WONOSOBO, GUSDURian Wonosobo menggelar buka puasa bersama Nyai Shinta Nuriyah Wahid Kamis, (5/3/2026) bertempat di Gerbang Wisata Mandala Terminal Mendolo, Kabupaten Wonosobo. Acara ini menjadi ruang silaturahmi umat lintas iman, sekaligus sarat nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 80 komunitas di Wonosobo yang terdiri dari berbagai tokoh lintas iman, serta berbagai lapisan masyarakat di Wonosobo. Acara ini mengangkat tema ‘Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi’ yang sedang menjadi perhatian nasional. Kehadiran berbagai elemen menegaskan komitmen bersama dalam merawat persaudaraan di tengah keberagaman.
Dalam sambutannya, Ketua Sekretaris Daerah (Sekda) Wonosobo, One Andang Wardoyo menyampaikan rasa senangnya atas kehadiran Ibu Shinta Nuriyah Wahid, serta menyatakan komitmen penuh terhadap praktik-praktik kemanusiaan dari nilai-nilai pluralitas yang telah diajarkan oleh Gus Dur.
“Buka bersama ini selain sebagai ruang dialog lintas iman, berkumpulnya elemen masyarakat Wonosobo juga sebagai momentum refleksi kemanusiaan. Bahwa, betapa meriah dan beragamnya kondisi negeri kita, khususnya Wonosobo ini kita hargai perbedaannya dengan penyatuan buka bersama,” katanya.
Ia berharap acara ini menjadi simbol serta pencapaian penting, bahwa kemanusiaan layak untuk diperjuangkan dengan berbagai cara terlepas dari berbagai macam perbedaan. “Acara-acara berikutnya semacam ini harus mampu dilaksanakan kembali,” imbuhnya.
“Nilai-nilai yang diajarkan Gus Dur harus dapat terus hidup sebagai fondasi hidup demi tercapainya kerukunan dan kedamaian,” lanjutnya.
Sementara itu dalam tausiyahnya Nyai Shinta Nuriyah mengatakan, bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama, kepentingan politik dan strata ekonomi yang berbeda. “Tetapi perbedaan itulah yang menyatukan, dan justru hal itulah yang menguatkan kita sebagai sebuah bangsa dan negara,” tuturnya.
Pernyataan tersebut tentunya mengingatkan kita bahwa fondasi utama mengatasi masalah kebangsaan adalah toleransi, demokrasi dan pemaknaan agama yang baik. Pentingnya penghargaan terhadap nilai-nilai perbedaan, tidak melakukan diskriminasi terhadap mereka yang dianggap berbeda sehingga terciptalah harmoni indah dalam kebangsaan.
“Masuknya nilai-nilai dan agama baru di Indonesia juga menjadi sebuah perhatian, contohnya, bulan puasa sebagai momentum paling penting untuk mengingatkan manusia agar manusia kritis terhadap perbedaan dan menghargai perbedaan,” tegas Nyai Shinta.
Selain itu, di bulan puasa kita diingatkan untuk menekankan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran kita sebagai pribadi, masyarakat dan bangsa diuji menyikapi krisis kebangsaan yang tengah melanda Indonesia. Kejujuran menjadi hal yang mahal harganya, oleh karena itu layak diperjuangkan.
Tak luput, ia juga mengungkapkan bahwa esensi berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga melainkan bersifat revolusioner. “Hakikat puasa adalah agar manusia menjadi bertakwa. Karena itu, puasa harus bersifat revolusioner, yakni mampu mengubah perilaku dan sikap yang buruk menjadi baik. Puasa nanti sejatinya akan tercermin dari tindakan sehari-hari,” tandasnya.









