Komunitas Gusdurian Majalengka mengadakan walking tour untuk merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Klenteng Hok Tek Cheng Sin Jatiwangi Kabupaten Majalengka. Agenda ini diadakan untuk mengenal agama, budaya dan tradisi satu sama lain dalam bingkai keberagaman bangsa Indonesia. Selain itu, walking tour diadakan sebagai sarana untuk mendekatkan manusia dengan lingkungannya serta menjaganya.
Kegiatan ini diadakan pada Senin, 16 Februari 2026 sebagai tindak lanjut dari Kelas Penggerak GUSDURian di Majalengka. Kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa agama dan kelompok lainnya dengan total sekitar 47 peserta.
Acara diawali dengan pembukaan oleh Dewi Mayangsari pemandu dari Komunitas GUSDURian Majalengka. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa oleh masing masing kepercayaan, sambutan dari perwakilan GUSDURian Majalengka, dan pihak kampung bhineka oleh Pendeta Yayan Heriyanto GKP Bethesda, Pendeta Adolfina GKP Kadipaten, Indrawan, dan To Ing.
Ayong Sanjaya sebagai perwakilan dari klenteng menjelaskan sejarah Klenteng Hok Tek Cheng Sin Jatiwangi sambil berkeliling kompleks tempat ibadah itu. Ia mengenalkan dan menjelaskan hal -hal yang ada di dalam klenteng, mulai dari fungsi hingga sejarahnya.
“Acara kemudian ditutup dengan foto bersama, lalu berbincang satu sama lain untuk lebih mengenal,” ujar Dewi Mayangsari penanggung jawab walking tour.
Berjalan kaki
Dengan berjalan kaki menyusuri titik-titik penting keberagaman, peserta diajak berdialog langsung, mendengarkan cerita, serta merasakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh toleransi.
Koordinator GUSDURian Majalengka Intan Damayanti menyampaikan bahwa walking tour bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk menumbuhkan empati dan sikap saling menghargai. “Keberagaman adalah kekuatan bangsa. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang perjumpaan yang setara dan penuh persaudaraan,” ujarnya.
Selain mempererat relasi antarmanusia, walking tour juga menjadi sarana mendekatkan manusia dengan lingkungannya. Para peserta diajak untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar, menjaga kebersihan, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya merawat alam sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Nilai-nilai yang diwariskan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang kemanusiaan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi semangat utama dalam kegiatan ini. Semangat tersebut diwujudkan dalam aksi nyata, membangun harmoni sosial sekaligus perdamaian.
Melalui walking tour, Gusdurian Majalengka berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memahami keberagaman secara teori, tetapi juga mampu merawatnya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa merawat kebinekaan dan menjaga perdamian dapat dilakukan dengan langkah sederhana, dimulai dari berjalan bersama dan saling menyapa. (SS)
Penulis: Intan Damayanti & Dewi Mayangsari









