Setiap 22 Desember, linimasa nyaris seragam: ucapan “terima kasih ibu”, foto memeluk, hadiah kecil, dan kalimat-kalimat yang menghangatkan. Ada yang tulus, ada yang sekadar mengikuti arus, tetapi semuanya terasa seperti ritual yang sudah jadi pakem. Di tengah kehangatan itu, saya menyimpan kegelisahan: mengapa perayaan ini begitu mudah menjadi romantisasi, sementara jejak sejarahnya nyaris tak terdengar? …


