JAKARTA – Komunitas GUSDURian Jakarta sukses mengemas diskusi literasi menjadi kegiatan yang relevan dengan tren anak muda masa kini lewat agenda walking tour interaktif bertajuk Book, Stamps & Discuss pada Sabtu (25/7/2026). Mengusung konsep jalan-jalan santai (street-walking), agenda ini mengajak generasi muda membahas isi buku Demokrasi Seolah-olah karya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara langsung di ruang publik kota.
Melalui metode berjalan kaki dan memanfaatkan transportasi umum, Gusdurian Jakarta mengajak peserta melihat bagaimana teori-teori dalam buku tersebut bermetamorfosis menjadi realitas sehari-hari. Sepanjang rute, mereka memotret bagaimana ruang publik dikelola, bagaimana warga berinteraksi, hingga menguji apakah esensi demokrasi benar-benar hidup di jalanan atau sekadar ”seolah-olah” ada. Di titik awal perjalanan, setiap peserta dibekali catatan menarik dari setiap bab dan mendapatkan suvenir khusus, serta cap resmi dari Gusdurian Jakarta.
Refleksi Teori Demokrasi dari Gang Manggarai hingga Sudirman
Diskusi dimulai pada titik pemberhentian pertama di Taman Amir Hamzah (Bab I: Perjuangan Demokrasi Kita) yang terletak di depan Griya Gus Dur. Titik ini menjadi ruang untuk membicarakan perjuangan demokrasi Gus Dur dan relevansinya dengan lingkungan sekitar. Gusdurian Jakarta menegaskan bahwa tradisi demokrasi yang substansial adalah mengutamakan kebenaran. Hal ini mengkritik realitas saat ini ketika demokrasi yang dijalankan kerap baru sebatas demokrasi kelembagaan yang kehilangan esensi tradisinya.
Dari taman, rombongan bergerak menelusuri gang-gang sempit menuju kawasan Manggarai. Di sepanjang rute ini, peserta menyaksikan langsung kontras dan perbedaan kelas sosial masyarakat yang nyata di depan mata. Perjalanan kemudian berlanjut ke kawasan Sudirman. Di area terbuka ini, kegiatan diselingi pembahasan singkat mengenai pentingnya ruang publik yang inklusif dan bermanfaat bagi aktivitas warga kota.
Rombongan kemudian singgah di Stasiun MRT Dukuh Atas (Bab II: Dinamika Demokratisasi) untuk melanjutkan perburuan stempel sekaligus membedah topik bertajuk ”Apa yang Kau Cari Golput?”. Diskusi di titik ini merefleksikan bahwa melakukan pemboikotan pemilu dapat membuat bangsa kehilangan keuletan berjuang. Namun, di sisi lain, rakyat kecil tidak bersalah karena kerap tidak memperoleh komunikasi yang cukup, padahal kepercayaan mereka terhadap pemilu sangat besar. Sebagai bangsa pejuang, masyarakat dinilai sanggup hidup dalam keadaan apa pun tanpa kehilangan akal sehat untuk membedakan mana yang benar dan salah.
Memahami Pluralisme dan Refleksi Bersama di Taman Kota
Pembahasan dilanjutkan pada Bab III tentang Agama dan Demokrasi yang mengambil lokasi di Gramedia Jalma, Blok M. Diskusi berfokus pada model legitimasi agama oleh negara, yakni ada agama yang diakui dan ada yang tidak diberi legitimasi. Gusdurian Jakarta mengingatkan kembali bahwa UUD 1945 menjamin kebebasan beragama bagi semua warga negara, bukan hanya Islam. Sumber hukum tertinggi di Indonesia hanyalah pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.
Memasuki Bab IV: Berkaca pada Demokrasi Negara Lain, rombongan tiba di Taman Bendera Pusaka, Blok M. Tempat ini menjadi titik akhir perjalanan sekaligus ruang refleksi mendalam. Setiap peserta mengutarakan kesimpulan masing-masing mengenai apa saja yang mereka temukan di jalanan, serta menguji apakah realitas di lapangan sudah sesuai dengan buku Gus Dur atau justru sebaliknya. Pembelajaran demokrasi dari negara lain dinilai penting agar pelaksanaan di dalam negeri bisa berjalan dengan lebih baik.
Penutupan yang Hangat dan Intimate di Sunyi Cafe
Seluruh rangkaian kegiatan walking tour literasi ini ditutup dengan suasana yang hangat dan santai di Sunyi Cafe. Tempat ini dipilih secara khusus karena mayoritas pramusajinya merupakan penyintas difabel (teman tuli), yang sejalan dengan nilai inklusivitas dan kemanusiaan ajaran Gus Dur.
Meskipun jumlah peserta terbilang terbatas, suasana justru terasa sangat intimate dan chill. Ruang ini berhasil menjadi wadah berjejaring dan saling mengenal satu sama lain secara lebih akrab. Melalui pendekatan yang segar ini, Gusdurian Jakarta berharap format kegiatan serupa dapat terus berjalan untuk menggaet para penggerak baru yang peduli pada isu sosial dan demokrasi. (SDH)
Penulis: Yohana (Penggerak GUSDURian Jakarta)