Kunjungi Lansia di RBK GUSDURian, Bu Shinta Memberi Motivasi Menyentuh Hati 

Pare, Kediri – Di tengah padatnya agenda Sahur Keliling 2026 tahun ini yang bertema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengunjungi para Lansia di Rumah Bersama Kemanusiaan GUSDURian. Kunjungan ini dilakukan bersamaan dengan agenda tahunan Sahur Keliling bersama Ibu Shinta yang diselenggarakan oleh Yayasan Puan Amal Hayati.

Kunjungan ini sejalan dengan rute acara Sahur Keliling GUSDURian Mojokerto pada 28 Februari 2026 di GKJW Jemaat Dawarblandong, Mojokerto, dan GUSDURian Jombang pada 1 Maret 2026 di Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak, Jombang, kemudian berlanjut kunjungan ke Pare.

Dalam kesempatan ini, Ibu Shinta memberikan dukungan semangat dan motivasi kepada para Lansia di RBK GUSDURian—yang rata-rata berlatar belakang jauh dari keluarga, bahkan ditinggalkan—untuk senantiasa mendoakan anak-anak dan keluarganya.

“Gak apa-apa ada di sini, temennya di sini juga banyak kok. Jangan menangis. Saya juga di rumah ya biasanya gak ada yang nengokin”, Ibu Shinta menyampaikan kepada para Lansia yang tinggal di Rumah Bersama Kemanusiaan GUSDURuan.

Dalam kunjungan tersebut, beliau banyak bercengkrama seputar kegiatan para Lansia sehari-hari. Kegiatan Lansia yang masih produktif di RBK GUSDURian adalah membantu dan terlibat dalam mengurus 15 orang Lansia yang berkebutuhan khusus. Hal ini karena konsep di RBK GUSDURian adalah saling membantu, tolong menolong, dan bergotong royong.

Dengan jumlah Lansia saat ini di RBK GUSDURian sebanyak 50 orang, para relawan GUSDURian Mojokutho Pare pun terkadang kewalahan, terlebih dalam menangani Lansia yang berkebutuhan khusus. Bagi Lansia yang berkebutuhan khusus, penanganan yang diberikan harus lebih intensif seperti menggendong, memandikan, memakaikan popok, dan menyuapi makan.

“Para Lansia yang masih produktif kami ajak untuk turut membantu mengurus Lansia lainnya yang memerlukan penanganan khusus. Mbah-mbahnya juga kami ajak untuk mengikuti kegiatan keagamaan, yaitu pengajian rutinan malam selasa yang diisi tausiyah agama oleh Ustadz Hadi”, ungkap Antok kepada Ibu Shinta.

Ibu Shinta juga menyampaikan kepada para Lansia “Apapun keadaannya, kita harus tetap bersyukur kepada Tuhan. Apalagi kita dalam keadaan seperti ini, kita harus dekat dan senantiasa berdoa kepada Allah. Itulah yang paling penting. Bagaimanapun, Tuhan masih memberikan segala-galanya untuk kita”.

“Meskipun saat ini sudah gak ada anak, cucu, mantu, yang masih ada kita doakan saja agar tetap kuat, sehat, selamat, dan juga bahagia. Kita mohon kepada Allah agar kita juga menjadi orang yang baik agar nanti khusnul khotimah, dan bisa membantu semuanya,” tambahnya.

Ibu Shinta juga mengingatkan kepada para Mbah-mbah di RBK GUSDURian. “Jangan lupa, justru malah kita yang mendoakan anak cucu itu, mereka masih membutuhkan doa kita sebagai orang tua. Jadi jangan dilepas sama sekali, jangan dimarahi kasian mereka. Mungkin ada sebabnya kenapa mereka tidak bisa berkumpul bersama kita. Mereka pasti rindu kok, cuma karena keadaan mereka tidak bisa bersama kita”.

Bahkan, Ibu Shinta juga memberikan motivasi yang sangat menyentuh hati kepada para Lansia sebagai penutup “Sebagai orang tua, kita yang harus lebih bijaksana, kita dituntut untuk bijaksana dan mendoakan anak-anak kita. Semoga anak cucu kita semua menjadi anak soleh-solehah, bahagia dunia akhirat, dan berguna bagi bangsa dan negaranya. Kita harus bersyukur atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah Swt”.

Setelah menyampaikan motivasi yang begitu menyentuh hati untuk para Lansia, Ibu Shinta juga memberi apresiasi atas perjuangan para relawan dan orang-orang baik yang membantu merawat dan membersamai para Lansia di RBK GUSDURian Pare.

Sebelum kunjungan di RBK GUSDURian berakhir, para relawan GUSDURian Peduli Lereng Kelud menyerahkan cinderamata lukisan yang terbuat dari ukiran kayu berupa foto Gus Dur dan Ibu Shinta sebagai kenang-kenangan. 

Dari Ibu Shinta, kita belajar untuk peduli dan menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita, bahkan yang terpinggirkan — Lansia di RBK GUSDURian yang tidak bersama keluarga — dengan menyempatkan waktu di tengah-tengah padatnya agenda. Ibu Shinta, perempuan yang tidak banyak berbicara soal cinta, tapi bergerak memberikan teladan dan melakukannya. 

Relawan Rumah Kemanusiaan GUSDURian. Penggerak Komunitas GUSDURian Mojokuto Pare, Kediri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *