Langkah Jalu Kiswara terhenti ketika melihat seorang pria asing yang tengah membungkuk-bungkuk mencari sesuatu. Setelah mengintai sekian detik, Jalu Kiswara mencurigai bahwa orang itulah yang dilihatnya dua hari terakhir di sekitar pemakaman. Ia lantas mendekatinya dengan hati-hati, sembari menyeret sapu lidi dan pengki berbahan seng karatan sebagai amunisi kalau-kalau terjadi sesuatu.
“Permisi… sedang apa, Pak?”
Pria dengan rambut beruban itu menoleh, sedikit terkejut. Perawakannya necis dengan setelan formal yang tampak berlebihan untuk suhu bulan Agustus. Namun, rautnya tak acuh. Tatapannya masih menjurus ke tanah kering di bawah telapak kakinya, di mana longgokan daun Plumeria berserakan.
“Saya yakin, dulu tempatnya di sini!” Sahut pria itu seraya menunjuk titik di antara dua nisan. “Di mana benda itu sekarang?”
“Benda apa?” Jalu Kiswara mengernyitkan dahi.
“Corong pengumpat.”
***
Aku mempunyai pengalaman yang bisa dibilang agak sinting terkait kamar mandi. Pasalnya, ini bukanlah kamar mandi yang lazim dijumpai. Pertemuan pertamaku dengan kamar mandi itu terjadi dasawarsa silam, saat aku mulai bekerja di luar kota. Demi menghemat biaya dan tenaga, aku memutuskan untuk tinggal di sebuah indekos. Kriterianya sederhana: jaraknya tak boleh lebih dari dua kilometer dari kantor.
Setelah berkeliling dari satu gang ke gang lain, pilihanku jatuh ke Kos 24, indekos anyar bercat putih yang tersembunyi di antara pangkalan ojek dan Warung Madura. Harganya yang tergolong murah dan lokasinya yang terletak di tepi jalan utama membuatku luluh. Bangunannya memang tak besar, namun cukup leluasa untuk seseorang yang hanya akan menghabiskan delapan jam per hari di atas kasur. Kos 24 memiliki lahan parkir untuk selusin motor. Di dalamnya terdapat sepuluh kamar tidur, yang masing-masingnya hanya boleh dihuni dua orang, dan satu kamar mandi bersama.
Sesaat sebelum membayar uang muka, aku sebetulnya telah mendengar selentingan tentang kamar mandi di Kos 24 yang penuh kisah mistis. Menurut desas-desus, kamar mandi itu angker dan siapa pun yang masuk akan terjebak di situ untuk waktu yang lama, lantas bersusah payah mencari jalan keluar. Macam adegan tersohor dalam film Psycho-nya Alfred Hitchcock. Namun, aku mencoba menepisnya. Lagi pula, nyaris semua tempat baru mengandung berita miring yang bikin merinding.
Lambat laun, mitos itu perlahan mengabur dan menjelma kenyataan. Ini bermula tatkala aku menyaksikan sendiri salah satu tetanggaku yang menghabiskan berjam-jam di dalam kamar mandi itu dan seolah tersesat dalam labirin Triwizard. Tanpa suara kecipak air. Tanpa bunyi keran yang dibuka-tutup. Tanpa senandung sumbang khas orang mandi. Tanpa kepastian. Kamar mandi itu seperti menelan siapa pun yang mengunjunginya.
“Maaf, Mas, orang yang di dalam belum selesai juga?” tanyaku pada tetangga yang kamarnya persis berdampil dengan tembok kamar mandi, “ini sudah tiga jam lebih.”
“Oalah, baru pindah, ya?”
“Ya.”
“Abang belum tahu cerita soal kamar mandi itu?”
“Ekhm, belum,” aku tak begitu yakin. Adakalanya bersikap pura-pura bodoh melumerkan suasana.
“Gak usah ditunggu. Abang sekarang bisa ambil nomor antrian di situ,” ia mengarahkan telunjuknya ke seputar pintu kamar mandi.
“Nomor antrian?”
“Ya. Abang tinggal tulis nomor kamar di atas kertas itu, terus ambil nomor antriannya. Nanti, jika sudah sampai gilirannya, akan ada yang mengetuk pintu kamar Abang dua kali.”
“Siapa yang mengetuk?”
“Gak tahu,” nadanya dipelankan, “dan gak perlu tahu.”
Maka, sebagai pemukim baru, aku mengiyakan saja. Kemudian, aku menuju tempat yang dimaksud. Di situ terdapat dua boks kertas terpisah yang menggantung di dinding: kertas kosong untuk menorehkan nomor kamar dan kertas berisi nomor antrian. Disediakan pula sebatang pulpen. Dan benar saja, ada gunungan nomor kamar yang mengantri menunggu jatahnya menggunakan kamar mandi. Dan kalau dihitung-hitung, aku baru mendapat giliran pekan depan. Atau tepatnya, delapan hari lagi! Padahal, penghuni Kos 24 kurang dari dua puluh orang.
Darahku sempat mendidih. Dadaku panas. Namun aku memilih diam. Daripada diusir karena bikin gaduh? Renungku. Alhasil, aku membubuhkan nomor kamarku, menjumput nomor antrian, lalu segera melengos tanpa berkomentar. Sebab bagaimanapun, mendapatkan Kos 24 ini toh sudah sangat menguntungkan.
Maka demi mengakali hidup, sepanjang pekan itu aku berangkat lebih pagi untuk menumpang mandi di masjid atau kamar mandi kantor. Bila hendak buang air, aku sebisa mungkin bergegas menuju kakus milik stasiun pengisian bahan bakar atau swalayan yang buka 24 jam. Dan semua itu kujalani sambil mengutuk para tetanggaku.
***
Hari yang kunanti-nantikan pun tiba. Di suatu petang, sepulang kerja, ada yang mengetuk pintu kamarku. Dua kali. Tok! Tok! Aku terkesiap. Setelah pintu kusibak, tiada siapa pun kecuali desiran angin dan tempias cahaya sore yang memancar di koridor. Aku sempat menepuk pipi. Ini jelas bukan mimpi. Ini adalah giliranku untuk menggunakan kamar mandi sialan itu.
Aku segera menghambur ke bawah dipan untuk memungut peralatan mandi: botol sabun dan sampo, sikat dan pasta gigi, serta cairan pembersih muka. Tak lupa juga kutenteng handuk dan pakaian ganti yang selama ini bercokol di dalam ransel. Kupikir ini sudah lebih dari cukup. Lagi pula, di dunia yang serba cepat ini, orang waras mana yang rela menguras waktunya di kamar mandi?
Setelah pintu kukunci, aku menebar pandangan ke sekeliling. Kondisi kamar mandi itu amat bersih dan wangi. Sama sekali tak menyeramkan. Dibandingkan dengan indekos lainnya, kamar mandi inilah yang paling apik: ubinnya kinclong, lampunya terang, klosetnya mengilap. Langit-langitnya juga terawat, tak ada satu bagian pun yang mengelupas. Genangan air di baknya pun jernih.
Namun, ada satu benda ganjil yang meluapkan rasa penasaran. Objek ini berbentuk kerucut, cenderung menyerupai corong berukuran sebesar wajah orang dewasa dengan tangkai panjang yang ujungnya tertanam rapi di dasar ubin. Materialnya plastik, mirip dengan corong yang kerap digunakan untuk menumpahkan bensin eceran ke dalam tangki kendaraan. Di cekungnya terdapat tulisan dengan spidol merah:
“Ungkapkan apa pun yang ingin diungkapkan.”
Aku bergidik. Apakah benda ini yang menahan para tetanggaku di dalam sini, seolah-olah mengalami kebutaan total dan tersasar dalam labirin Villa Pisani di Stra? Jangan-jangan, benda ini keramat! Apakah ini praktik klenik terselubung? Benda ini toh sama janggalnya dengan polah tingkah orang-orang itu. Tapi aku tak mudah terkecoh. Aku buru-buru memalingkan muka, berusaha tak menghiraukannya, lantas mandi dan berpakaian.
Akan tetapi, sebelum beranjak keluar kamar mandi, rasa ingin tahuku mencungul kembali. Corong itu seakan-akan memanggilku. Tanpa sadar, aku dengan sendirinya merapatkan wajah ke corong itu. Oh, apa betul aku bisa mengungkapkan apa pun yang kuinginkan? Kalau demikian halnya, tak ada salahnya mencoba, kan? Maka dari itu, aku merangkai seutas kalimat lalu merisikkannya ke lubang corong dalam satu tarikan napas. Menguak satu sisi liarku.
“Aku benci para tetanggaku itu, mereka menyebalkan!”
***
Hari berikutnya, tak ada yang terjadi. Kehidupan bergulir seperti sediakala. Orang-orang masih saja mengantri untuk memakai kamar mandi. Namun demikian, ada perasaan aneh yang mengerubungi hatiku. Entah apa. Sulit untuk dicuraikan. Dan satu-satunya cara untuk memastikannya ialah menyambangi kamar mandi itu lagi.
Setelah meraih nomor antrian dan menunggu selama dua pekan penuh, kesempatanku akhirnya datang. Usai menerima ketukan pintu sebanyak dua kali, aku bergegas menuju kamar mandi Kos 24. Kali ini, bukan hanya peralatan mandi yang kubawa, melainkan juga sebuah kursi lipat untuk memikirkan secara matang apa yang hendak kutumpahkan.
“Atasanku makin tak tahu diri! Seenak jidatnya saja memotong gaji dan bonus!”
Perasaan absurd itu seketika kembali merebak selepas aneka umpatan kusemburkan dari dasar kerongkongan. Biarpun begitu, aku masih saja ingin melakukannya lagi dan lagi. Ada perasaan bersalah, tapi lega di saat yang bersamaan. Seperti ada sesuatu yang ingin menerobos keluar dari ragaku. Seumpama ada hal yang terus-menerus minta dipuaskan. Aku mengambil ancang-ancang, menggenggam kedua sisi corong, lalu memamerkan kebusukanku.
“Pacarku tak tahu diuntung! Bapakku keracunan judi, ibuku tukang serong! Aku benci rumah! Sekolah itu penjara! Orang miskin dilarang sakit! Kesehatan mental sebatas konten dan engagement! Dokter zaman sekarang cuma mau tahu soal fulus! Gaji lima juta itu butuh subsidi, gak perlu berlagak tajir! Arak lebih manjur daripada psikiater! Ah, kapan aku bisa meniduri videografer bohai itu?”
Kini, aku sudah terbiasa bolak-balik secara rutin. Aku sudah terlatih dengan seluruh prosedurnya. Tapi kunjunganku itu bukan untuk membasuh tubuh atau buang hajat, melainkan untuk mencurahkan apa pun yang kuinginkan. Lagi pula, siapa yang akan menghakimiku? Aku bahkan mulai menjinjing keranjang berisi camilan dan minuman ringan. Dengan semua ini, empat jam di dalam kamar mandi jadi tak terasa. Aku sekarang sudah tak malu-malu berbicara di hadapan corong itu. Aku justru lebih gemar meracau panjang lebar. Awalnya memang berbisik-bisik, tapi lama-kelamaan aku lebih suka berteriak senyaring mungkin di pangkal corong.
“Pemerintah bobrok! Pejabat-pejabat culas! Semua anggota kabinet itu benar-benar pantas ke neraka! Pulangkan semua aktivis dan pendemo yang hilang! Polisi tukang tembak dan doyan lindas! Tentara tidak bakal becus mengurus program makan siang! Mau sampai kapan BBM diotak-atik, bangsat! Jangan nebeng di atas popularitas Timnas, bedebah! Kalau mau bisnis, jangan pegang senjata! Ayo, kembalikan uang pajakku!”
Dan seterusnya.
Dua tahun telah berlalu. Setiap cerita niscaya memiliki penghabisan, seelok apa pun alurnya. Aku harus minggat karena tuntutan karir, dipindahtugaskan ke pulau seberang. Ketika aku berpamitan dengan Kos 24, seorang tetangga menyapa di depan gerbang dengan muka semringah. Kutebak, ia gembira setengah mampus lantaran antrian kamar mandi menyusut.
“Bagaimana? Apa sudah jadi pengumpat handal?”
***
Penggali kubur muda itu masih terpaku pada perangaiku selepas aku menanyakan informasi tentang corong pengumpat. Berulang kali ia mengusap dagu tanda bingung. Lantas kami saling berkenalan.
“Sebelumnya, di sini ada bangunan, kan?” tanyaku lagi tak sabaran.
“Oh, Bapak tidak keliru,” Jalu Kiswara menaruh sapunya. “Dahulu, di sini memang ada kos-kosan. Tapi sudah lama digusur.”
“Kenapa digusur?”
“Kurang paham, sih. Saya orang baru di sini.”
“Sayang sekali.”
“Tapi saya pernah mendengar mitos tentang tempat itu,” Jalu Kiswara melanjutkan, “konon, jumlah penyewa kos itu kian membeludak dalam tempo singkat. Dari belasan, hanya dalam enam bulan, ratusan orang berduyun-duyun datang bahkan dari luar kota, memboyong sanak saudara. Daerah ini pun tidak kondusif hingga memakan korban. Orang-orang saling bantai di sini, mengerikan!”
Syaraf-syarafku menegang. Aku mengelus tengkuk.
“Nah, karena menimbulkan kericuhan, warga sepakat untuk merobohkannya hingga rata. Berhubung pemerintah daerah butuh lahan saat pandemi yang lalu, jadilah pemakaman ini.”
Harapanku kini betul-betul pupus. Entah dari mana munculnya, kegelisahan tiba-tiba merundung. Ada kekecewaan hebat yang menjalar dari celah rusuk. Dan sungguh mati, semua ini pasti disebabkan oleh benda itu. Corong pengumpat jelas melimpahi jiwaku ketenangan. Di kamar mandi Kos 24, melalui pangkal corong itu, aku bisa menjadi gila tanpa diadili. Menjadi manusia seutuhnya.
“Jadi begitu, ya….” kataku lemas.
Jalu Kiswara menyambar perkakasnya.
“Para sesepuh kampung ini ada benarnya juga, lebih gampang mengurus orang mati.”
“Eh?”
“Coba tengok,” Jalu Kiswara menggosok hidungnya, “mereka lebih jago dalam memaknai ketenangan.”
Tak lama, aku mengucapkan terima kasih lalu minta diri. Ah, bisakah kau memberitahuku di mana corong pengumpat itu?