PEKANBARU – Jaringan GUSDURian bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau mengadakan seminar nasional ekoteologi bertajuk “Agama untuk Perdamaian dan Pelestarian Alam”. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Rektorat UIN Suska di Pekanbaru, Riau pada Rabu (13/5/2026) dan dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai kalangan. Seminar nasional ini dibuka oleh Raihani, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan.
Acara ini menghadirkan akademisi UIN Riau Aminuddin Palawa, aktivis lingkungan sekaligus Pokja Percepatan Perhutanan Sosial Provinsi Riau, Johny S. Mundung, dan Kepolisian Daerah Riau yang diwakili oleh Wakil Direktur Binmas, Dermawan Marpaung. Ketiganya menyampaikan berbagai tantangan pelestarian alam yang sangat dipengaruhi oleh banyak kepentingan.
Dermawan Marpaung menyebut saat ini Kepolisian Daerah Riau memiliki program Green Policing sebagai upaya menempatkan polisi bukan sekadar penegak hukum, namun juga agen pelestarian alam. Melalui Green Policing, Polda Riau berkomitmen menjadikan polisi lebih inklusif, humanis, dan berpijak pada nilai-nilai keberlanjutan.
Peneliti Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) UIN Suska Riau, Aminuddin Palawa, menegaskan bahwa agama kerap dijadikan legitimasi untuk melancarkan berbagai kepentingan, termasuk eksploitasi sumber daya alam. Ekoteologi berupaya untuk melawan tafsir agama yang antroposentris dan menegaskan bahwa agama pada dasarnya memiliki ajaran untuk pelestarian alam.
Sementara itu, Johny menyebut bahwa akar utama kerusakan lingkungan di Riau dan berbagai wilayah Indonesia adalah korupsi yang dibiarkan. Ia mencontohkan penyusutan hutan di Riau yang terus terjadi dari tahun ke tahun secara ekstrem.
“Dari semua pelaku perusakan, perusahaan besar adalah aktor utamanya,” tegas Johny.
Ia menuntut langkah berani aparat penegak hukum dan para pemimpin daerah untuk menindak perusahaan-perusahaan yang menjadi biang kerok kerusakan lingkungan di Riau.
Ekoteologi
Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian, Jay Akhmad menyebut bahwa seminar ini merupakan bagian dari Gerakan JAGAT atau Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi yang diinisiasi oleh Jaringan GUSDURian sejak dua tahun terakhir. Melalui agenda ini, GUSDURian berupaya mendengar suara-suara dari berbagai pihak untuk mengarusutamakan wacana pelestarian alam.
“Kami berupaya melanjutkan semangat Deklarasi Istiqlal dan Bali Interfaith Movement yang diadakan pada 2024 lalu untuk mengajak semua kalangan dari berbagai agama bergerak bersama dalam melestarikan alam,” ujar Jay Akhmad.
Ia menceritakan bagaimana Jaringan GUSDURian bersama Kementerian Agama, kampus keagamaan, dan para pemuka agama berupaya merumuskan narasi-narasi agama tentang ekologi yang selama ini jarang muncul ke permukaan.
Selain itu, agenda ini menjadi bagian dari mendiseminasikan gagasan Gus Dur tentang ekologi. Baginya, gagasan Gus Dur tidak lepas dari agama, budaya, dan demokrasi sehingga memunculkan ekoteologi, humanisme ekologis, dan keadilan ekologis. Ketiganya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. (SDH)