Opini

Memupuk Nalar Kritis Santri dalam Pusaran Politik dan Kebijakan Negara

Seorang santri harus berprinsip: Jangan pernah berhenti belajar. Seorang santri harus kritis; Mampu membaca keadaan baik tekstual maupun kontekstual. Seorang santri harus berani tidak minder: Namun harus diimbangi dengan ilmu.” – KH. Sahal Mahfudh

Pesan dari Paman Gus Dur untuk santri tersebut menunjukkan bahwa santri juga dituntut untuk dapat kritis. Hal ini berseberangan dengan stigma usang masyarakat bahwa santri itu cuma tahu ngaji kitab kuning, ngaji dan doa. Kenyataanya, santri itu juga bagian dari warga negara biasa yang bisa terdampak kebijakan negara. Oleh karena itu, santri tidak sepatutnya buta terhadap kebijakan negara.

Gus Dur merupakan bukti nyata bahwa santri bisa kritis dan menguasai berbagai ilmu tanpa melepaskan atribut pesantrennya. Selain itu, Gus Dur juga pernah berpesan agar kita dapat berpikir kritis:

Soal akhlak, silakan mengikuti ulama. Tapi, kalau soal politik, ya, harus dipisah dengan urusan agama. Jadi, jangan ada politisasi pondok” – Gus Dur

Pesan tersebut pun juga akhirnya mengingatkan saya pada sebuah perjalanan yang baru-baru ini saya lakukan. Saya bersama sahabat Ansor Ranting Desa Pule berangkat ke Jombang untuk menghadiri undangan kegiatan rutin diskusi bersama santri yang bertajuk “Sarasehan” di Asrama Al-Furqon Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Dalam kegiatan tersebut sahabat saya diminta menjadi pemantik diskusi.

Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih sekitar 50-an santri putra dan putri tingkat SLTA sederajat Asrama Al-Furqon Pondok Pesantren Darul Ulum. Suasana kegiatan tersebut cukup kondusif tapi tetap serius dan kritis. Diskusi yang berjalan selama 2 jam tersebut cukup memikat sebab rentetan pertanyaan dan tanggapan dari santri tidak ada habisnya. Bahkan ada celetukan santri putra yang meminta agar berlanjut sampai Subuh.

Dari sana saya melihat para santri sangat berani untuk menyampaikan pendapat/pertanyaan kepada pemantik. Kendati awalnya mereka cenderung diam dan khidmat mendengarkan paparan dari pemantik, tetapi setelah berbagai problem ditunjukkan pemantik, suasana pun berubah. Bagaimana tidak, isu yang diangkat ialah oligarki dan ketimpangan distribusi kekayaan di Indonesia.

Hal demikian cukup berhasil membongkar kebekuan di kepala saya—atau bahkan kita semua. Selama ini kita melihat santri hanya fokus mengaji, jauh dari gawai dan televisi, apalagi dengan isu-isu terkini. Tetapi nyatanya tidak. Ketika santri dihadirkan isu-isu terkini, yang menyangkut hajat hidup orang banyak, menyangkut ketidaksetaraan akses, dan ketimpangan, mereka sangat antusias. Dalam nanar mata mereka, terdapat bara api yang menyala untuk masa depan bangsa.

Dukungan Pengasuh Pondok Pesantren

Melihat antusiasme para santri dalam sarasehan tersebut, saya menemukan satu hal yang kiranya menjadi renungan kita bersama. Santri-santri bisa antusias dan haus akan pengetahuan demikian tidaklah lahir dari ruang hampa. Ada faktor lain yang cukup mendominasi. Faktor tersebut yang utama dan fundamental dalam dunia santri ialah pengasuh pondok itu sendiri.

Perlu kita ketahui bersama, bahwa kegiatan “Sarasehan” itu merupakan inisiatif dari pengasuh Asrama Al-Furqon itu sendiri. Beliau mengharapkan agar santrinya tidak hanya  unggul secara spiritual. Akan tetapi santri juga perlu untuk berpikir kritis, melek isu terkini, dan memiliki integritas. Hal itu bukan tanpa alasan, karena hari ini yang tampaknya religius ternyata korupsi, menindas sesama, dan jauh dari nilai kenabian.

Dengan keadaan negara yang semakin entah dan moralitas para pejabatnya yang semakin merosot jauh, kegiatan demikian agaknya perlu terus dirawat dan disebarluaskan. Tidak menutup kemungkinan, beberapa tahun ke depan para santri itulah yang akan memegang tampuk kekuasaan dan mulai memadati gegap gempita kebijakan di wilayahnya masing-masing.

Saya pun seketika teringat dengan sebuah artikel yang baru-baru ini saya baca dari situs website resmi Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang (ansormalang.id) pada tanggal 1 September 2026. Artikel tersebut bertajuk ”Setelah Selesai Muktamar, Santri Diajak Melek Politik Tanpa Kehilangan Adab”.

Secara singkat, artikel tersebut menunjukkan bahwa kaum sarungan/santri harus menjaga kompas moral dan jati diri di tengah pusaran kekuasaan. Hal ini cukup menarik karena santri diajak melek politik dan berpikir kritis. Per hari ini, agaknya masih sangat sedikit pondok pesantren yang berusaha mengajak istrinya untuk berpikir kritis dan melek politik.

Sarasehan yang rutin diadakan saban bulan di Asrama Al-Furqon Pondok Pesantren Darul Ulum perlu untuk digaungkan. Karena dapat menghadirkan optimis baru yang dapat melahirkan generasi santri yang otaknya setajam pedang, namun hatinya seteduh doa-doa kyai.

Ketika santri diajak berdiskusi kritis dalam “Sarasehan” di Pondok Pesantren Al-Furqon, mereka tidak diajari untuk membenci negara, melainkan diajari untuk mengukur negara. Mengukurnya dengan menggunakan Kaidah Fiqih Politik (Fiqh Siyasah) yang kerap digaungkan Gus Dur :

“Tasharruful Imam ‘alar ra’iyyan manuthun bil maslahah”

Artinya: “Kebijakan seorang pemimpin kepada rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan {kesejahteraan} rakyat”

Dengan kata lain, Jika ada kebijakan negara, undang-undang atau tindakan aparat yang justru menyengsarakan rakyat (menghilangkan maslahah), maka santri wajib bersuara. Diam melihat ketidakadilan bagi seorang santri adalah pelanggaran bagi kaidah tersebut

Kritis ala santri––seperti semangat yang ditunjukkan santri-santri pondok pesantren Al-furqon adalah mengkritik kebijakannya agar kembali kepada pada maslahahnya. Mengedepankan adab santri mengajarkan argumen berbasis literasi (data dan fakta), bukan seperti nyinyiran kosong belaka.

Dengan Demikian menegaskan kembali bahwa membaca kitab kuning (mengaji) dan membaca konstitusi/realitas negara (politik) adalah dua hal yang harus berjalan beriringan dan melek politik adalah cara santri untuk merawat Indonesia. Santri yang kritis adalah santri yang mewarisi DNA perjuangan para ulama khususnya Gus Dur. (SDH)

Penulis: Achmad Zazuli (Pengurus GP Ansor Ranting Pule)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian