Pesantren Gerakan: Belajar Menjadi Manusia di Griya GUSDURian

Griya GUSDURian, Yogyakarta, menjadi titik temu bagi 50 santri yang datang dari berbagai penjuru. Mereka hadir membawa warna daerah asal masing-masing, seperti Yogyakarta, Majalengka, Bekasi, Surabaya, Jombang, Salatiga, Lumajang, Semarang, dan Purworejo. Bahkan, ada peserta yang menempuh perjalanan jauh dari Australia. Sebanyak 30 orang menetap di lokasi, sementara sisanya berstatus santri kalong.

Semangat keberagaman terpancar nyata melalui partisipasi santri-santri dengan beragam latar belakang keyakinan. Acara ini menjadi wadah inklusif bagi seluruh peserta, terlepas dari agama atau kepercayaan yang mereka anut. Sebanyak 30 orang menetap di lokasi, sementara sisanya berstatus santri kalong. Sejak 24 Februari hingga 10 Maret 2026, mereka mendalami tiga tema besar: Ngaji Gus Dur, Ngaji Leadership, serta Ngaji Kontemporer. Materi kajiannya luas. Peserta mempelajari kesetaraan gender, ekologi, cara memanen air hujan, menjadi content creator hingga pengelolaan kompos dan kewirausahaan.

Acara penutupan berlangsung khidmat. Khataman Al-Qur’an dan doa oleh Haiba Iskandar menjadi pembuka. Setelah buka puasa dan shalat maghrib berjamaah, suasana mencair. Para santri unjuk bakat melalui musikalisasi puisi, beatbox, hingga hadrah. Pengumuman santri terfavorit menambah kemeriahan sebelum masuk ke sesi utama.

Kesadaran dalam Perubahan

Allisa Wahid hadir membawakan materi “Menjadi Pelopor dan Penggerak Perubahan”. Sesi ini dibuka dengan video berjudul Tree. Video itu menunjukkan sebuah masalah nyata yang butuh orang untuk memulai langkah pertama. “Sebuah persoalan bisa jadi tidak bisa selesai sendiri. Kadangkala butuh orang lain yang memulai lebih dulu,” ujar Allisa.

Ia menegaskan transformasi sosial berkaitan erat dengan kepemimpinan. Alissa mengutip Otto Scharmer tentang pentingnya kualitas kesadaran. Kualitas hasil sebuah sistem ditentukan oleh kualitas kesadaran yang mendasari tindakan para pelakunya. Semua transformasi sosial memiliki akar kuat pada pola pikir tersebut. Perubahan bukan tentang alat teknis. Perubahan adalah tentang kedalaman kesadaran seseorang saat menghadapi sebuah krisis.

Dalam sesi mengenai Gus Dur, Alissa menekankan posisi agama. Agama adalah panggilan moral untuk memperbaiki nasib rakyat. Ia membekali peserta dengan berbagai pisau analisis. Ada Iceberg Model, Teori U, hingga strategi pengembangan jaringan. Materi ini memberikan gambaran jelas tentang peran strategis penggerak di lapangan.

Diskusi ini juga menyentuh karakter milenial dan Gen Z di kota besar. Alissa menutup pemaparan dengan puisi WS Rendra, “Seenggok Jagung”. Ia memberi peringatan keras. Ilmu pengetahuan tidak boleh membuat seseorang merasa asing saat pulang ke daerahnya sendiri.

Pesan ini menjadi rambu bagi para santri agar tetap berpijak pada realitas sosial masyarakat. Apa gunanya belajar filsafat atau teknologi jika pada akhirnya kita merasa asing di tanah kelahiran sendiri? Rendra mengingatkan bahwa kesombongan intelektual seringkali menjadi dinding pemisah antara penggerak dan rakyat.

Menjadi penggerak bukan berarti menjadi tokoh mitos. Alissa mengingatkan kutipan Gus Dur tentang realitas perjuangan. Kita adalah manusia biasa. Kita punya keluarga. Kita punya rasa takut. Namun, perjuangan tetap harus berjalan.

“Meskipun takut, kita jalan terus. Kita berani melompati pagar batas ketakutan tadi. Mungkin di situ harga kita ditetapkan,” kutip Alissa.

Kutipan itu menjadi penutup sekaligus tantangan bagi setiap peserta yang hadir. Pesantren Gerakan bukan tentang seberapa hebat teori yang mereka bawa pulang. Ini tentang seberapa besar keberanian mereka untuk merobohkan sekat-sekat ketakutan di daerah asal masing-masing.

Griya GUSDURian pun perlahan sunyi. Namun, dari 50 santri yang berpencar pulang, ada harapan yang tersisa. Mereka tidak lagi mencari jalan pintas menuju perubahan. Mereka memahami bahwa menjadi penggerak adalah tentang ketangguhan untuk terus bergerak di bawah langit yang sama dengan orang-orang yang mereka bela.

Peserta Program Internship SekNas Jaringan GUSDURian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *