“Apa agamamu?” Jika pertanyaan itu diajukan ke saya, dengan lantang saya wartakan: “Saya Katolik.”
Saya Katolik dari lahir, besar di lingkungan Katolik, bahkan sempat mengenyam pendidikan di seminari. Jadi, jika ada yang meragukan kekatolikan saya, bisa saya pastikan beliau salah besar (walau saya akui, kadang saya masih jarang berdoa. Hehehe).
Bagi saya, agama adalah ekspresi personal. Saya teringat saat ujian skripsi tahun 2023, dosen penguji saya menegaskan bahwa iman yang dipeluk seseorang sifatnya sangat pribadi, namun tindakan yang lahir dari iman itulah yang harusnya lebih ditonjolkan. Beliau menyampaikan “bukan sekadar ritual yang dipamerkan (show off) seperti orang sok suci yang berdoa tiap hari namun praktiknya justru mencuri uang rakyat, seperti para koruptor” . Saya mengiyakan dan posisi saya jelas: saya membedakan pengalaman iman yang sifatnya personal dan tindakan iman yang memiliki kelekatan sosial.
Berangkat dari pemahaman pengetahuan demikianlah, saya akhirnya mengiyakan ketika diminta menjadi Musrif (pendamping santri) di acara Pesantren Gerakan Jaringan Gusdurian, yang berlangsung dari 24 Februari hingga 10 Maret 2026.
Awalnya, saya sampaikan kepada Mas Pandu (koordinator Musrif) bahwa saya tidak paham apa yang harus dilakukan sebagai Musrif. Saya lebih memilih jadi peserta saja. Namun, beliau meyakinkan bahwa tugas saya hanya mengawal para santri agar disiplin mengikuti seluruh rangkaian kegiatan “ngaji”.
Dengan enteng beliau menyampaikan sambi kelakar khas Jawa campur Timur “Kamu gak diminta mengaji secara Islam kok kaka, melainkan bantu mengingatkan santri, untuk ibadah dan ikut ngaji-ngaji lainya saja”. Akhirnya, jadilah saya orang Katolik pertama yang menjadi Musrif dalam sejarah Pesantren Gerakan, aneh tapi benaran ada.
Sebagai pribadi Katolik yang tidak menjalankan tradisi Islam, saya menyadari bahwa mempelajari cara orang lain mengekspresikan iman adalah hal mutlak. Ada kapasitas pemahaman personal yang bertumbuh di sana. Pemahaman itu menjadi peneguhan bagi saya untuk lebih menghargai keberagaman. Mungkin akan banyak yang bertanya: “Kamu tidak takut pindah agama karena sudah tahu terlalu banyak agama yang lain?”
Saya akan meng-copy jawaban dosen Filsafat saya di kelas dulu. Beliau menegaskan: mengetahui ajaran iman itu berbeda dengan mempraktikkan dan menjalankannya. Ada jarak yang jauh antara tahu dan bisa. Saya tahu bagaimana teman-teman Muslim harus menjalankan ibadah, tetapi saya belum tentu bisa (dan harus) menjalankannya. Kesadaran inilah yang membuat saya tidak takut bertemu dengan keberagaman. Secara personal saya menyadari tahu kebiasaan beragama orang lain adalah momentum penting untuk menumbuhkan rasa hormat atas keberagaman itu sendiri.
Selama 15 hari saya menjalankan peran yang unik. Saya yang konon di seminari terbiasa dengan lonceng gereja dan doa Rosario, akhirnya melihat sekitar 60an santri-santriwati menjalani sahur bersama, Shalat Subuh dan Maghrib, tadarus Qur’an dan bahkan sama-sama merayakan malam Nuzulul Quran. Di pesantren Seknas Jaringan Gusdurian, saya pertama kali menyaksikan secara langsung teman-teman saya yang ‘kiri dan progresif’ mendaraskan Al-Qur’an dengan khusyuk. Dan itu sangat mengharukan, Islam rahmatan lil alamin, damai.
Bagi saya, itu adalah hal baru yang sangat berharga. Saya melihat bagaimana saudara-saudara Muslim saya mempraktikkan keimanannya dari bangun pagi hingga kembali tidur. Di sana, saya tidak merasa asing; saya justru merasa sedang menjalankan “liturgi sosial” – sebuah bentuk pengabdian orang Katolik dalam ruang yang berbeda, sebagaimana dokumen konsili Vatikan II (1962-1965), Nostra Aetate menegaskan bahwa relasi dengan agama di luar Katolik adalah panggilan zaman. Secara personal keterlibatan saya sejalan dengan spirit yang mendorong umat Katolik untuk menghargai apa yang suci pada agama lain, karena Katolik artinya universal.
Terlepas dari hal-hal di atas, mungkin pembaca menyangsikan: “Kalau di pesantren Gerakan hanya bahas tradisi Islam, apa yang akan saya dapat secara personal, emang penting ikut gituan, FOMO ya?” Menurut saya, nama “Pesantren Gerakan” adalah branding. Isinya jauh lebih luas dari sekadar ritual.
Ada tiga jenis “ngaji” (kalau tidak mau disebut kajian atau seminar atau workshop) yang diadakan di pesantren gerakan:
Pertama, Ngaji Gus Dur (jam 05:00 Subuh) yang membahas tentang gagasan-gagasan besar Gus Dur tentang keindonesiaan. Mulai dari toleransi, demokrasi, budaya, dan agama. Setiap subuh ide-ide besar yang ditawarkan Gus Dur, dicipratkan pada para santri dan santriwati.
Kedua, ada Ngaji Kontemporer (jam 15:30 Sore) yang banyak membahas tentang kebiasaan yang harus dimiliki oleh manusia saat ini. Semacam kajian ‘seni menjalankan hidup ala manusia modern’. Ada beberapa yang dilakukan misalnya pembuatan eco enzim, diskusi tentang persoalan ekologi, cara untuk memanen air hujan dan bagaimana menjadi pribadi yang punya kecakapan finansial dan belajar menjadi content creator.
Ketiga, Ngaji Leadership (jam 21:00 Malam, setelah Tarawih). Ngaji ini dipandu langsung oleh Mas Jay Akhmad, Koordinator sekretariat Jaringan Gusdurian. Materi-materi yang dikaji sangat penting untuk modal menjadi penggerak sosial dan individu yang matang. Saya mengamini pernyataan mas Jay yang menegaskan penggerak sosial lahir dari kecakapan memimpin diri sendiri. Kepemimpinan yang ideal lahir dari kemampuan memahami individu, maka materi-materi seperti DISC CODE, 7 habits, dan speed Of Trust harus diinternalisasikan secara personal.
Di hari terakhir Pesantren Gerakan, Alissa Wahid memperkokoh kajian-kajian sebelumnya dengan membahas tentang “pelopor dan penggerak perubahan”. Ia menegaskan bahwa transformasi sosial hari ini membutuhkan ‘seberapa jernih niat (intention) dan seberapa dalam kualitas kepedulian (attention)’ terhadap fenomena sosial.
Saya menyadari menjadikan bulan puasa, (kebetulan saya yang Katolik juga berpuasa) sebagai arena sosial untuk belajar 3 hal diatas adalah berkat yang berlimpah. Bertemu dan berkumpul bersama generasi muda untuk membahas life skill, kepemimpinan dan role model pemimpin adalah sebuah keistimewaan di kota yang istimewa ini. Selain tradisi pesantren, saya diajak membaca situasi dunia melalui isu-isu kontemporer dan mengasah kecakapan diri untuk menghadapi realitas dunia yang penuh ambiguitas.
Akhirnya, pengalaman 15 hari ini tidak membuat kekatolikan saya luntur. Sebaliknya, melihat kedisiplinan para santri dalam beribadah justru menjadi “tamparan” halus bagi saya untuk kembali disiplin dalam kehidupan rohani saya sendiri. Makanya saya ‘diam-diam’ saat hari Minggu ke Gereja. Saya belajar bahwa menjadi Musrif bukan soal berpindah keyakinan, tapi soal memperluas hati.
Di Pesantren Gerakan, saya menemukan bahwa ketika saya berani melampaui sekat-sekat dogma untuk tujuan kemanusiaan, di sanalah iman yang sejati sedang bekerja. Seperti Kata Gus Dur, “saat kamu melakukan hal-hal baik, orang-orang tidak akan mempertanyakan apa agamamu” . Maka saya sebagai orang Katolik mengundang kalian smua yang tertarik untuk mengikuti kajian tentang kemanusiaan di kemas dalam nuansa pesantren gerakan, silakan daftar tahun depan, karena acaranya gratis. Hehehe.









