Ibu Shinta Serukan Puasa yang Revolusioner di Mojokerto

GUSDURian Mojokerto menggelar Sahur Bersama Shinta Nuriyah Wahid pada Sabtu (21/2) dini hari. Kegiatan yang berlangsung di GKJW Dawarblandong Kabupaten Mojokerto ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang sarat pesan kemanusiaan dan kebangsaan.

Acara tersebut dihadiri oleh unsur Forkopimcam Dawarblandong, pengurus MWC NU Dawarblandong beserta banom otonomnya, pendeta GKJW Mojokerto, Dewan Kesepuhan Majapahit serta masyarakat Dawarblandong dan sekitarnya. Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan komitmen bersama dalam merawat persaudaraan di tengah keberagaman.

Mengusung tema ‘Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi’ kegiatan diawali dengan pra-acara bernuansa budaya. Sejumlah penampilan ditampilkan, mulai dari Reog Ponorogo, Barongsai Lii Ong Xhi, lomba patrol kebangsaan, paduan suaraja GKJW Dawarblandong yang membawakan lagu Shubbanul Wathan, hingga penampilan grup banjari PAC IPNU Dawarblandong dan SMP Negeri 1 Gedeg. Ragam budaya tersebut menjadi simbol kuat persatuan dalam perbedaan.

Memasuki acara inti sekitar pukul 03.40 WIB, Shinta Nuriyah Wahid bersama rombongan tiba di lokasi. Sahur Keliling ini merupakan agenda rutin yang dijalankan tiap tahunnya sebagai ikhtiar merawat nilai kemanusiaan, toleransi dan keadilan sosial. Mojokerto sendiri sebelumnya pernah menjadi tuan rumah Sahur Keliling pada tahun 2024.

Dalam sambutannya, Pendeta Galih selaku perwakilan GKJW Dawarblandong menyampaikan apresiasi kepada GUSDURian Mojokerto yang telah memilih GKJW Dawarblandong sebagai tuan rumah. Ia juga menyinggung peristiwa tak terduga yang terjadi menjelang acara.

“Tadi sore sebelum acara, kami mengalami musibah. Terop yang sudah kami siapkan ambruk. Namun justru dari situ kami kembali diingatkan pada tema puasa yang berbalut bencana dan goyahnya demokrasi. Bencana ini tidak melemahkan kami, tetapi menguatkan kami untuk terus bergandengan tangan. Kehadiran Bu Nyai memberi semangat bagi warga Dawarblandong untuk terus memuliakan kasih dan damai bagi semua,” ujar Pendeta Galih.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ibu Shinta Nuriyah Wahid menekankan makna puasa sebagai proses transformasi diri dan sosial. ia menyebut puasa sejati bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan etis untuk melahirkan pribadi yang bertakwa dan berpihak pada kemanusiaan.

“Hakikat puasa adalah agar manusia menjadi bertakwa. Karena itu puasa harus bersifat revolusioner, mampu mengubah perilaku yang tidak baik menjadi baik. Puasa yang sejati akan tercermin dalam sikap dan tindakan sehari-hari,” tutur Shinta Nuriyah Wahid.

Acara sahur ini ditutup dengan menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan pembacaan Syair Abu Nawas secara bersama-sama. Kegiatan berlangsung khidmat dan berakhir kisar pukul 05.07 WIB, meninggalkan pesan kuat tentang pentingnya solidaritas, keteguhan iman, dan komitmen kebangsaan di tengah tantangan zaman.

Penggerak Komunitas GUSDURian Mojokerto, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *