Kata Alissa

Teladan

Di usianya yang ke-96 tahun, Prof Emil Salim berbicara dengan penuh semangat. Ia mengingatkan bahwa Indonesia harus tancap gas untuk terus maju bergerak, karena Indonesia tidak bisa diubah dalam waktu sekejap. Hanya dengan fokus pada kualitas SDM dan bekerja keraslah, kita bisa menunjukkan kebesaran bangsa kita.

Prof Emil Salim menyampaikannya di hadapan dua puluh lima tokoh bangsa Indonesia, di antaranya Sinta Nuriyah A Wahid, Omi Nurcholish Madjid, Kardinal Soeharyo, Halida Hatta, M Mahfud MD, Makarim Wibisono, Karlina Supelli, Marzuki Darusman, Maria Hartiningsih, Franz Magnis-Suseno, Melani Budianta, Zumrotien Susilo, Pendeta Jacklynn Manuputty dan Pendeta Gomar Gultom, Erry Riyana Hardjapamekas, Laode M Syarief, dan Lukman Hakim Saifuddin. Bergantian mereka menyampaikan gagasannya tentang Indonesia.

Para sesepuh bangsa ini dihadirkan oleh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) dalam Sarasehan Kemerdekaan dan penyampaian Pesan Kemerdekaan GNB. Sebagai platform untuk para sesepuh dan tokoh bangsa, GNB ingin mentradisikan Pesan Kemerdekaan sebagai bentuk refleksi perjalanan sejarah Indonesia di bulan perayaan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 2025, GNB mempersiapkan Pesan Kemerdekaan GNB dengan mengundang tokoh nasional dari berbagai dimensi kehidupan berbangsa Indonesia: politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, dan kesejahteraan. Pada tahun 2026, GNB memilih untuk mendapatkan pandangan dari para sesepuh yang telah mengikuti perjalanan sejarah bangsa, dengan harapan untuk mendapatkan pandangan yang lebih utuh dan berkesinambungan, dan dilandaskan kepada kearifan para sesepuh.

Pandangan dari perjalanan panjang berkesinambungan diperlukan untuk mendapatkan 3 lensa strategis dalam memahami Indonesia: hindsight (melihat masa lalu), insight (melihat ke dalam konteks saat ini), dan foresight (menatap masa depan). Ketiga lensa strategis membantu kita untuk tidak terjebak pada glorifikasi masa lalu, atau terperangkap dalam sikap ultranegatif terhadap kondisi saat ini seakan Indonesia akan segera kiamat, namun juga tidak bersikap over-optimistic atas masa depan.

Ini kemudian terbukti dari pandangan-pandangan yang tercurah dalam Sarasehan. Walaupun dibalut keprihatinan atas situasi yang saat ini sedang dihadapi bangsa, para sesepuh mengingatkan bahwa Indonesia sudah mengalami kemajuan yang cukup panjang dan signifikan, antara lain, kesejahteraan rakyat yang secara umum meningkat, pelayanan negara yang terus membaik. Namun, para sesepuh juga mengingatkan bahwa ada banyak tantangan mendasar yang harus dikelola.

Kemerdekaan tidak boleh berhenti pada konsep lepas dari penjajahan, tetapi harus diwujudkan dalam kemerdekaan setiap rakyat untuk merasa aman dan menjadi warga negara dengan segala hak dan kewajibannya. Rasa takut akan keamanan fisik, akan terpenuhinya hak dan martabat sebagai manusia, rasa takut akan keamanan penghidupannya haruslah menjadi tantangan yang diselesaikan.

Demokrasi juga masih menjadi tantangan besar, dengan menurunnya nomokrasi. Penegakan hukum belum bisa diandalkan untuk mendapatkan keadilan, bahkan cenderung digunakan menjadi alat melestarikan kekuasaan. Apalagi saat ini militerisme kembali menguat, di mana ruang sipil pun semakin menyempit.

Itu adalah sekelumit dari Pesan Kemerdekaan yang disimpulkan dari musyawarah para sesepuh, yang sebagian besarnya berusia lebih dari 70 tahun, bahkan di atas 90 tahun (Romo Franz Magnis-Suseno dan Prof Emil Salim). Di usia senja, mereka memenuhi undangan untuk berbelarasa bagi Indonesia dengan penuh komitmen.

Mendengarkan para sesepuh ini menyampaikan pandangan-pandangannya, ketajaman olah pikir dan nurani terasa sangat gamblang. Demikian juga khidmat bagi Tanah Air yang muncul seperti urat nadi jiwa mereka: membahana melalui suara yang lantang dan substansi yang kuat. Klise, tetapi tak dapat dimungkiri: cinta yang tak abstrak.

Buya Syafii Maarif, salah satu Guru Bangsa, menyatakan bahwa Indonesia surplus politisi minus negarawan. Di ruang sarasehan kemerdekaan, saya melihat para negarawan. Mereka yang mendarmabaktikan masa dewasanya untuk kemaslahatan Indonesia, yang merawat harapan dan komitmen bersama, untuk tujuan akhir keadilan dan kemakmuran rakyat sesuai amanat kemerdekaan.

Watak para sesepuh ini menjadi gambaran nyata model kepemimpinan 5C yang ditelurkan oleh Indra Nooyi, CEO PepsiCo. Menurut perempuan pemimpin ini, ada lima ciri khas para pemimpin besar, yaitu competence, courage, communication, consistency, dan compass.

Kompetensi para sesepuh bangsa tentu tak dapat disepelekan. Mereka sudah membuktikan kemampuan mereka memimpin organisasi, mendorong inisiatif dan inovasi, serta membangun gerakan perubahan. Kemampuan mengomunikasikan ide dan perjuangan juga sangat baik dan menginspirasi.

Tetapi dari kelima ciri tersebut, keberanian, konsistensi, dan kompas menjadi nilai-nilai utama dari para sesepuh bangsa.

Keberanian para sesepuh tersebut untuk mengambil sikap dan bertindak terekam jelas dalam jejak perjuangan mereka. Di tengah dinamika politik yang sering kali memunculkan rasa tidak aman, mereka tetap bersuara membela kepentingan rakyat dengan tegas.

Keberanian ini ditunjukkan secara konsisten. Demikian juga komitmen kepada rakyat, yang muncul sebagai kompas besar dalam catatan perjuangan nyata yang konsisten dan tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis.

Semestinya, para sesepuh bangsa sudah tinggal menikmati senja yang teduh dan indah, dalam semesta kecil bersama orang-orang yang dicintai. Namun, mereka memilih memutuskan terus berkhidmah merawat Indonesia, terutama di saat bangsa ini sedang mendaki jalan terjal.

Para sesepuh bangsa inilah suri teladan yang kita idealkan, yang memimpin bangsa ini meniti perjalanan menuju dunia yang kita cita-citakan sejak proklamasi. Boleh jadi, usia mereka sudah cukup senja, tetapi yang tak ikut menua bersama tubuh para sesepuh tersebut adalah semangat dan cintanya pada Indonesia.

Agaknya, merekalah salah satu berkat terbesar Tuhan bagi Indonesia.

Artikel ini pertama kali tayang di rubrik “Kolom” Kompas.id, 13 Agustus 2026

Alissa Wahid

Koordinator Jaringan GUSDURian Nasional.