam untuk menjaga kemanusiaan,” tegas Jay Akhmad.

Risalah Jagat 2026 tersebut memuat poin-poin krusial terkait moralitas agama dalam menghadapi krisis iklim. Melalui serangkaian diskusi dan panggung budaya selama kegiatan berlangsung, para peserta diajak untuk tidak hanya menjadikan agama sebagai doktrin ritual, tetapi juga gerakan sosial keagamaan yang nyata dalam menyelamatkan bumi.

Hadir pula tokoh lintas iman yang turut berdoa bersama, yakni Faiz Ahmad Elsaputra (Islam), Pranutik Pemangku (Hindu), Jiau Sheng Nanik Indrawati (Konghucu), Agustinus Kurniawan (Buddha), Pramoedito (Kristen), Rm Felix Herjuno Krido Pamungkas (Katolik), dan Agung Duta Nuswantara (Penghayat). Kehadiran umat dari beragam agama ini mencerminkan nilai pluralisme dan inklusivitas yang diajarkan oleh Gus Dur.

Doa bersama dilantunkan secara bergiliran dengan khidmat sesuai dengan tradisi keagamaan masing-masing di depan pusara Presiden ke-4 RI tersebut. Suasana khusyuk menyelimuti kompleks pemakaman ketika panjatan doa bagi perdamaian bangsa dan keselamatan bumi mengalun bersahut-sahutan.

Di penghujung acara, Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyampaikan pesan supaya kita berjanji untuk menjaga kerukunan dan rasa kemanusiaan sebagaimana yang dicanangkan oleh Gus Dur. Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan Gus Dur adalah untuk membela kemanusiaan, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

”Semoga Indonesia menjadi negara yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkas Nyai Hj Sinta. (SDH)

Yasmeen Mumtaz

Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Menyukai Kajian Budaya dan Media, serta Musik Pop-Punk