Mengeja Kemanusiaan Melalui Gus Dur Idea’s Class

Semangat keberagaman dan kemanusiaan yang diusung mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kini bergaung kembali di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Melalui “Gus Dur Idea’s Class” yang digelar Sabtu (7/3/2026), para pegiat muda dari Kelas Penggerak Gusdurian 2026 mencoba mendobrak kejenuhan diskusi formal dengan metode belajar yang egaliter.

Dipandu Najma Alya Jasmine dan Fransiskus Sardi, forum ini menjadi laboratorium kecil bagi para mahasiswa untuk membaca pemikiran Gus Dur sebagai basis gerakan sosial di tengah tantangan zaman. Agenda ini merupakan prototipe gerakan dari peserta Kelas Penggerak Gusdurian 2026 yang diselenggarakan oleh Gusdurian Yogyakarta.

Menyusuri Jejak Intelektualisme Gus Dur

Melalui metode Gallery Walk, peserta diajak melakukan ziarah pemikiran. Ruangan dibagi menjadi tiga titik koordinat utama: Gus Dur dan Intelektualisme, Gus Dur dan Aktivisme, hingga Gus Dur dan Presiden. Di sana, narasi tentang KH Abdurrahman Wahid dibedah, mulai dari akar tradisi pesantren yang kuat di Tebuireng dan Denanyar, persentuhan dengan ‘Kitab Putih’ dan sastra dunia di Mesir serta Irak, hingga bagaimana sinema dan wayang membentuk cara pandangnya yang kosmopolit.

Gus Dur ditampilkan bukan sebagai mitos, namun sebagai sosok yang melalui proses “menjadi”. Ia adalah bukti nyata bahwa agama tidak harus bersitegang dengan budaya. Sebagaimana kutipan legendarisnya, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita menjadi budaya Arab,” sebuah manifestasi dari gagasan Pribumisasi Islam yang tetap relevan untuk saat ini.

Kemudian, para peserta diajak menyelami Sembilan Nilai Utama Gus Dur yang menjadi fondasi dalam menganalisis isu dan merumuskan strategi gerakan. Gus Dur menunjukkan bahwa kedalaman spiritualitas atau ketauhidan harus selalu dibarengi dengan kemanusiaan yang konkret, di mana setiap manusia dipandang setara tanpa sekat hierarki.

Brahmastya Artanto, Ketua Panitia penyelenggara, menekankan bahwa momentum ini adalah upaya memicu adrenalin perubahan.

“Teman-teman mahasiswa harus sadar bahwa kalian adalah pemegang estafet masa depan. Nilai Gus Dur adalah kompas untuk berkomunikasi dengan santun, inklusif, dan berani membela yang lemah,” ujarnya.

Respon hangat datang dari para peserta, salah satunya Ratul, perwakilan DEMA Fakultas Dakwah dan Komuniasi, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Baginya, menyelami pemikiran Gus Dur adalah upaya reflektif untuk menjadi manusia yang lebih toleran.

“Nilai-nilai Gus Dur, seperti ketauhidan dan kesetaraan, sangat relevan dengan kondisi Indonesia sekarang. Ini harus kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.

Senada dengan Ratul, Falih dari DEMA FDK yang juga merupakan mahasiswa program studi Manajemen Dakwah menyoroti pentingnya konsep kesetaraan dalam bingkai demokrasi yang diperjuangkan Gus Dur.

“Banyak hal baru yang saya dapatkan, terutama bagaimana semua orang di Indonesia memiliki hak dan kebutuhan yang harus direalisasikan bersama tanpa memandang perbedaan,” tuturnya.

Gus Dur Idea’s Class menegaskan kembali bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Melalui sembilan nilai utama, mulai dari ketauhidan, keksatriaan, hingga kearifan tradisi.

Di tengah dunia yang sering kali terbelah oleh polarisasi, kehadiran agenda seperti Gus Dur Idea’s Class ini memberikan energi positif. Ia menjadi pengingat bahwa di bawah langit yang sama. Dialog dan empati masih memiliki ruang untuk tumbuh, mekar, dan menggerakkan perubahan dari dalam kampus menuju kemaslahatan Indonesia yang lebih luas.

Peserta Program Internship SekNas Jaringan GUSDURian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *