Jakarta, 13 Maret 2013. “Ibu Bumi Sampun Maringi, Ibu Bumi Dilarani”, begitu tulisan spanduk yang ditenteng emak. Pagi ini suasana Ibukota sibuk sekali, aku melihat orang-orang berpakaian rapi dengan dasi di leher dan baju dimasukkan ke celana menunggu kedatangan bus di seberang sana, terkadang sesekali bak pak polisi mereka memantau dan memotret kami. Tak seperti di Rembang, biasanya pagi-pagi begini yang kulihat dan kudengar hanya celotehan emak yang menggerutu agar aku bergegas siap-siap untuk berangkat sekolah, karena emak sudah ditunggu bapak untuk nandur pari.
“ Cung. Leh. kok ngelamun ae”, tegur emak yang membuyarkan lamunanku.
“Mboten, Mak, itu orang-orang podo macak apik-apik mau ke mana tho, Mak?”, tanyaku spontan setelah emak menepuk pundak kananku.
“Kui arep makaryo, Cung”, jawaban Emak dengan tangan masih menenteng spanduk hitam itu tadi.
Emak sendiri pagi ini berpakaian seperti biasa, layaknya petani hendak berangkat ke sawah, tapi bedanya caping yang dipakai berwarna hitam dengan tulisan “Kendeng Lestari”, baju kebaya hitam berbunga, dan jarik coklatnya yang dibeli dari pedagang batik di Pasar Tegaldowo.
“Mau bekerja kok apik bajunya, Mak, enggak seperti Emak sama Bapak, tiap mau berangkat bajunya sama, berangkat kotor pulang lebih kotor”
“Emak-Bapakmu ini kan petani, Cung. Jadi wajar kalo kotor, tiap pagi sampai siang kan di sawah, ketemu lumpur, keong, belut, kadang malah ular. Beda sama orang-orang itu, mereka kerjanya enak duduk-duduk saja sambil pegang apa itu, kompiuter, ber-AC lagi ruangannya”.
Celetukan yang sengaja Aku tanyakan tadi berakhir panjang lebar ditanggapinya. Hari ini, tepatnya hari Rabu, aku tidak bersekolah seperti biasanya. Teringat diriku hari ini adalah jadwal Mata Pelajaran Matematika yang diajar Bu Ika, bersyukurlah sehari lepas dari pelajaran menyebalkan itu. Aku memutuskan ikut emak dan para warga Desa Tegaldowo berangkat ke Jakarta, sedangkan Bapak menunggu di desa bersama para warga yang lain agar eskavator-eskavator kuning itu tidak masuk menerobos lahan. Sebenarnya aku tidak tahu mengapa emak dan para warga berangkat ke Jakarta, membawa banyak-banyak spanduk yang aku tidak tahu apa artinya, berdiri di seberang bangunan putih yang kata emak di situ Pak Presiden tinggal.
“Sebenarnya apa yang kita lakukan di sini, Mak? Katanya kemarin mau ke Monas”
“Lho, di belakangmu itu kan Monas, Cung. Kamu bisa lihat dari sini, kalo mau ya nanti sore, nggih.
“Ssstttt….Dengerin Pak Gun itu lagi ngomong”
Tak peduli dengan rengekanku, Emak menyuruhku untuk diam sembari mendengarkan Pak Gun berbicara dengan mic mengomandoi. Kata Emak, Pak Gun adalah sesepuh desa yang mengajak kami berangkat ke Ibu Kota. Awalnya, aku mengira kami warga desa ini akan berwisata seperti biasanya kala kami rombongan pergi ke Pantai Kartini, kali ini pergi melihat Monas.
“Pegunungan Kendeng Lestari!”
“Tolak Pabrik Semen di Kawasan Kendeng!”
“Jangan rampas ruang hidup kami!”
Teriak Pak Gun menggema membakar amarah para warga lain seiring makin meninggi-nya matahari pagi. Kali ini sudah banyak polisi mengerumuni kami, polisi-polisi itu berdiri di sudut-sudut barisan, ada yang mengamankan lalu lintas kemacetan akibat kerumunan kami dan ada yang berbincang mencoba akrab dengan beberapa warga. Hadirnya para wartawan turut menambah keramaian, kata Emak kami akan masuk televisi.
“Lhoo makkk, kok tiba-tiba kakinya diperban?”
Aku gugup ketika melihat kedua kaki para warga desa di perban dengan kain putih, termasuk Mbah Ijah, salah satu sesepuh wanita yang renta dari desa kami. Tak hanya Mbah Ijah, para wanita-wanita lain termasuk Emak turut mengikuti. Setelah kaki para wanita diperban mereka mulai memasukkan kakinya dalam wadah kayu berbentuk kotak, dibantu para warga lain yang bersamaan menuangkan adukan semen ke dalam kotak kayu yang diisi injakan kaki berperban tadi. Terlihat olehku merek semen yang dipamerkan: Semen Indonesia.
“Ndak papa, Cung. Iki mung sedelok” jawab emak menyahut kegugupanku.
“Sedulur-sedulur sekalian, kita tidak akan beranjak dari sini sebelum Bapak Presiden hadir menemui di sini!”
“Kita sudah tidak percaya dengan gubernur uwanen iku!”
“Katanya, ‘Tuanku, Ya, Rakyat’, gubernur cuma mandat. Sakjane rakyat opo korporat seh, Asuuu!”
Teriakan Pak Gun dan beberapa warga saling menyahut. Hari beranjak semakin siang, ada kabar burung bahwa kami akan dibubarkan kalau tidak segera pergi dari sini. Semangat para warga semakin terbakar, adukan semen di kaki semakin mengeras, tanda simbol perlawanan. Jika hari ini kami tidak digubris maka besok kami akan kembali, lebih lantang menyuarakan: Jangan rampas ruang hidup kami! Kami makan dari beras, bukan dari semen! Tolak pembangunan pabrik semen!
Ini adalah awal dari puluhan bagian perjuangan ibuku dan para Petani Kendeng. Nyaring. Lantang. Mempertahankan agar tidak menjadi buruh di tanah mereka sendiri.
Penulis: Zidni Nuron Ala, Mahasiswa Sosiologi UGM