Refleksi Konferensi Pemikiran Gus Dur: Agama sebagai Etika Sosial

Aku baru selesai mengikuti Konferensi Pemikiran Gus Dur dengan tema Agama Sebagai Etika Sosial. Dari tadi kepalaku agak penuh, antara serius, campur aduk, dan ingin tertawa getir. Romo Sutomo berkata, “Agama itu jangan berhenti jadi doktrin. Agama itu proyek bersama”. Aku sempat berpikir, “Wah, proyeknya siapa nih? Jangan-jangan nanti seperti proyek Makan Bergizi Gratis (MBG), ehhh.” Tapi bukan itu maksud beliau. Agama harus menghadirkan humanisme rohani, harus membuat kita semakin manusiawi, bukan semakin galak dengan tetangga gara-gara beda pilihan. Dalam sekali kan maksud beliau?

Lalu Prof. Greg Barton berdiri. Nah, ini lebih ngena lagi. Katanya Gus Dur telah berhasil menjadikan agama sebagai kritik sosial. Bayangkan, agama yang sering dijadikan tameng kekuasaan justru oleh Gus Dur dibalik: agama dipakai untuk mengingatkan kekuasaan agar tidak ngawur. Gus Dur itu, kata Greg, seperti pohon rindang yang memberi keteduhan. Aku langsung membayangkan orang-orang muda nongkrong di bawah pohon, sembari curhat dan ngopi. Bedanya, Gus Dur bukan hanya adem-ademan, tapi juga punya akar kuat yang siap membuat orang berpikir keras tentang kemanusiaan.

Di kepalaku, semua pemaparan narasumber langsung nyambung ke peristiwa demo beberapa hari terakhir. Banyak mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan, menyuarakan aspirasi rakyat dengan suara lantang, tapi yang datang bukan dialog, malah gas air mata yang beberapa di antaranya sudah kadaluarsa. Polisi yang seharusnya menjadi pelindung malah lebih mirip bodyguard kapitalisme. Lha ini negara apa klub malam, kok rakyat sendiri digas? Aku jadi teringat lagi kata Gus Dur: demokrasi tidak bisa lahir dari pentungan, demokrasi itu lahir dari ruang yang berani mendengar.

Beberapa masyarakat ada yang teriak, “tolak tambang!” eh yang datang malah pentungan. Sepertinya negara dan orang-orang elite ini, lebih takut rugi tidak kebagian tambang ketimbang rugi membersamai rakyat. Aku jadi ingat pertanyaan agak gimana gitu (bingung menjelaskannya) di forum tadi: kalau Gus Dur jadi ketua PBNU sekarang, apakah beliau bakal terima tambang?

Dengan tegas Greg Barton mengatakan, “Jelas tidak”. Wong beliau aja pernah bilang, “Tugas agama itu mengasah nurani, bukan menurunkan naluri.” Kalau naluri yang dipakai, ya gampang: siapa yang kasih uang banyak, itu yang dimenangkan. Tapi Gus Dur pasti akan kembali ke nurani: tambang yang membuat rakyat tergusur, lingkungan rusak, dan banjir setiap musim hujan itu tidak ada nilai baiknya sama sekali.

Dari sini aku sadar, cara kita memandang agama harus geser. Agama tidak bisa dipahami hanya sebagai identitas atau simbol. Agama harus jadi praksis pembebasan, etika sosial. Kalau ada aparat ngegas dan melindas rakyatnya sendiri, kalau ada pejabat lebih mesra dengan investor dan menggoblok-goblokkan rakyat kecil, maka agamalah yang harus berdiri paling depan buat bilang: hei, itu dzalim!

Sebagai orang yang ikut bergerak di GUSDURian, aku jadi merasa tugas kita berat tapi juga penting. Bukan hanya membuat acara diskusi atau haul yang meriah, tapi menciptakan ruang aman untuk orang muda. Orang muda kan kadang suka ngawur, tapi justru dari ngawur itu sering muncul ide-ide cerdas yang tidak terpikirkan oleh orang-orang “serius” yang sok tahu. Yang penting nurani diasah, bukan naluri dituruti. Karena kalau hanya naluri, ya kita akan seperti hewan yang berebut makanan. Tapi kalau nurani yang dipakai, kita bisa mengerti mana yang adil, mana yang zalim.

Dan kalau benar kita mau mewarisi Gus Dur, berarti kita harus siap berdiri di pihak yang lemah. Jangan sampai kita justru asyik di pihak yang nyaman. Gus Dur sudah meneladankan: memanusiakan manusia, merawat keberagaman, melawan penindasan dengan keberanian moral. Pertanyaannya tinggal satu, yang masih mengganjal di hatiku sejak konferensi dengan tema tersebut selesai, yaitu kita ini serius mau meneruskan jejak Gus Dur, atau kita hanya ingin mengaku-ngaku saja agar kelihatan keren?

Penggerak Komunitas GUSDURian Surabaya, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *