Ketika Seorang Kristen Menjadi Santri: Refleksi Pesantren Gerakan GUSDURian 2026

Bagaimana rasanya bila seorang Kristen menjadi santri di Pesantren, apakah bisa dan hal apa saja yang akan terjadi? Ini merupakan ceritaku menjadi satu-satunya peserta dari latar belakang iman Kristen yang mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Pesantren Gerakan GUSDURian Yogyakarta tahun 2026.

Meski aku sudah mengenal dan sering mengikuti beberapa kegiatan dari GUSDURian Jogja, tapi kegiatan Pesantren Gerakan tahun ini merupakan pertama kali aku mendaftar dan mengikuti. Awal pendaftaran rasanya sedikit ragu-ragu apakah aku akan terpilih dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu peserta, tetapi semua ketakutanku tersebut hilang saat menerima pengumuman dari panitia bahwa aku terpilih dan menjadi satu-satunya peserta Kristen di Pesantren Gerakan 2026. Perasaan senang meliputi diriku, bahwa ini akan menjadi pengalaman paling berkesan minimal sekali dalam hidupku bahwa aku pernah tinggal dan berproses bersama dengan teman-teman umat Muslim di Pesantren Gerakan.

Akhirnya kurang lebih selama lima belas hari (24 Februari – 10 Maret 2026) aku berproses dan hidup bersama dengan sekitar 30 orang teman-teman Muslim yang menjadi santri dan ternyata banyak diantara para santri yang berasal dari luar kota Yogyakarta, mulai dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan ada salah seorang santri yang berasal dari Australia. 

Selama lima belas hari kebersamaan kami banyak pengalaman tak terduga, hal-hal baru yang dipelajari serta praktik-praktik baik yang telah kami lakukan. Mulai dari ngaji tentang leadership, ngaji isu-isu kontemporer (Teori U dan krisis iklim, memanen air hujan, pembuatan eco enzym dan kompos, intergrated farming, financial freedom, entrepreneur, keamanan digital serta menjadi content creator) dan tentunya ngaji pemikiran Gus Dur tentang keislaman, ekologi, kebudayaan, keadilan gender, sampai demokrasi.

Salah satu materi ngaji yang berkesan untuk diriku adalah ngaji leadership yang disampaikan oleh Mas Jay Ahmad, karena membahas mengenai Seven Habits of Highly Effective People, dimana semua peserta diajak untuk untuk mengenali dirinya sendiri terlebih dahulu sehingga bisa menjadi lingkaran pengaruh kepada orang lain, karena banyak orang sekalipun dia sudah dewasa belum dapat mengenali dirinya sendiri. 

Waktu pelaksanaan kegiatan Pesantren Gerakan tahun ini bukan kebetulan berbarengan dengan ibadah puasa bagi umat Islam dan juga masa puasa prapaskah bagi umat Kristen, sehingga aku dan teman-teman umat muslim bersama-sama melaksanakan puasa dan kami juga sempat saling berdiskusi dan membagikan pandangan puasa menurut Islam dan Kristen.

Saat aku sedang mengikuti kegiatan Pesantren Gerakan, ada beberapa teman gereja menghubungi dan bertanya: “Willi, gimana perasaanmu menjadi peserta Kristen? Kamu ikut shalat juga? Kamu masih jadi orang Kristen kan?”. Jujur saja aku merasa lucu mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena selama kegiatan aku tetap menjadi orang Kristen yang bebas menghidupi dan menjalani imanku, sehingga aku menyebut diriku sebagai Santri Kristen untuk memberi tanda bahwa aku memang berbeda secara iman dengan para santri yang lain namun di dalam kemanusiaan aku sama seperti mereka. 

Aku masih mengingat bagaimana beberapa orang teman santri muslim yang dengan rela hati mengantarkan serta menemani diriku untuk pergi ke gereja di hari Minggu. Bahkan bukan hanya sekali tetapi dua kali hari Minggu mereka tetap setia mengantarkan dan menemani diriku, dengan penuh ketulusan hati aku mengucapkan terima kasih kepada mereka untuk rasa toleransi dan kemanusiaannya.

Pesantren Gerakan tahun ini ditutup dengan materi dari Mbak Alissa Wahid mengenai ajakan untuk menjadi seorang pelopor dan penggerak perubahan. Pesantren Gerakan tahun ini juga benar-benar berkesan bagiku dan membuat aku banyak berefleksi bahwa konflik kadang terjadi dan dimulai karena kita selalu memiliki prasangka yang salah atau keliru terhadap suatu hal, tetapi sebaliknya perdamaian selalu dapat kita mulai ketika kita mau terbuka untuk belajar memahami dan merasakan dan ketika kita sudah bisa memahami dan merasakan, seperti kata Mbak Alissa Wahid, kita juga didorong untuk menjadi seorang pelopor dan penggerak perubahan yang dapat mempengaruhi orang lain. 

Terimakasih kepada semua teman, sahabat dan siapapun yang sudah menerima diriku sebagai Santri Kristen selama kegiatan Pesantren Gerakan. Terimakasih sudah bertanya dan berdialog denganku, terima kasih sudah mengerti dan menerima perbedaan. Semoga kita menjadi orang-orang yang terus melanjutkan perjuangan dan keteladanan Gus Dur untuk kemanusiaan, perdamaian dan keadilan. Gus Dur meneladani, saatnya kita melanjutkan. 

Seorang mahasiswa pascasarjana di Institut Injil Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *