Opini

Membaca Pikiran Sang Mistikus

“Ketika para pengamat politik sibuk membedah strategi sekulernya, Gus Dur justru melangkah dengan kompas batin seorang mistikus yang memandang dunia spiritual senyata realitas materi di depan mata”.

Bagi banyak orang, saat mencoba membedah sosok K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur masih menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan. Di satu sisi, Gus Dur dipuja sebagai intelektual yang fasih bicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia di forum-forum internasional. Namun, di sisi lain, Gus Dur adalah kiai kharismatik yang sangat taat pada tradisi pesantren dan rajin melakukan ziarah ke makam-makam wali. Nampaknya, kebingungan publik seringkali muncul karena cenderung memisahkan antara peran politiknya dengan orientasi spiritual pribadinya. Padahal, untuk benar- benar memahami isi kepala dan langkah-langkahnya yang sering dianggap kontroversial, kita perlu melihatnya sebagai seorang mistikus. 

Membaca mistikus dalam konteks Gus Dur bukan berarti berurusan dengan klenik atau dunia ghaib yang gelap, melainkan sebuah cara pandang di mana dunia spiritual dipandang senyata dunia materi (Barton, 1999). Artinya, bagi Gus Dur, dimensi spiritual bukan sekadar urusan batin yang tersembunyi, melainkan sebuah energi penggerak yang mewujudkan dalam setiap langkahnya untuk membela martabat manusia. 

Pandangan inilah yang menjadi kompas internal yang membedakannya dari politisi pada umumnya. Bagi Gus Dur, realitas batiniah memiliki bobot yang sama dengan realitas lahiriyah, sehingga setiap tindakannya selalu memiliki landasan spiritual yang mendalam. 

Akar Tradisi dan Keberanian Moral

Fondasi batin seorang Gus Dur tentunya tidak muncul secara instan, melainkan ditempa melalui tradisi pesantren yang panjang. Pengalaman mistik Gus Dur berakar sejak masa santri di pesantren Tegalrejo di bawah bimbingan Kiai Chudhari, sosok yang memperkenalkannya pada ritus sufi dan praktik ritual batiniah (Barton, 2008). Di sana, Gus Dur belajar bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak hanya dicapai melalui perdebatan teologis, tetapi melalui rasa dan pengalaman spiritual yang mendalam. Itulah sebabnya, Gus Dur memegang teguh ajaran sufi seperti halnya Imam Junaid al-Baghdadi, yang menekankan keseimbangan antara syariat dan hakikat. 

Kaitan batiniah ini tidak berhenti pada urusan ritual pribadi Gus Dur, melainkan merembes hingga panggung kekuasaan yang penuh hiruk-pikuk. Spiritualitas inilah yang melahirkan keberanian moral dalam setiap kebijakan politiknya. Karena Gus Dur merasa hanya perlu takut kepada Tuhan, ia tidak pernah gentar menghadapi kekuatan politik atau militer mana pun. Baginya, integritas intelektual dan keyakinan spiritual adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Hal inilah yang membuat ide-idenya tetap relevan melampaui zaman, karena Gus Dur menyuarakan dengan kejernihan batin yang matang bukan sekedar mengutip teori. 

Logika Quitisme di Balik Manuver yang Aneh

Berpijak pada pondasi mistisnya Gus Dur, lahir gaya politik yang sering dianggap “aneh”, “berputar-putar”, atau bahkan “mencla-mencle” oleh para pengamat politik formal. Namun, jika kita menyelami pikiran sang mistikus, langkah-langkah tersebut sebenarnya berakar pada prinsip Sunni Quietism atau ketenangan harmoni (Barton, 1999). Prinsip ini mengutamakan upaya meminimalisir risiko kekerasan fisik bagi rakyat banyak, meskipun Gus Dur sendiri harus mengorbankan reputasi pribadinya dengan dicap sebagai pemimpin yang tidak konsisten. 

Bagi Gus Dur, politik bukanlah sekadar memenangkan narasi dipermukaan, melainkan sebuah bentuk kepedulian pastoral untuk mengayomi mereka yang lemah. Ia bersedia menemui tokoh-tokoh yang dibenci publik atau melakukan negosiasi di bawah arus permukaan (silent bargainings) demi satu tujuan utama, menjaga agar tidak ada darah warga negara yang tumpah akibat ketegangan politik (Barton, 1999). Tentunya, dalam kacamata sang mistikus, keselamatan nyawa satu manusia jauh lebih berharga daripada menjaga citra konsistensi politik seorang presiden. Keberaniannya untuk dicaci maki demi menghindari konfrontasi fisik adalah pengejawantahan nyata dari nilai pengorbanan yang ia pelajari dalam dunia sufisme. 

Pluralisme Solusi Praktis Kemanusiaan

Kepedulian terhadap martabat manusia ini kemudian bermuara pada cara Gus Dur mengolah agama dalam kehidupan bernegara. Sebagai mistikus yang inklusif, Gus Dur tidak menggunakan teks suci secara kaku hanya untuk klaim kebenaran teologis yang eksklusif. Sebaliknya, ia menggunakan ayat-ayat suci secara fungsional dan kontekstual. Baginya, agama harus berfungsi sebagai obat penawar bagi masalah kemanusiaan, bukan justru menjadi sekat pemisah antar sesama warga negara. Gus Dur pernah berujar dengan sangat ikonik: “Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan menanyakan apa agamamu”.

Prinsip ini nyata ketika Gus Dur mencabut Inpres No. 14/1967 yang selama puluhan tahun membelenggu hak sipil etnis Tionghoa. Keputusan ini adalah refleksi batiniah dari keyakinannya bahwa semua manusia adalah setara di mata Tuhan. Gus Dur mengajarkan kita untuk menjadi “mistikus yang membumi”— manusia yang hatinya terpaut pada Yang Maha Tinggi, namun kakinya melangkah tegap membela hak-hak mereka yang tertindas. (SDH)

Luthfiyadin Rizqi

Alumni Sejarah Peradaban Islam UIN Salatiga dan Penggerak Gus Dur Corner UIN Salatiga.