GRESIK – Kegiatan Kupatan di GKJW Menganti tahun ini berlangsung hangat dan penuh khidmat. Berkolaborasi dengan GUSDURian Gresik, acara yang digelar pada Jumat, 10 April 2026 ini mengusung tema “Harmoni dalam Damai”.
Ratusan warga dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan memadati GKJW Menganti di Perumahan Palem Pertiwi, Gresik. Suasana kebersamaan semakin terasa dengan hadirnya pengurus RT/RW serta warga sekitar yang ikut berbaur dalam semangat guyub dan toleransi.
Kehadiran para undangan disambut langsung oleh penggerak GUSDURian dan pihak GKJW, termasuk Pdt. Lantikaningrum selaku pendeta di GKJW Menganti.
Ketua Panitia, Paulus Ngatiman, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merekatkan persatuan lintas agama dan kepercayaan.
“Tujuan kegiatan kupatan ini mempererat kebersamaan dari lintas agama dan kepercayaan Sehingga merasakan kebersamaan, keindahan harmoni dalam kehidupan,” ungkapnya.
Kegiatan dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana semakin khidmat saat seluruh hadirin diajak melantunkan Nyanyian Perdamaian, karya kolaborasi Dr. KH. Nuril Arifin Husein dan Dr. Jimmy B. Oentoro.
Bait-bait lagu tersebut menggema, membawa pesan persaudaraan yang mendalam:
Nyanyikan lagu tentang cinta
Nyanyikan lagu tentang damai
Nyanyikan lagu tentang kasih sayang
Saling menghormati antarumat beragama
Mari ciptakan kedamaian dunia
Pesan mendalam dari lagu tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh Pdt. Dhaniel Rinadi Nugrahawan. Ia menekankan bahwa kegiatan Kupatan tidak hanya berpusat di GKJW Kota Gresik, melainkan juga disebarluaskan ke berbagai jemaat daerah, termasuk di Menganti, guna memperluas jangkauan pesan perdamaian.
“Forum yang baik ini juga bisa kita wujudkan di berbagai daerah sehingga masyarakat sekitar dan komunitas yang ada disekitarnya juga bisa bergabung sehingga misi kita membawa suara perdamaian, toleransi kita gemakan di berbagai tempat,” jelasnya.
Pdt. Lantikaningrum menyampaikan pesan serupa dalam momentum Kupatan Kebangsaan yang pertama kali digelar di GKJW Menganti ini. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah sinergis untuk mewujudkan perdamaian bersama.
“Di kidung kami ada tunggal ambekan, nafas kita sama siapapun kita sama yg kita butuhkan hidup damai berdampingan,” pungkasnya.
Kupatan Kebangsaan merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh GKJW dan GUSDURian Gresik dalam momentum hari raya ketupat. Tahun ini terasa istimewa karena pelaksanaannya berbarengan dengan momentum Paskah.
Untuk menghangatkan perjumpaan, acara diisi dengan “Jagongan Lintas Iman” yang dimoderatori oleh Nur Khosi’ah. Diskusi ini menghadirkan Aan Anshori, salah seorang penggerak keberagaman, sebagai narasumber.
Aan menilai acara ini sangat menarik karena menggunakan ketupat sebagai simbol kearifan lokal untuk persatuan tanpa sekat agama dan kepercayaan.
“Ada aspek kearifan lokal yang kuat di sini. Ketupat menjadi upaya untuk mempertemukan semua kalangan. Terlebih, Kupatan tahun ini bertepatan dengan tiga perayaan besar sekaligus, yakni Idulfitri, Paskah, dan Nyepi,” ujar Aan.
Melalui agenda Kupatan lintas agama dan kepercayaan ini, pria yang juga dosen di Universitas Ciputra tersebut berharap ikatan antarumat beriman semakin kuat.
“GUSDURian Gresik dan lintas agama dan kepercayaan khususnya yang ada di Menganti-Gresik semakin solid terutama mempromosikan 9 NU Gus Dur itu sendiri termasuk kebebasan beragama dan berkeyakinan,” harapnya.
Bagi Aan, pertemuan lintas agama dan kepercayaan di Gresik perlu terus didukung dan disebarluaskan ke publik demi masa depan kebeinekaan yang lebih cerah.
“Harusnya Gresik menokohkan sebagai kota santri pada titik bersamaan juga sebagai kota toleransi. Semakin santri semakin toleransi,” tambahnya.
Kegiatan diakhiri dengan doa lintas agama dan kepercayaan, foto bersama, serta menyantap sayur ketupat yang telah disediakan.