Jika kita membuka media sosial hari ini, linimasa hampir tidak pernah sepi dari keriuhan. Isinya tak jauh dari perang komentar antar-pendukung, aksi saling lapor hanya karena tersinggung, hingga kekesalan warganet terhadap berbagai kebijakan publik yang dirasa makin aneh.
Di tengah kebisingan digital yang sering membuat kepala dingin jadi panas, tidak ada salahnya kita menoleh sejenak ke belakang. Kita perlu membaca kembali jejak K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, sosok berpengaruh yang dijuluki ad-Dakhil (Sang Penakluk). Uniknya, Gus Dur menaklukkan kekakuan politik dan benturan pandangan bukan dengan amarah atau gertakan, melainkan dengan humor dan tawanya.
Bagi Gus Dur, humor bukan sekadar guyonan pelepas lelah atau pelarian dari kenyataan. Humor adalah “obat waras” untuk menjaga kejernihan hati dan kesehatan pikiran di tengah hiruk-pikuk dinamika berbangsa. Pendekatan ini bisa saja menjadi penawar untuk meredam budaya gampang marah yang hari ini menjangkiti dunia maya.
Seni Menjadi Hamba Profesional di Era Baperan
Salah satu penyakit kronis di media sosial hari ini adalah budaya gampang tersinggung alias baper (bawa perasaan). Warganet—bahkan hingga para pejabat negara—seringkali terjebak dalam pusaran pujian dan cercaan algoritma. Ketika disanjung mereka melayang, tetapi ketika dikritik sedikit saja mereka langsung berang, bahkan tak ragu memakai kekuasaan untuk membungkam lawan bicara.
Gus Dur pernah melempar sentilan menohok untuk menyentil kondisi ini: “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran”. Pernyataan ini menjadi cermin bagi fenomena cyberbullying maupun kehausan akan validasi digital saat ini, di mana harga diri seseorang seolah ditentukan oleh jumlah suka, komentar, dan pengikut di layar kaca gawai.
Gus Dur sendiri memperagakan secara nyata bagaimana menjadi seorang “hamba professional” yang berdiri kokoh di atas prinsip. Gus Dur tidak goyah ketika popularitasnya merosot, tidak dendam saat dilengserkan dari kursi kepresidenan, dan tidak gentar meski diserang berbagai tuduhan miring. Beliau bahkan santai ketika menghadapi tuduhan sebagai musuh umat Islam saat memutuskan bergabung dengan Yayasan Shimon Peres, karena Gus Dur paham betul bahwa yang sedang diperjuangkannya adalah dialog perdamaian global.
Nampaknya, kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan tidak menggantungkan harga diri pada penilaian manusia adalah kunci kewarasan utama yang diwariskan Gus Dur. Jika saja para pejabat dan warganet hari ini memiliki kelapangan dada serupa, ruang publik kita tentu tidak akan menghadirkan ketegangan, keriuhan bahkan penghakiman sepihak.
Humor sebagai Senjata Kritik
Di era sekarang, kritik politik rakyat sering kali memadat dalam bentuk meme, vidieo parodi, atau utas satire di media sosial. Jauh sebelum platform digital lahir, Gus Dur sebenarnya telah memperagakan fungsi meme ini lewat seloroh-seloroh lisan yang tajam namun Jenaka. Sebut saja sindiran legendarisnya yang menyamakan anggota DPR dengan ‘anak TK’ karena perilaku para wakil rakyat yang dianggap kekanak-kanakan.
Ketika pernyataan tersebut menuai protes keras dari para politikus Senayan, Gus Dur tidak lantas membalasnya dengan emosi atau amarah yang berlebihan. Gus Dur justru meresponya dengan permintaan maaf yang santai dan jenaka. Sebagaimana tercatat dalam harian Kedaulatan Rakyat edisi 19 November 1999, Gus Dur menyampaikan: “Jadi kalau ada ucapan saya yang tidak dipahami oleh anggota dewan, saya minta maaf. Kok repot-repot, nggak usah marah-marah lah.” Namun, repons santai ini nampaknya masih menjadi perdebatan di sebagian anggota dewan saat itu.
Seloroh Gus Dur mengenai DPR sejatinya mencerminkan kejujuran dan keterbukaan sikapnya. Kritik tersebut disampaikan secara jenaka tanpa niat menjatuhkan, melainkan sebagai imbauan konstruktif agar para wakil rakyat lebih dewasa dalam bersikap. Ironisnya, reaksi sebagian anggota dewan justru makin mempertegas sindiran ‘anak TK’ tersebut—mereka gampang emosional, egois, serta reaktif dan ‘kebakaran jenggot’ begitu ganti di-smash oleh Gus Dur.
Langkah Gus Dur menunjukkan bahwa humor merupakan alat kontrol sosial dan kritik politik yang sangat elegan. Humor memang tidak dirancang untuk menggulingkan kekuasaan secara langsung, tetapi humor bisa jadi meruntuhkan keangkuhan serta kekakuan rezim yang merasa benar sendiri. Melalui kacamata Gus Dur, meme dan konten satire yang beredar tentang absurditas pernyataan pejabat saat ini bukanlah bentuk makar atau kejahatan siber. Sebaliknya, itu adalah cara rakyat mempertahankan kewarasan. Humor membantu kita melihat bahwa kekuasaan itu tidak sakral dan sangat boleh ditertawakan agar para pemangkunya tidak menjelma menjadi tirani yang menindas.
“Gitu Aja Kok Repot” sebagai Manifestasi Keikhlasan
Jargon legendaris Gus Dur “Gitu aja kok repot” bukan sekadar kalimat santai untuk mengakhiri pembicaraan, melainkan sebuah filosofi hidup untuk tidak menyulitkan hal yang mudah dan tidak membesar-besarkan yang sepele. Nampaknya filosofi ini lahir dari gaya hidupnya yang egaliter; seorang yang pernah menjadi cleaning service kapal tanker di Belanda ini tidak melihat jabatan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian.
Gus Dur membedah kerumitan politik dengan logika kemanusiaan yang sederhana: jika sesuatu bisa dibuat mudah demi maslahat rakyat, mengapa harus dipersulit dengan sekat birokrasi atau ego kekuasaan? Bagi Gus Dur, politik yang tidak didasari oleh moralitas dan keikhlasan hanya akan melahirkan ketimpangan serta dominasi kepentingan kelompok sempit.
Melalui prinsip “Gitu aja kok repot”, Gus Dur mengajarkan kita untuk menyaring setiap kegaduhan di media sosial dengan hati yang tenang dan jernih, sehingga kita tidak mudah terjebak dalam pusaran konflik yang tidak substansial bahkan gampang marah untuk menghukumi sesuatu yang dianggap berbeda.
Pada akhirnya, menertawakan absurditas politik lewat kacamata humor Gus Dur adalah upaya untuk menemukan kembali jangkar kemanusiaan kita di tengah badai informasi digital. Di atas segala keriuhan perebuatan pengaruh dan narasi kebencian di layar gawai, ada martabat manusia yang harus tetap dimuliakan. Meneladani Gus Dur berarti sepakat untuk memanusiakan siapa saja di balik layar—menolak jadi pembenci, dan memilih tetap menjadi manusia utuh yang jenaka sekaligus bijaksana. (SDG)