Mencatat Pengalaman “Si Cadar” di Dunia Pendidikan

Setiap tanggal 2 Mei di peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Euphoria ini banyak dimanfaatkan untuk sekedar membuat ucapan, mengenang para tokoh pendidikan di Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara, membuat konten digital tentang pendidikan, dan berbagai bentuk ekspresi masyarakat Indonesia lainnya yang turut serta menyemarakkan momentum 2 Mei ini dan di tahun ini saya memilih untuk merayakan momentum ini dengan berefleksi tentang kisah-kisah pilu dan yang mengharu biru tentang cadar di dunia pendidikan kita hari ini.

Menyoal tentang cadar dan problematika di dunia pendidikan. Saya sendiri, dalam momentum 2 Mei kemarin teringat dengan pengalaman pribadi dan beberapa teman perempuan bercadar lainnya yang mengalami hal serupa. Yaitu masih belum ramahnya lingkungan tempat kami menimba ilmu dengan pilihan ekspresi keberagamaan kami dengan mengenakan cadar sebagai identitas berpakaian kami. Tidak dipungkiri bahwa alasan terjadinya pelarangan secara normatif di institusi perguruan tinggi misalnya, memang perihal bahwa perempuan bercadar sulit di kenali karena wajah sebagai identitas pembeda antara murid/mahasiswi yang satu dan lainnya itu agak sulit dikenali.

Akan tetapi, tidak diperkenankan juga bahwa tindakan-tindakan intoleran terhadap perempuan bercadar itu boleh dilanggengkan begitu saja. Semisal menegur mahasiswi bercadar di depan umum karena itu akan menyakiti mental orang tersebut, apalagi jika hal itu di lakukan oleh salah seorang pengajar yang notabene menjadi tenaga pendidik bagi mahasiswa, tetapi malah menunjukkan tindakan buruk yang bisa jadi akan dibenarkan oleh mahasiswa maupun mahasiswi non-cadar lain yang boleh jadi akan ikut-ikutan menegur atau menghakimi sesama teman mahasiswinya.

Bukan rahasia lagi bahwa perempuan bercadar di dunia pendidikan masih tidak mendapatkan tempat yang layak seperti mahasiswa pada umumnya. Suasana kampus umum bahkan di kampus berbasis Islam misalnya, masih belum begitu ramah terhadap mahasiswa bercadar dengan banyaknya tindakan persekusi yang dilakukan oleh oknum-oknum pendidik di dalamnya terlebih teman-teman mahasiswanya yang lain. Menjadi bahan bully-an bahkan sampai dipersulit ketika akan mendapatkan beasiswa hanya karena ia bercadar.

Ada beberapa contoh komentar yang bagi saya itu cukup negatif dan tidak sepantasnya di sampaikan oleh seorang tenaga pendidik kepada peserta didiknya, misalnya "sayang sekali karena kamu bercadar maka kamu akan sulit bahkan tidak bisa mendapat beasiswa". Yang lain mengatakan, "Selama masa perkuliahan saya, kamu tidak boleh mengenakan cadar di dalam kelas karena boleh jadi kamu akan menipu saya ketika mengikuti kelas dan ujian bisa saja orang lain yang kamu suruh mengenakan cadar untuk menggantikan kamu." Kata-kata menipu yang terlontar dari salah seorang pengajar kepada saya ketika itu dan dilakukan di depan mahasiswa yang lain sontak membuat saya hanya tunduk, diam, dan hanya bisa meneteskan air mata. Bukan semata karena saya dilarang bercadar tetapi saya dicurigai/distigma akan menipu dosen dengan cadar yang saya kenakan.

Beberapa komentar serupa juga sempat dilontarkan kepada saya oleh dosen yang lain terlebih mahasiswa-mahasiswa di lingkungan perkuliahan yang memandang sinis bahkan tidak jarang mencibir dan menertawakan saya karena dianggap manusia aneh menurut mereka, sekalipun saya berkuliah di kampus Islam di mana model pakaian semisal cadar kiranya tidak terlalu menjadi soal karena itu sudah biasa dikenakan oleh sebagian perempuan muslim. Ada juga kisah serupa yang di alami oleh perempuan bercadar di lingkungan kampus tempat saya belajar. Mereka mengutarakan kepada saya dengan mata yang sembab karena habis menangis dan kembali tumpah lagi tangisnya ketika mereka mengisahkan apa yang baru saja dialaminya. Lagi-lagi mereka mendapatkan tindakan yang tidak mengenakkan ketika salah seorang dosen menegur tentang cadar yang ia kenakan dan dilakukan di depan umum.

"Saya tidak masalah jika dinasehati atau ditanyai mengapa saya memilih bercadar. Tetapi saya tidak bisa menerima jika saya dicecar dengan banyak pertanyaan di depan umum di mana semua mahasiswa dan staf yang berada di ruangan itu menonton saya dan menertawakan saya". Ujar salah seorang dari mereka dengan suara yang bergetar dan tetesan air mata yang tidak dapat lagi ia bendung. Menulis kisah ini pun nyatanya masih mampu membuat saya menitihkan air mata, padahal peristiwa ini sudah terjadi sekitar 4 tahun yang lalu. Rasa sakit secara psikologis, dan yang pasti trauma itu menjadi dampak dari berbagai kejadian yang saya utarakan tadi.

Belum lama, saya juga membaca salah satu postingan Instagram milik akun @perempuanberkisah yang menceritakan tentang pengalaman salah seorang perempuan bercadar yang mengalami hal serupa dengan apa yang saya alami dan teman-teman bercadar yang saya kenal. Ia menjadi bahan perundungan dan diskriminasi dari pihak kampus maupun teman-temannya hanya karena ia bercadar dan saya mengungkapkan bahwa ia tidak sendiri, saya dan banyak teman bercadar lainnya juga telah mengalami hal yang sama dengan apa yang ia rasakan. Tidak ada pilihan lain selain berupaya kuat dan buktikan kepada mereka bahwa dengan bercadar itu sama sekali tidak menjadi penghalang bagi kami untuk mengaktualisasikan diri dan berprestasi di kampus.

Dengan peristiwa yang saya paparkan di atas, di mana salah seorang oknum dosen meragukan kejujuran saya dengan cadar yang saya kenakan, nyatanya hal itu memicu saya untuk tekun dalam belajar dan bersungguh-sungguh untuk menunjukkan bahwa sama sekali tidak akan ada satu orang pun yang akan saya rugikan dengan cadar yang saya kenakan di mana pun saya berada dan itu pula yang menjadi janji saya kepada ibu ketika pertama kali meminta izinnya untuk mengenakan cadar sebab di lingkungan keluarga kami hanya sayalah yang bercadar sehingga pakaian semacam ini juga masih sangat sulit diterima di lingkungan keluarga saya.

Aktif di berbagai forum dialog ilmiah yang diadakan di fakultas dan beberapa organisasi intra maupun ekstra kampus merupakan jalan ninja saya untuk mengudar stigma dan berbagai macam kecurigaan yang saya terima baik dari dosen maupun teman mahasiswa lainnya. Membuktikan diri dengan banyak berdiskusi dengan kawan setara, tidak anti untuk bekerja sama, dan berani memulai diskusi seperti membuka pembicaraan-pembicaraan dengan tema-tema progresif kepada dosen-dosen baik di dalam kelas maupun di luar kelas yang menjadi media termudah yang bisa saya lakukan untuk menyampaikan gagasan dan isi pikiran/perspektif saya terhadap sesuatu yang dianggap tidak biasa untuk diperbincangkan oleh perempuan bercadar lainnya.

Dari sanalah akhirnya para dosen terlebih mereka yang sempat menstigma saya kemudian menjadi mengudar sangkanya sendiri dengan melihat keaktifan saya, memilih untuk menonjolkan diri bukan malah menarik diri karena minder terlebih karena sudah menjadi bahan perundungan dan diskriminasi. Justru sebaliknya, saya dan beberapa teman bercadar lainnya yang juga menoreh prestasi di kampus dengan cadarnya memilih untuk maju dan membuktikan diri bahwa kami tidak seperti apa yang disangkakan selama ini. Kami boleh berbeda dalam pakaian, tetapi dalam prestasi dan hak-hak kami atas pendidikan tidak boleh diabaikan hanya karena perbedaan model pakaian yang kami pilih.

Bagikan tulisan ini: