Sastra

Tuhan di Rumah Kardus

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

GANG itu sempit, lembab, dan selalu berbau campuran antara air got, asap dapur, dan sabun murahan. Di kanan kiri, berdiri rumah-rumah yang lebih mirip tempelan daripada bangunan, dengan dinding triplek, kardus, dan sisa seng yang sudah berkarat. Orang-orang menyebutnya rumah kardus, bukan sekadar karena bahan bangunannya, tetapi karena rapuhnya kehidupan yang bernaung di dalamnya.

Amira tinggal di salah satu rumah itu, bersama dua anak perempuannya. Rumahnya hanya terdiri dari dua ruang kecil yang disekat kardus tebal yang sudah mulai melengkung karena lembab. Jika hujan turun deras, suara tetesannya seperti ribuan jarum yang menghujam atap seng, membuat percakapan harus ditinggikan, bahkan doa pun sering tenggelam sebelum sampai ke langit. Namun, Amira sudah terbiasa. Ia hidup di sana sejak suaminya meninggal, dan sejak itu pula ia belajar bahwa bertahan bukan soal kenyamanan, melainkan soal pilihan yang tak pernah benar-benar ia punya.

Usianya empat puluh delapan tahun, tetapi wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kecantikan yang tidak mudah luntur. Kulitnya putih, halus, dan garis-garis halus di wajahnya justru membuatnya tampak lebih lembut daripada renta. Banyak orang yang pertama kali melihatnya mengira ia baru memasuki usia tiga puluhan.

Namun, kecantikan itu tidak pernah membawa sesuatu yang benar-benar tinggal. Lelaki datang dan pergi. Mereka tidak pernah datang untuk masa depan, hanya untuk sepotong kehangatan yang mereka pinjam. Mereka datang dengan lelah yang tak bisa mereka ceritakan di rumah sendiri, dan Amira menjadi tempat mereka menaruhnya, meski hanya sementara.

Setiap sore menjelang senja, Amira mulai bersiap. Ia menyapu lantai, merapikan tikar, menyiapkan minyak pijat yang baunya samar-samar mengingatkan pada masa lalu. Di siang hari, rumah itu terlalu panas, seperti oven yang memerangkap napas. Tidak ada pelanggan yang mau datang dalam keadaan seperti itu. Maka malam menjadi waktu kerjanya, waktu di mana panas mulai turun, dan kesunyian memberi ruang bagi orang-orang untuk mencari pelarian.

Amira punya tiga anak. Anak sulung Amira, Dedi, seorang laki-laki, bekerja di pabrik di luar kota. Ia pulang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali, kadang tidak sama sekali. Kehidupan di pabrik menelannya seperti mesin yang tak mengenal jeda. Ia jarang bicara banyak ketika pulang, hanya makan, tidur, lalu pergi lagi.

Anak keduanya, Rani, kelas sebelas SMA, biasanya membantu membuka toko kecil di bagian depan rumah. Toko itu tidak lebih dari etalase sederhana dengan rak-rak kayu yang berisi sabun, sampo, kopi sachet, mie instan, dan beberapa obat nyamuk. Anak bungsunya, Agil, masih kelas empat SD. Ia sering duduk di depan rumah sambil mengerjakan PR atau sekadar menggambar di kertas bekas.

Suaminya meninggal delapan tahun lalu, pada musim hujan yang panjang dan bau tanah basah yang seperti tidak pernah pergi dari gang itu. Namanya Karim, seorang kuli bongkar muat di pasar induk yang tubuhnya perlahan habis dimakan batuk dan kelelahan. Ia bukan lelaki yang pandai bicara, tetapi tangannya selalu tahu cara bekerja.

Karim meninggal di rumah sakit, yang Amira ingat dari rumah sakit itu, yang cat dindingnya mengelupas dan lorongnya dipenuhi bau obat-obatan. Saat itu, hujan turun deras sejak sore, dan Amira duduk di lantai lorong sambil memangku Agil yang masih balita. Dokter mengatakan paru- paru Karim sudah terlalu rusak akibat terlalu lama menghirup debu dan asap kendaraan. Amira tidak menangis ketika mendengar kabar itu. Ia hanya memandangi tubuh suaminya yang tiba-tiba tampak sangat ringan, seolah sebagian hidupnya telah pergi lebih dulu sebelum nafas terakhir benar-benar selesai.

Sejak itulah hidup berubah menjadi sesuatu yang harus ditawar setiap hari. Tabungan tidak ada. Utang kecil mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan. Ada uang listrik yang tertunggak, biaya sekolah, dan kebutuhan dapur yang terus meminta dipenuhi meski isi dompet tinggal recehan. Amira sempat mencoba bekerja mencuci pakaian di rumah orang, tetapi tubuhnya tidak cukup kuat mengangkat ember- ember besar setiap hari.

Suatu malam, seorang perempuan tua bernama Bu Lastri datang menemuinya. Perempuan itu tinggal di ujung gang dan dikenal semua orang sebagai tukang pijat langganan sopir truk dan buruh pasar. Wajahnya keras, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang mirip belas kasihan. Ia duduk di lantai rumah Amira sambil menyeruput kopi pahit, lalu berbicara pelan tentang pekerjaan yang bisa menghasilkan uang lebih cepat daripada mencuci pakaian. Amira tahu arah pembicaraan itu bahkan sebelum Bu Lastri selesai menjelaskan.

Awalnya Amira menolak. Ia merasa tubuhnya adalah satu- satunya hal yang masih tersisa dari harga dirinya. Namun, hidup seringkali membuat manusia memilih bukan berdasarkan benar atau salah, melainkan berdasarkan lapar atau tidak lapar. Ketika Rani sakit demam selama tiga hari dan ia tidak punya uang membeli obat, penolakannya mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Hidup ternyata tidak memberi waktu terlalu lama untuk merasa jijik pada diri sendiri. Hari demi hari berjalan, dan pekerjaan itu perlahan berubah menjadi rutinitas yang pahit. Ia belajar memisahkan hati dari tubuhnya. Lelaki-lelaki yang datang kebanyakan membawa wajah lelah dan mata kosong. Ada sopir angkot, satpam pabrik, pedagang pasar, bahkan pegawai kantor yang diam-diam datang malam hari agar tidak dikenali siapa pun.

Kadang ada pelanggan yang hanya ingin dipijat sambil bercerita tentang hidupnya. Ada lelaki tua yang menangis karena anak-anaknya tidak pernah pulang menjenguk. Ada buruh bangunan yang baru saja diceraikan istrinya. Ada juga pemuda mabuk yang tertidur sebelum Amira sempat memijatnya. Amira mendengarkan semuanya seperti sumur tua yang menampung berbagai suara manusia.

Di kampung itu, semua orang sebenarnya tahu pekerjaan Amira. Namun, mereka memilih diam seperti ada kesepakatan tak tertulis untuk saling menjaga. Ibu-ibu masih membeli sabun di warung kecilnya. Anak-anak masih bermain di depan rumahnya. Bahkan Pak RT masih menyapanya setiap pagi sambil membawa rokok di sela jari. Kemiskinan membuat orang-orang di sana mengerti bahwa hidup terlalu rumit untuk dihakimi hanya dari satu sisi.

Meski begitu, bukan berarti Amira tidak pernah merasa terluka. Ada malam-malam ketika ia mendengar bisik-bisik orang lewat di depan rumahnya. Ada perempuan yang sengaja menarik suaminya menjauh ketika melewati gang itu, seolah Amira adalah penyakit menular.

Setelah semua pelanggan pergi dan rumah kembali sunyi, ia sering duduk memandangi tangannya sendiri sambil bertanya apakah Tuhan masih mau melihat perempuan seperti dirinya. Pertanyaan itu semakin sering datang ketika ia melihat Agil tidur. Anak kecil itu punya kebiasaan memeluk bantal tipis sambil mengigau tentang sekolah dan cita-citanya.

Suatu malam, Agil pernah bertanya polos apakah ayahnya sekarang tinggal di langit bersama Tuhan. Amira mengangguk sambil tersenyum, meski dadanya terasa sesak.

***

Suatu sore menjelang magrib, hujan turun sangat deras

hingga air got meluap masuk ke rumah-rumah. Orang-orang sibuk mengangkat barang agar tidak hanyut. Kardus-kardus di dinding rumah Amira mulai basah dan melengkung. Rani panik menyelamatkan buku-buku sekolahnya, sementara Agil memeluk kotak pensilnya erat-erat. Di tengah kekacauan itu, tetangga-tetangga berdatangan membantu tanpa diminta.

Pak Jaya yang Kristen membantu memperbaiki atap bocor. Bu Sari yang Muslim membawa nasi bungkus untuk mereka makan malam. Sementara Ahok, lelaki tua keturunan Tionghoa di ujung gang, datang membawa papan kayu bekas untuk menahan air agar tidak masuk lebih jauh ke rumah.

Malamnya, setelah hujan reda, Amira duduk sendirian di depan rumah. Gang itu masih basah dan memantulkan cahaya lampu kuning yang redup. Dari dalam rumah, terdengar suara Agil tertawa kecil mendengar cerita Rani. Untuk sesaat, kelelahan hidup terasa menjauh. Amira menengadah ke langit yang hitam, dengan tatapan kosong.Namun, di dalam dadanya, ia seperti mendengar jawaban pelan yang selama ini ia cari.

Mungkin Tuhan memang tidak tinggal di bangunan megah dengan lantai marmer dan pendingin ruangan. Mungkin Tuhan justru berdiam di tempat-tempat paling rapuh, di rumah kardus yang bocor ketika hujan, di tangan-tangan tetangga yang saling membantu, di anak kecil yang masih bisa menggambar matahari meski hidupnya gelap.

Kampung itu mungkin kumuh di mata orang luar, tetapi ia memiliki cara sendiri untuk menjaga kehidupan tetap hangat. Di sana, suara adzan dari mushola kecil sering bertumpuk dengan dentang lonceng gereja tua di ujung jalan besar. Kadang, pada malam tertentu, aroma dupa dari rumah keluarga Tionghoa bercampur dengan bau gorengan dan kopi hitam dari warung-warung kecil.

Ketika bulan Ramadan datang, keluarga non muslim sering ikut membangunkan sahur dengan memukul kentongan bambu keliling gang. Anak-anak muda Kristen dan Hindu membantu memasang lampu-lampu sederhana di depan mushola menjelang Idul Fitri. Sementara ketika Natal tiba, ibu- ibu muslim ikut membantu membuat kue di rumah Bu Maria, perempuan tua yang tinggal sendirian sejak suaminya meninggal.

Amira sering merasa kampung itu seperti keluarga besar yang aneh, penuh kekurangan tetapi saling menjaga. Ia ingat suatu malam Natal ketika hujan turun deras dan listrik mati hampir seluruh kampung. Gereja kecil di dekat pasar tidak bisa menyalakan pengeras suara karena genset rusak. Tanpa diminta, beberapa pemuda musala datang membawa kabel dan aki bekas agar ibadah tetap bisa berlangsung. Mereka bekerja dalam gelap sambil bercanda dan tertawa.

Pak RT pernah berkata bahwa orang miskin tidak punya cukup tenaga untuk saling membenci terlalu lama. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi diam-diam tinggal di kepala banyak orang. Di kampung mereka, semua orang sama-sama pernah lapar, sama-sama pernah sakit tanpa uang berobat, dan sama-sama tahu rasanya kehilangan pekerjaan.

Di kampung itu, perbedaan agama kadang justru menjadi alasan untuk saling mengenal lebih dekat. Orang-orang merasa hidup akan terlalu sempit jika hanya dipenuhi orang yang sama dengan dirinya sendiri.

Amira sendiri sering merasa heran melihat bagaimana kampung itu bertahan di tengah dunia yang semakin mudah marah. Ia pernah menonton berita tentang kerusuhan agama di televisi tua warung kopi dekat pasar. Orang-orang membakar rumah ibadah, saling melempar batu, dan berteriak atas nama keyakinan masing-masing. Setelah melihat semua itu, Amira pulang dengan dada sesak. Ia membayangkan betapa mengerikannya jika kebencian seperti itu masuk ke gang mereka.

Namun pagi harinya, ia melihat Bu Maria sedang duduk mengobrol dengan Bu Sari sambil memotong sayur bersama. Di ujung gang, Ahok tertawa mendengar candaan Pak Made soal harga cabai yang naik. Anak-anak kecil bermain layang-layang tanpa peduli agama teman-temannya. Kehidupan kembali berjalan sederhana seperti biasa, dan Amira merasa dunia luar kadang terlalu rumit dibanding kampung kecil mereka.

“Bu,” tanya Agil, sebelum ia tidur, “Adakah Tuhan di rumah kardus?”

Amira yang sedang menyiapkan minyak pijat berhenti sejenak. Ia menoleh, melihat anaknya yang sudah berselimut tipis, matanya setengah terpejam, tetapi masih menyimpan rasa ingin tahu.

“Kenapa tanya begitu?” suara Amira lembut, tetapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.

“Temanku bilang Tuhan ada di tempat yang bagus,” jawab Agil. “Di masjid besar, di gereja besar. Rumah kita kan jelek, Bu. Tuhan mau ke sini nggak?”

Amira tidak langsung menjawab. Ia duduk di samping Agil, mengusap rambutnya perlahan. Di luar, langkah kaki seseorang mulai terdengar, mungkin pelanggan yang sudah datang lebih awal.

“Tuhan itu tidak pilih-pilih tempat. Kalau kita baik, Tuhan pasti hadir.”

Agil mengangguk, seolah jawaban itu cukup, atau mungkin ia terlalu lelah untuk bertanya lagi. Tak lama kemudian, nafasnya mulai teratur, menandakan ia sudah tertidur.

Amira berdiri, menarik napas panjang, lalu kembali ke pekerjaannya.

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, pelanggan datang silih berganti. Mereka membawa cerita yang tidak pernah selesai, keluhan tentang tekanan kerja di kantor, atau tentang istrinya yang selalu membantah jika dimintai tolong untuk memijat. Amira mendengarkan tanpa banyak bertanya, memijat dengan penuh perhatian, seolah setiap sentuhan adalah bentuk jawaban yang tidak perlu diucapkan.

Waktu berjalan tanpa terasa. Jam menunjukkan hampir pukul empat dini hari ketika pelanggan terakhir pergi. Amira menutup pintu perlahan, memastikan tidak ada yang tertinggal. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya masih terjaga.

Ia teringat pertanyaan Agil. Adakah Tuhan di rumah kardus?

Pagi datang perlahan. Cahaya matahari menembus celah- celah dinding, menciptakan garis-garis tipis yang jatuh di lantai. Rani sudah bersiap berangkat sekolah, sementara Agil masih mengucek mata.

Hari itu terasa seperti hari biasa, sampai tiba-tiba terdengar keributan di ujung gang.

Orang-orang berlari, berteriak, memanggil satu sama lain. Asap mulai terlihat, tipis, lalu semakin tebal. Seseorang berteriak bahwa ada kebakaran.

Api menjalar cepat di kampung itu, seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk dilepaskan. Rumah kardus, dengan segala kerapuhannya, menjadi bahan bakar yang sempurna. Dalam hitungan menit, api sudah melahap beberapa rumah.

Amira panik. Ia menarik Agil dan Rani keluar, berusaha menyelamatkan apa pun yang bisa ia bawa. Tetapi api lebih cepat dari tangan manusia.

Dalam kekacauan itu, Amira melihat sesuatu yang membuatnya membeku.

Di dalam rumahnya yang mulai dilahap api, di balik sekat kardus yang hampir runtuh, ada sosok kecil yang tidak bergerak.

Agil.

Ia berlari masuk tanpa berpikir. Panas menyengat, asap membuat napas terasa seperti terbakar.

Ia memanggil nama anaknya, suaranya tenggelam dalam gemuruh api. Ia menemukan Agil terbaring, pingsan, mungkin karena asap. Dengan sisa tenaga, Amira mengangkatnya, berusaha keluar.

Tetapi jalan yang tadi ia lewati sudah tertutup api.

Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.

Ia memeluk Agil erat, tubuhnya melindungi anaknya dari panas yang semakin mendekat. Di tengah kobaran itu, di antara suara retakan kayu dan jeritan orang-orang di luar, Amira tiba- tiba teringat pertanyaan itu lagi.

Adakah Tuhan di rumah kardus?

Ia tersenyum tipis, meski matanya basah.

“Kalau ada,” bisiknya pelan, “jangan di sini. Bawa anakku saja.”

Api semakin mendekat.

Dan di luar, orang-orang masih berteriak, masih berusaha, masih berharap.

Ketika akhirnya api padam, yang tersisa hanyalah abu, dan sisa-sisa kayu hangus.

Orang-orang berkumpul, menghitung siapa yang selamat. Rani berdiri di antara kerumunan. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ia mencari ibunya, mencari adiknya, tetapi yang ia temukan hanyalah serpihan rumah yang dulu mereka sebut tempat pulang.

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian