Sastra

Pulang Kampung


Oleh: Ayu Lestari

AKU lahir dan tumbuh di Desa Tandes, sebuah kampung kecil di sudut kota yang jauh akan asap rokok. Desa itu sangat sejuk. Setiap deretan rumah tetanggaku memiliki tanaman rambat dan buah-buahan seperti mandevilla, sirih gading, air mata pengantin, dan pohon pepaya. Kata ibuku, mandevilla adalah tanaman bunga. Hidupnya merambat ke samping, bentuknya seperti terompet, penampakannya elok dan mengkilap. Sementara sirih gading biasanya ditanam supaya bisa menyaring udara kotor di pinggir jalan, selain itu bisa digunakan untuk penyegar di sudut-sudut ruangan.

Sewaktu kecil, aku sering bermain dengan kelima temanku. Andrew, Bastian, Kristo, Emo, dan Ken. Kami selalu bermain bersama dari mulai ayam berkokok hingga senja hampir lenyap. Kami sering bermain di sawah, lapangan, bahkan di sekitar tempat ibadah.

Bermain bola adalah rutinitas kami. Kami sering bergantian untuk menjadi kiper, bek, maupun gelandang. Salah satu dari kami yang sering jadi kerupuk bawang yaitu Emo. Karena kepolosannya, ia selalu jadi sasaran empuk kelima teman-temannya, termasuk aku sendiri.

“Giring ke kanan, Ken. Aku di sini,” kataku kepadanya. “Kalau kamu giring sendiri bisa meleset nanti.”

Bola tiba di mata kakiku. Segera mungkin aku giring ke dekat gawang Andrew. Kristo yang mengetahui arah gerak seranganku langsung menghampiriku, merebut bola.

“Kamu tidak akan lolos kali ini, Umar.” Aku giring bola itu berputar-putar membelakangi Andrew. Dia mengikutiku sampai mencengkram bajuku. Hampir saja aku kehilangan kendali, terlihat ke kiri ada Bastian dengan kedipan matanya.

Tidak berlangsung lama, bola itu bergelinding dengan lancar. Tanpa basa-basi bola itu masuk dengan tancapan udara dan sorak sorai tepuk tangan teman-teman yang lain.

“Goooooooool. 2-0, Mar.”

“Iya, kamu hebat. Terima kasih.”

Mega mendung mulai datang, kami kompak mendongak ke atas langit. “Sebentar lagi sepertinya akan hujan. Ayo kita pulang.” Benar saja, tidak berselang lama keluar dari pintu lapangan, air hujan mengguyur kami berenam.

“Ayo cepat pulang, nanti masuk angin. Mamah dan Cik Lina pasti marah kalau sampai aku hujan-hujanan,” jawab Kristo.

***

“Ayah. Kenapa setiap manusia harus percaya tuhan dan memilih salah satu agama. Padahal Allah hanya satu?” tanyaku pada ayah ketika kami sedang dalam perjalanan di atas kereta. Waktu itu kami akan pergi ke kota untuk sebuah keperluan.

Belakangan, aku dan teman-teman kerap bertanya satu sama lain mengapa cara kami beribadah itu berbeda-beda. Meski sangat akrab, kami mulai menanyakan tentang agama, Tuhan, dan hal-hal yang membuat kami tampak berbeda.

Ayah diam sejenak seraya mendongak ke atas langit-langit kereta yang sedang melaju kencang. Sesekali menghela napas tatkala hendak menjawab pertanyaanku. Ayah menjawab dengan lugas bahwa tuhan hadir selayaknya sebuah hakikat yang pasti. Adanya tuhan karena kehendaknya. Semua ciptaanya yang indah dan bermanfaat bagi makhluk hidup adalah bentuk keesaanya.

“Maka dari itu. Apabila manusia itu berpikir dengan akal sehat, ia pasti percaya bahwa di alam semesta ini pasti ada penciptanya, yaitu Tuhan yang Maha Esa. Atau biasa kita sebut Allah,” ujarnya.

Aku masih tidak puas dengan jawaban ayah. “Lalu, mengapa harus ada bermacam-macam agama? katanya Allah itu satu.”

“Benar. Allah itu satu. Makanya manusia diberikan akal pikiran untuk bisa memilih agama yang akan dianut. Allah memberikan kebebasan untuk kita memilih agama mana yang pantas untuk dipilih.”

Mendengar jawaban ayah, aku mengangguk-anggukkan kepala dan bertanya kembali, “Apakah semua agama itu benar, Ayah?”

Percakapan itu terhenti. Kereta baru saja berhenti.

“Sudah sampai, Umar. Ngobrolnya dilanjut nanti saja, ya.” Aku terdiam dan berkedip pelan. Entah mengapa aku selalu penasaran dengan banyak hal, terutama menyangkut agama. Namun ayah selalu punya cara untuk mencicil penjelasan yang rasanya tak lelah aku tanyakan.

Tiba di stasiun, ayah dan aku menuju sebuah kedai langganan ayah. Kami memesan beberapa makanan dan minuman, karena memang dari pagi kami belum sempat sarapan karena harus berangkat sangat pagi. Sambil menunggu pesanan datang, aku menagih jawaban dari ayah, “Selanjutnya bagaimana, Yah? Tadi ayah belum sempat menjawab lagi pertanyaannya Umar.”

Ayah tersenyum lebar dan mengusap acak rambutku, “Kamu ini, ya. Tidak bisa kalau harus menunggu agak lama. Baiklah, jadi begini sayang. Agama itu mengajarkan kebaikan.”

“Lalu?”

“Contohnya seperti peta. Kalau seadainya Umar hendak ke suatu tempat namun tidak tahu jalan, apa yang harus Umar lakukan?”

“Tanya orang lain.”

“Tepat sekali. Bertanya dengan orang lain atau melihat petunjuk jalan. Itu mengapa alasannya Umar harus beragama sebagai arah hidup.”

Tak berhenti sampai di sana, aku kembali bertanya, “Kalau begitu, mengapa teman-temannya Umar tidak beragama Islam saja. Kata Ayah, tuhan itu satu.”

Ayah hanya tersenyum kecil dan menyentuh dagu mungilku, “Makanannya sudah jadi. Makan dulu.”

“Ah. Ayah tidak seru. Aku penasaran, nih.”

***

“Umar, ayo kita bermain.” Suara Emo dan Key memanggil. Mereka mengajakku bermain kelereng di dekat pohon beringin tepatnya di samping bangunan kantor Desa Tandes.Di sekeliling area pohon beringin juga terdapat pohon-pohon rindang seperti pohon pepaya, pohon jambu, pohon petai Cina, pohon mangga, dan juga pohon kelapa.

Aku mengangguk dan mengangkat kedua alisku. Namun sebelum pergi, “Ibu. Aku mau bermain bersama Emo dan Key di dekat pohon beringin. Boleh, kah?”

“Boleh. Asal pulangnya tidak mepet maghrib.”

Tiba di pohon beringin, ternyata Bastian dan Christo sudah ada menunggu kedatanganku. Kami semua bermain dengan suka ria. Sebanyak dua puluh kelereng dikumpulkan di dalam lingkaran yang sudah digambar menggunakan ranting kayu oleh Bastian.

“Kamu duluan, Umar.” Lagi-lagi aku memenangkan kelereng itu. Bulir kelereng itu melesat ke luar lingkaran. Emo sedih, karena dia belum bermain sama sekali.

“Duh, kalah lagi kalah lagi. Kamu menang terus, Umar. Gantian dong,” ujar Emo

“Eits. Tidak boleh marah dong. Kan Umar tidak curang,” kata Bastian.

“Iya, Mo. Udah ikhlasin saja kelerengmu itu. Kamu kan anaknya orang kaya. Nanti bisa minta cacikmu beli lagi,” tambah Key.

Emo terdiam. Aku tergelitik dengan teman yang selalu dijadikan anak bawang ini. Namun hari sudah mulai mendekati azan maghrib. Aku harus pulang. Aku tidak mau sampai ibu marah lagi.

“Teman-teman. Aku duluan, ya. Sudah mau maghrib.”

Mereka mengiyakan. Namun belum selangkah meninggalkan tempat itu, Emo dengan secepat kilat mencengkram lenganku, “Ada apa, Emo? Masih marah, kah?”

Dia menggelengkan kepalanya, “Aku hampir lupa. Besok hari Minggu Cik Lina menikah. Kamu besok kuundang ke acara pesta. Hadir ya, Mar.”

Kristo mendekati daun telinga Emo, dan berbisik, “Mengapa kamu undang Umar. Dia, kan orang muslim.”

Aku hanya tersenyum dan menjawab bisikan Kristo yang terdengar di telingaku, “Walaupun aku muslim, aku tetap temanmu, kan, Kristo?” Dia tersenyum. “Tentu saja.”

Keluarga Emo beretnis Tionghoa dan sebagian besar beragama Konghucu. Sebagian lainnya ada yang beragama Katolik. Emo pernah bercerita bagaimana keluarganya bergantian ke tempat ibadah yang berbeda-beda. Aku pun mengatakan akan izin kepada ibu. Jika diizinkan, aku tentu akan datang. Emo tampak sumringah.

***

Aku tersenyum menceritakan masa kecil ini kepada Hamida, istriku. Emo, Kristo, Andrew, Ken, dan Bastian. Apa kabar kalian semua, aku merindukan kalian. Sekarang aku selalu berkutat dengan tumpukan pekerjaan yang tidak kunjung selesai.

“Lalu, bagaimana kelanjutannya?” ujar Hamida.

“Ibu mengizinkanku pergi ke rumah Emo. Aku masih ingat sekali momen itu. Acara pernikahan Cik Lina digelar pagi hari mulai pukul delapan hingga menjelang malam. Sekira pukul 18.30 mereka selalu mengingatkanku untuk salat di ruang terpisah.”

Mataku berkaca-kaca. Hamida yang menyadari itu mencoba menenangkanku. Diriku memulai cerita kembali.

“Hingga akhirnya, pesta pun usai. Semua tamu bepergian meninggalkan rumah Emo. Waktu itu aku juga turut pulang. Di saat aku hendak keluar rumahnya, mama Emo memberikanku bingkisan yang sangat banyak. Padahal aku hanya anak kecil.”

Kemudian, mama Emo bilang, “Terima kasih, Umar. Kamu sudah mau datang. Berikan ini kepada ibumu.”

Hamida kembali bertanya. “Apa yang dikasih, sayang?”

“Ternyata itu paket sembako. Ibuku sampai sujud syukur. Waktu itu ibu butuh sekali persediaan bahan baku. Persediaan sembako mulai menipis semenjak ayah Nurman kehilangan pekerjaannya.”

“Masya A llah. Baik sekali mamanya Emo itu. Terus, mengapa kamu sekeluarga pindah ke sini?”

Desa Tandes adalah rumah pertamaku. Rumahku bertumbuh, rumahku belajar banyak hal. Namun peralihan kehidupan mau tidak mau harus dihadapi. Keadaan yang memaksa keluarga kami pindah ke desa yang kami tinggali saat ini. Jaraknya beberapa jam dari Desa Tandes. Sayangnya saat kami pindah aku belum sempat berpamitan dengan layak.

Tak lama setelah aku bercerita, tampak Hamidah menguap. Ia mengantuk.

Aku pun membiarkannya terbaring. Di sisi lain, cerita masa kecil itu membuatku merindukan mereka. “Kabar mereka bagaimana sekarang, ya. Aku sangat rindu,” ucapku pelan.

“Sampai kapan kamu harus sembunyi di dalam tempurung bersalahmu itu, Mas?”

“Lho, aku kira kamu sudah tidur?”

“Aku mendengar kalau kamu rindu teman-teman kecilmu. Mengapa tidak kau kunjungi saja mereka?” ujarnya. “Ayo, ke sanalah. Lepaskan rindumu itu,” pinta Hamidah.

***

Fajar mulai terbit. Ayam berkokok menandakan perlahan matahari akan segera datang. Teduh embun pagi meneduhkan pikiranku yang semula terasa kalut. Sambil merapikan selimut, aku menemui Hamida yang sibuk mengemasi perlengkapan menuju Desa Tandes.

Aku mengiyakan permintaannya tanpa berkata, karena memang kedua mataku sejujurnya masih berat untuk terbuka. Aku bergegas mengambil handuk dan segera ke kamar mandi. Jam menunjukkan pukul 06.30. Dua puluh menit lagi keretaku akan tiba. Aku tidak mau terlambat. Semua kebutuhan selama perjalanan sudah aman didalam tas ranselku berwarna hijau sage. Setelah berpamitan, aku pun bergegas ke stasiun.

Stasiun kereta kali ini cukup luas. Masih belum ada pedagang asongan yang hilir mudik menjajakan dagangannya. Aku mengantri dengan tenang, mencetak tiket hingga menunggu kereta jurusanku datang.

Tiga jam kutempuh, hingga akhirnya aku melihat kembali jalanan yang begitu tidak asing bagiku. Jalan setapak penuh cat warna warni. Tembok bermural. Namun sayang, lukisannya sudah lapuk termakan usia.

Aku menyusuri setiap rumah. Satu, dua, tiga. Mengapa asing sekali. Apa memang sudah sangat lama hingga aku tidak bisa mengenalinya lagi. Beberapa rumah sudah banyak dirombak. Hingga tersisa tiga rumah yang halamannya masih tetap seperti dulu: rumahku, rumah Pak Dadang, dan rumahnya Bastian. Lalu, dimana rumah Emo, Kristo, Bastian, dan Key?

Aku mengetuk pintu rumah Pak Dadang. Rupanya yang menyambutku adalah cucunya. Ia bingung, mengapa aku bisa kenal dengan kakeknya yang gempal itu. Hingga akhirnya aku dipersilakan masuk kepada istrinya Pak Dadang.

“Yang masih tinggal di sini Bastian, Mar. Semuanya sudah merantau jauh. Jam segini seharusnya sudah pulang. Ditunggu saja. Bagaimana kabarmu?”

“Baik, Bu. Alhamdulillah,” ucap Umar.

“Astungkara.”

Letak rumah Bastian dengan Pak Dadang tidak jauh.

Hanya berbatasan dengan polisi tidur. Terlihat sebuah motor sedan klasik melintas di rumah Pak Dadang.

“Nah. Itu dia Bastian sudah pulang,” kata Pak Dadang.

“Iya, Pak. Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu. Saya mau silaturahmi dengan Bastian, Pak, Bu.”

“Silakan,” ucap Pak Dadang beserta istrinya.

***

Aku tersenyum ke arah Bastian. Aku terdiam sejenak, mengatur napasku yang semakin berdegup kencang. Mataku sudah mulai berkaca-kaca, sempat ku tahan namun akhirnya leleh juga

“Selamat sore, Bapak Bastian.”

“Selamat so.., lah, Umar? Ya ampun. Ini benar Umar?” Cengkeraman tangannya membuatku meringis kesakitan.

“Iya, Bas. Maaf, aku menghilang tanpa kabar.”

“Memang! Kurang ajar kamu, Mar.”

Tinju yang mendarat di lengan tangan atasku dan eratnya pelukan Bastian terhadapku membuat seluruh pertahananku luruh. Aku terdiam kaku di setiap tepukan di punggungku. Terdengar isak tangis membuatku merasakan hal yang sama.

Saking panjangnya, senja perlahan lenyap di permukaan langit. Ia bercerita tentang kehidupannya. Sore itu, ia tengah memimpin rapat di kantor. Ia bekerja sebagai kontraktor bangunan. Ia harus banting stir dan banting tukar untuk menghidupi adik-adiknya selepas mama papanya meninggal dunia.

“Kangen aku sama kamu.”

“Sama, Bas. Aku kangen sama kamu. Kangen sama teman-teman yang lain. Maafin aku. Maaf aku su….”

“Hus. Tidak perlu dibahas lagi. Yang berlalu biarlah berlalu.”

Desa Tandes selalu menjadi alasanku untuk kembali. Memeluk kenangan semasa kecil dan hangatnya kebersamaan yang tak pernah aku dapatkan mereka semua mengajarkanku tentang sebuah keragaman dan keberagamaan.

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian