Opini

Gus Dur dan Sahabat Khonghucu: Perjalanan Sejarah Di Balik Penghapusan Diskriminasi Tionghoa di Indonesia

Perjalanan studi lanjut saya membuat saya menekuni sebuah agama di luar agama saya sendiri yakni Agama Khonghucu. Saya mulai belajar dari setiap ibadah yang saya ikuti, setiap buku yang saya baca dan Arsip-arsip yang saya temukan. Tetapi ada satu hal yang mengganjal ketika saya membuka buku pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu dari tingkat sekolah Dasar hingga sekolah Menengah Atas. Di mana sejarah Perkembangan Khonghucu tidak dituliskan ketika memasuki  Orde baru, seakan-akan lompat dari Orde Lama era Soekarno kemudian langsung beralih ke Reformasi ketika Gus Dur mencabut Inpres 14 tahun 1967 tentang Pelarangan Agama dan Adat Istiadat Tionghoa. 

Keingintahuan saya akhirnya membawa saya untuk bertemu dengan Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) periode 1993-2002. Pertemuan dengan Ws. Chandra Setiawan untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana umat Khonghucu berjuang untuk mendapatkan hak memeluk agama mereka kembali. Ws. Chandra yang saat itu juga merupakan dosen di STIE IBI (sekarang dikenal dengan Kwik Kian Gie School of Business) dekat dengan pengurus yayasan, yakni Kwik Kian Gie yang merupakan seorang Ekonom Tionghoa yang terkenal pada masa itu. Ia meminta kepada pak Kwik agar tokoh-tokoh agama Khonghucu bisa dipertemukan dengan tokoh lintas agama seperti Gus Dur dan Nurcholis Majid. Melalui Pak Kwik Kian Gielah awal dari pertemanan tokoh khonghucu dengan Gus Dur yakni sejak 1993.

Pada sebuah kesempatan di tahun 1995 yakni persidangan gugatan pernikahan Lanny Guito dengan Budi Wijaya di Pengadilan Negeri Surabaya. Ws. Chandra Setiawan membawa Gus Dur untuk berkunjung ke Surabaya dan menjadi saksi ahli yang banyak menyoroti kasus gugatan pernikahan kedua pasangan Khonghucu. Sehingga melalui kesaksian Gus Dur maka putusan pengadilan mensahkan pernikahan Lanny Guito dengan Budi Wijaya. Hal ini menunjukan bahwa Gus Dur berpihak kepada kelompok minoritas yang ditindas Orde Baru. Sehingga semakin membuat hubungan Gus Dur dengan umat Khonghucu dalam hal ini yakni kepengurusan MATAKIN di bawah Ws. Chandra Setiawan menjadi erat.

Ketika memasuki tahun 2000, Gus Dur saat itu menjabat sebagai Presiden umat khonghucu ingin mengundang Presiden untuk dapat menghadiri perayaan Imlek Nasional. Namun, ada kendala yang disampaikan oleh Bondan Gunawan (Menteri Sekretaris Negara di era Gus Dur), bahwa ada Inpres No. 14 tahun 1967 yang melarang imlek dirayakan secara terbuka. Gus Dur dengan santainya mengatakan bahwa “Gampang itu nanti saya akan cabut”. 

Benar yang dikatakan Gus Dur bahwa tidak berselang lama terjadi pertemuan berikutnya. Ws. Chandra Setiawan (Ketua MATAKIN saat itu) bersama Xs Budi Santoso dan Xs Bingky Irawan, didampingi Bondan Gunawan serta Marsilam Simanjuntak, menemui Gus Dur untuk menandatangani pencabutan Inpres No.14 Tahun 1967 yang memberikan pembebasan dan diskriminasi bagi umat Tionghoa, khususnya Agama Khonghucu. 

Cerita ini mungkin jarang orang yang tahu, bahkan di kalangan Tionghoa ada kelompok yang mengklaim dekat dengan Gus Dur tetapi tidak berdasarkan fakta sejarah sebenarnya. Persahabatan Gus Dur dengan kelompok Agama Khonghucu menunjukan sebuah sikap dari Gus Dur untuk hadir kepada mereka yang tertindas. Agama Khonghucu telah tertindas selama 32 tahun di bawah kekuasaan rezim Orde Baru, mereka bukan saja kehilangan identitas tetapi adanya generasi yang putus karena harus memeluk agama lain. Saya lebih suka menyebutnya sebagai Genosida Identitas terhadap Tionghoa oleh Orde Baru, sehingga ia tidak layak disebut dengan Pahlawan Nasional atas alasan apapun.

Ketika dahulu kelenteng tidak boleh dibangun atau direnovasi pada masa Orde Baru, setelah Instruksi Presiden (Inpres) yang diskriminatif itu dihapus, mulai bermunculan kelenteng-kelenteng baru. Kita bisa temui di berbagai Universitas seperti UNS Solo, Universitas Pancasila hingga UGM Yogyakarta. Bahkan sekarang umat Khonghucu telah memiliki sekolah Tinggi Agama Khonghucu yang bernama SETIAKIN di Bangka Belitung. Hal ini tidak lepas dari perjuangan Gus Dur untuk berpihak kepada umat Khonghucu yang tertindas. 

Selanjutnya, menjadi bagian kita sebagai generasi muda, baik sebagai GUSDURian atau sebagai anak muda Khonghucu, untuk melanjutkan nilai-nilai baik yang telah ditanamkan. Nilai itu adalah keberpihakan terhadap kelompok lemah dan minoritas, yang kerap termarjinalkan oleh masyarakat maupun pemerintah. Seperti Gus Dur dan Ws. Chandra Setiawan yang militan di tengah situasi politik yang tidak menentu. Semangat mereka dalam memperjuangkan nilai-nilai itu patut diteladani oleh kita semua. (SDH)

Ferry Mahulette

Mahasiswa CRCS UGM. Penggerak Komunitas GUSDURian Yogyakarta.