Oleh: Fransiskus Sardi
OSE kaget melihat rumah mewah digusur. Beberapa dinding beton dirobohkan. Debu-debu beterbangan menutup langit yang masih siang, tapi terasa seperti sore yang lelah. Sejak awal ia turun di bandara dan menginjakan kakinya di kota istimewa ini, udara terasa begitu pengap.
Jalan-jalan raya diperlebar. Tanah dikeruk. Tiang-tiang beton berdiri kokoh di pinggir jalan, seolah tumbuh dari perut bumi tanpa permisi. Ada jalan di atas jalan. Indah mengagumkan sekaligus menakutkan bagi Ose. Ia merasa seperti orang asing di negerinya sendiri.
Bagi Ose, anak kampung yang tumbuh dengan pemandangan rumah beratapkan alang-alang, berdinding bambu, dan hamparan sawah, ladang, serta laut Flores yang biru, semua itu tampak seperti kegilaan manusia urban. Ia tidak sedang melihat pembangunan. Ia merasa sedang menyaksikan dunia yang serba tergesa-gesa.
***
Selepas turun dari kereta api, Ose tidak kehabisan bahan pertanyaan. Seolah-olah sedang sedang belajar filsafat, bertanya baginya bukan pilihan, melainkan gugatan keharusan. Pertanyaan itu tetap hinggap meski Timo, sahabatnya, sudah terlihat melambaikan tangan di ujung sana.
Beralaskan sandal Jepit yang lusuh dan tipis, Ose berjalan pelan mengikut Timo di stasiun menuju parkiran motor. Langkah Ose beberapa kali tertahan karena ia kerap berhenti untuk menatap papan penunjuk jalan, layar digital yang menampilkan iklan, atau sekadar memandangi lalu-lalang manusia dengan pakaian yang menurutnya aneh-aneh.
Di tangan kanannya, Ose menenteng tas berisi pakaian. Tak lupa juga ia membawa oleh-oleh kopi Colol untuk Timo, teman lamanya itu. Kopi yang ditanam di tanah vulkanis subur Manggarai Timur itu menjadi permintaan Timo satu-satunya ketika sebulan lalu Ose mengabari lewat pesan suara singkat bahwa ia akan datang ke Yogyakarta.
Timo melangkah lincah di depan Ose. Tubuhnya sedikit lebih berisi dibanding lima tahun lalu saat pertama kali pamit meninggalkan pelabuhan Aimere. Timo mengeluarkan motornya dari antara deretan ratusan motor lain yang tertata rapi di parkiran, dan bersiap-siap mengantar Ose ke tempat penginapannya. Ose terperangah melihat begitu banyak kendaraan. Di kampungnya, motor bisa dihitung jari, dan diparkir di bawah pepohonan rindang, tanpa kawalan penjaga.
Ose memperhatikan Timo mengeluarkan uang dua ribu dari saku celananya. Timo menyerahkan uangnya ke seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri persis di samping Ose dan Timo.
“Kurang, Mas,” ujar tukang parkir dengan rompi mirip polisi itu. “Parkirnya jadi empat ribu lima ratus, udah lebih dari lima jam!”
Timo menghela napas pendek, sebuah helaan napas yang sudah terlatih menghadapi birokrasi kecil jalanan kota. Ia kembali merogoh sakunya, menemukan selembar uang lima ribu rupiah yang lebih bersih, lalu menarik kembali uang dua ribuan tadi dan menyerahkan uang lima ribuan itu ke tangan si tukang parkir.
“Matur nuwun, Pak. Simpan aja kembaliannya, nggeh,” ujar Timo dengan Bahasa Jawa logat Flores.
Ose memperhatikan transaksi itu dengan dahi berkerut. Ia tidak mengerti apa-apa. Mengapa uangnya lebih? Mengapa kembaliannya tidak diminta? Ose mengira-ngira sama seperti di Flores, umumnya uang lima ratusan koin tidak sering digunakan, bahkan pemilik-pemilik kios tidak menerima uang koin receh.
“Mungkin dia polisi e… banyak juga uangnya eee, kalau satu motor dibiayai lima ribu,” Ose membatin dalam kebingungan.
***
Motor melaju pelan, membelah jalanan kota yang penuh kebisingan. Mata Ose terpukau oleh bangunan indah hotel di pinggir jalan, oleh kaca-kaca tinggi yang memantulkan cahaya matahari sore. Anak kampung yang sepanjang hidupnya hanya terbiasa menatap hamparan sawah hijau dan kejernihan laut Flores, kini menyaksikan keajaiban budaya yang hebat. Ose disuguhi simbol-simbol fisik dari apa yang dinamakan kemajuan peradaban dunia manusia modern.
Ada rasa bangga yang menyelinap di dada Ose. Ia bangga karena kakinya yang terbiasa tanpa alas kaki ke ladang dan sawah, akhirnya bisa berdiri di kota yang konon pernah jadi ibu kota negara, menyaksikan pemandangan beton-beton raksasa yang seolah tumbuh liar dan cepat bak jamur di musim hujan yang biasa ia petik di hutan kampungnya.
Keajaiban arsitektur kota ini seketika melempar imajinasi Ose pada sebuah dongeng kuno tentang Roro Jonggrang dan seribu candi yang dibangun dalam semalam oleh pasukan jin, kisah yang pernah ia dengar dari guru Bahasa Indonesianya waktu duduk di bangku SMP. Bagi Ose, gedung-gedung tinggi ini pasti dibangun dengan cara yang sama, melibatkan kekuatan magis yang tak masuk akal bagi nalar seorang petani kampung.
“Apa kira-kira pekerjaan yang cocok untuk saya kalau saya tinggal di sini eee Timo, bagus ini kota, rame sekali?” tanya Ose lagi.
“Jadi debt collector.”
“Apa itu eee?”
“Tukang tagih utang! Orang-orang dari pulau kita banyak yang ambil kerjaan itu di sini. Kerjanya gampang. Datangi rumah orang yang utang kredit motor atau mobil, atau pinjam uang tidak bayar, lalu minta pake gaya bicaranya kita, keras- keras supaya mereka takut dan bayar,” jelas Timo sambil terus mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, melewati beberapa persimpangan yang padat.
“Kalau tidak, jadi penjaga tanah bermasalah,” ujar Timo lagi.
Jawaban itu menggantung berat di kepala Ose. Ia mencoba mereka-reka struktur sosial kota ini. Ia mencari alasan mengapa di tempat asalnya di Flores, susah sekali masyarakat mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang cash. Ia merasa iba karena banyak anak muda seusianya harus merantau menjadi buruh kelapa sawit di Kalimantan, Papua, bahkan TKI di Malaysia atau sekadar jadi pembantu di Jakarta dan kota besar lainnya.
Ose merasa ada sesuatu yang janggal dan keliru di negerinya ini. Bagaimana mungkin sebuah peradaban yang mengaku maju, justru menciptakan jenis pekerjaan yang dasarnya adalah menakut-nakuti sesama manusia? Ose menggelengkan kepala, bingung dengan fakta yang ada.
***
“Timo, ini jalan apa lagi eee?” tanya Ose dengan nada khas Indonesia Timur, melengking penasaran.
Walau suaranya timbul tenggelam di balik deru knalpot motor lawas yang sudah sedikit bocor itu, ditambah bisingnya suara klakson truk kota, keduanya masih bisa saling mengobrol, melempar kalimat-kalimat pendek untuk melepas rasa kangen setelah hampir lima tahun terpisah jarak ribuan mil laut.
“Kau ikut saja bisa tidak ko! Jangan banyak tanya dulu eee, ini bukan di Flores yang jalannya cuma satu jalur. Banyak sekali kau punya pertanyaan seperti jaksa penuntut umum saja,” sahut Timo sedikit ketus, dialek asli Floresnya keluar dengan kental ketika emosinya sedikit terpancing.
Nada bicara Timo memang terdengar kesal bagi telinga beberapa teman Jawanya. Namun Ose sama sekali tidak tersinggung. Ia sudah hafal luar kepala gaya sahabatnya itu sejak remaja. Bagi Ose, setiap jawaban yang keluar dari mulut Timo justru seperti benih yang jatuh di tanah subur, langsung tumbuh melahirkan ranting pertanyaan baru.
Ose yang datang jauh dengan ribuan pertanyaannya itu tak merasa malu sama sekali. Bantahan sahabat lamanya itu adalah inspirasi untuk menggali lebih banyak lagi keingintahuannya atas kota impian masa kecilnya.
Di dalam benaknya yang sederhana, Yogyakarta baginya adalah tempat bertemunya para orang pintar, tempat di mana buku-buku dicetak, dan tempat para pahlawan bangsa dulu sempat bersama-sama merumuskan negara.
Ose memang menemukan beragam perbedaan yang mencolok antara kota ini dan kampung halamannya. Untuk beberapa saat, ia terpaksa mengamini dalam hati bahwa kampung halamannya mungkin layak disebut ‘kampungan’. Tempat yang tak tersentuh oleh kemilau modernitas, ditinggalkan oleh gerbong pembangunan infrastruktur nasional, dan hanya diingat oleh para calon pemimpin ketika musim pemilihan umum tiba. Setelahnya luput dari segala macam liputan kota.
Pertemuan Ose dan Timo dulu bermula saat mereka menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Katolik di kota kabupaten. Ose adalah teman sekamar Timo di asrama. Mereka hidup bersama selama tiga tahun penuh di bawah aturan disiplin ketat tempat pembinaan milik bruder- bruder Katolik dari ordo yang terkenal dengan kerja kerasnya di bidang pendidikan dan isu pertanian.
Di asrama itulah mereka belajar menyapu lantai, memasak, mencuci baju, menanam di kebun serta ikut berdoa Rosario setiap malam Sabtu dan misa di hari Minggu. Mereka juga sempat membaca buku-buku sastra serta pengantar filsafat dasar yang ada di perpustakaan tua asrama itu.
Ose adalah teman tidur di ranjang tingkat yang sama, hanya saja setelah lulus, pilihan jalan hidup mereka berbeda. Ose terpaksa langsung menikah selepas tamat SMK karena tuntutan situasi keluarga dan adat Flores, ia menghamili teman sekelas sekolah. Sekarang ia telah memiliki seorang putra yang lucu. Walau sudah memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga kecil di kampung, Ose tetap menganggap dirinya anak muda yang memiliki hak untuk terus belajar dan mencari tahu.
Sedangkan Timo memilih jalan hidup yang berbeda, konon ia pamit pada orang tuanya, naik kapal dan merantau ke kota Yogyakarta untuk kuliah. Ose belajar tanpa henti, membaca banyak buku, berdiskusi di warung-warung kopi, walau secara ekonomi, hidup Timo tetap begitu-begitu saja, tetap tinggal di kos yang sempit dan mengendarai motor tua yang sering mogok. Timo tentang mau memilih lebih lama di Yogyakarta daripada harus pulang jadi pengagguran di kampungnya.
Hari ini Ose datang ke Yogyakarta menumpang pesawat yang harganya selangit, untuk mengikuti pelatihan pertanian. Berbekal pembinaan bruder-bruder Katolik, ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan menanam padi di lahan kering. Walau sebenarnya ia sedikit protes, karena makan nasi di tempatnya membuat anak-anak di kampung halamannya menolak untuk makan jagung dan pisang serta ubi-ubian, yang konon jadi pangan lokalnya.
Untungnya, seluruh biaya perjalanan Ose, mulai dari tiket pesawat hingga akomodasi, ditanggung sepenuhnya oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang bergerak di bidang kedaulatan pangan. Ose bisa mengikuti kegiatan ini secara gratis. Walau demikian, di dalam hati kecilnya ia selalu curiga pada hal-hal gratis, Ose sebenarnya penasaran dari mana LSM asing itu bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Uang yang menurut hitungannya cukup untuk membiayai hidup seluruh keluarga besarnya di kampung selama berbulan-bulan.
***
“Kita sudah sampai di mana ini Timo? Bagus eee jalan di sini, mulus-mulus semua,” ujar Ose setelah mereka lima menitan meninggalkan parkiran Stasiun Tugu. Ose menatap aspal hitam tanpa lubang itu, mirip tenunan songket Manggarai yang dibentangkan, padat, timbul, dan rapi.
“Di sini juga banyak sekali motor dengan oto eee Timo. Sepertinya setiap keluarga punya satu oto eee,” sambung Timo lagi, ia tak habisnya bertanya.
“Eee dasar kau kampungan sekali eee. Itu mobil bukan oto. Jangan sampai nanti orang tertawa kau,” sanggah Timo sambil tertawa mengejek Ose.
“Satu lagi di sini tidak ada oto kol seperti yang biasa taksi di jalan bebatuan kampung kita sana!”
“Kalau yang ini namanya flyover! Jalan di atas jalan,” terang Timo saat motor mereka mulai menanjak naik ke jembatan layang Janti.
Tepat saat mereka berada di titik tertinggi jembatan layang, di bawah mereka, sebuah rangkaian kereta api melintas dengan kecepatan sedang, menyemburkan bunyi klakson panjang yang membelah udara siang menuju sore itu. Ose terperangah, badannya agak condong ke kiri untuk melihat ke bawah. Pemandangan itu seketika memicu memorinya, memaksanya mengingat kembali kondisi jalanan di pelosok kampung halamannya di Flores.
Ia teringat jalanan Trans-Flores atau jalan-jalan tikus antar- desa yang jika musim hujan tiba akan langsung berubah menjadi kubangan bubur lumpur yang dalam dan licin. Seringkali menjebak roda kendaraan hingga mogok berjam- jam. Sebaliknya, jika musim kemarau datang, jalanan yang sama akan berubah menjadi ladang debu yang tebal, yang akan beterbangan menutupi wajah dan pakaian siapa saja yang lewat.
“Kenapa kita di Flores tidak ada jalan semulus dan seluas ini eee Timo, Padahal kita sama-sama bayar pajak ke negara ini toh?” tanya Ose lagi. Suaranya kini lebih pelan, ada nada getir yang terselip.
Timo enggan menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan dadanya sesak oleh udara bercampur polusi knalpot.
Memori Timo sendiri langsung melompat pada kejadian setahun lalu saat ia mengambil kesempatan untuk pulang kampung menengok orang tuanya. Di sana, di pinggir jalan desa yang rusak parah, ia sungguh melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana anak-anak sekolah dasar harus berjalan kaki bertelanjang kaki sambil menenteng sepatu sekolah agar tidak kotor terendam lumpur jalanan yang becek parah.
Pemandangan memprihatinkan seperti itu adalah hal yang hampir mustahil dan tak pernah ia lihat lagi semenjak tinggal di kota ini. Di Yogyakarta, setiap pagi Timo menyaksikan anak- anak sekolah yang masih berseragam SMP atau SMA melesat dengan lincah mengendarai motor di atas aspal jalanan yang mulus, atau mereka duduk manis di kursi belakang sambil diantar oleh orang tua mereka menggunakan mobil pribadi yang dilengkapi pendingin udara yang sejuk.
Anak-anak kota itu tumbuh tanpa pernah perlu memikirkan debu tebal atau cipratan lumpur kuning yang akan mengotori sepatu putih atau seragam bersih mereka.
Timo terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawaban apa yang paling pas agar sahabatnya tidak larut dalam keganduhan itu.
“Hmmm. Begini Ose, kita jangan hanya lihat jalannya saja. Kita di Flores kan punya banyak hal yang indah dan menakjubkan juga yang tidak dimiliki orang kota ini. Kita punya Komodo yang mendunia, ada Danau Tiga Warna Kelimutu, ada rumah adat Todo yang megah, pante-pante kita juga sangat indah airnya biru bersih. Dan yang paling penting dari semuanya di kampung kita tidak pernah ada yang namanya macet! Kau mau punya jalan mulus tapi setiap hari harus tua di jalan, stres terjebak berlama-lama di dalam kemacetan seperti orang-orang kota ini?” ujar Timo, mencoba menghibur Ose.
“Iya juga eee, alam kita memang menang banyak,” angguk Ose pelan. “Tapi Timo, coba kau lihat itu di pinggir jalan. Di sini di sepanjang jalan ada banyak sekali tiang-tiang besi dengan lampu penerangan yang terang kalau malam. Kenapa di tempat kita jalannya sudah sempit, gelap kalau malam, tidak ada lampu jalan, jalan berlubang lagi eee? Apa orang kota ini pikir kita di Timur itu matanya bisa melihat dalam gelap seperti kucing, ka?” tanya Ose.
“Makanya kau tinggal saja di sini kalau kau mau menikmati lampu terang! Tapi kau harus siap lahir batin untuk hidup serba buru-buru,” jelas Timo dengan nada serius saat motor mereka perlahan berhenti di belakang antrean ratusan kendaraan lain karena lampu pengatur lalu lintas berubah warna menjadi merah di pertigaan jalan Adisucipto itu.
Ose menatap sekeliling. Orang-orang memang terlihat sibuk. Wajah-wajah tertutup helm, tanpa sapaan.
“Tapi kau tahu tidak Ose? Di balik semua kesibukan itu, Yogyakarta ini sering disebut orang sebagai kota toleransi, kota pelajar, dan kota istimewa. Kalau kau masih ingat dulu saat kita masih di kelas di asrama, ada bait puisi terkenal yang sempat kita bacakan bersama ‘Yogyakarta terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan’, itu tulisannya bisa kau temukan di daerah Malioboro sana,” terang Timo, mencoba mengembalikan citra romantis kota yang ia tinggali. “Haaa? Iya, ka? Pantas kau tidak pulang-pulang. Atau jangan-jangan kau sudah tagae dengan nona Jawa lagi yang bicaranya halus-halus itu?” balas Ose penasaran
“Tidak eee! Sembarangan saja kau ini, pacar saja saya tidak punya,” Timo memotong cepat sambil tertawa lepas.
“Itu istilah-istilah kota romantis sering diucapkan oleh teman-teman mahasiswa dari Timur kalau kita lagi kumpul makan bersama di asrama daerah atau kontrakannya anak- anak rantauan,” lanjut Timo
“Berarti anak-anak dari wilayah Timur kita masih sering kumpul-kumpul bersama kah di sini Timo?” tanya Ose, ada rasa lega mendengar bahwa teman baiknya itu tidak benar- benar sendirian di kota besar ini.
“Iya, sering sekali. Walaupun sebenarnya saya tidak terlalu setuju kalau kita anak-anak Timur kumpul-kumpul terus, nanti pasti ujung-ujung minum mabok dan buat kaco,” ujar Timo
“Pasti orang-orang dari barat ini akan marah sekali kalau kita anak dari Timur buat onar eee?” tanya Ose.
“Itu sudah pasti Ose! Karena terlalu sering buat huru-hara, kita yang tinggal di sini jadi susah cari kos dan kontrakan. Banyak pemilik kos yang langsung pasang wajah tidak suka atau langsung bilang ‘kamar penuh’ begitu tahu kita punya kartu tanda penduduk dari Timur.”
“Tapi kau harus tahu juga Ose, kota ini juga dijuluki kota toleran!” ujar Timo lagi
“Itu siapa yang bilang, Timo?” tanya Ose penasaran. “Iya, itu data dan angka yang sering diakui. Kau percaya saja eee!”
“Tidak, saya tidak terlalu setuju Timo” protes Ose.
“Toleransi itu bukan angka-angka di atas kertas. Di Flores, kita makan sama-sama tanpa tanya kau sembahyang bagaimana. Kita hidup basaudara. Tetangga susah, kita bantu tanpa pilih kasih. Itu bukan toleransi yang dipelajari dalam kalkulasi angka, itu kita pu budaya! Itu napas kita.”
Timo tersenyum tipis, matanya menatap spion.
“Iya, kau benar soal itu. Tapi kau jangan tutup mata, Ose. Di Flores, kalau kau bukan Katolik, kau pikir gampang jadi pemimpin? Jadi Kepala Desa saja susah setengah mati kalau tidak Katolik. Katolik harga mati, toh, berarti agama juga masih sering jadi masalah?”
Ose terdiam sejenak. Ia teringat wajah teman-temannya di kampung yang berbeda keyakinan namun selalu hadir saat acara gereja, begitu pula sebaliknya.
“Siapa yang bilang begitu, Timo? Kita orang Flores tidak ada yang ambisi jadi pejabat, apalagi sampai harus baku bunuh untuk dapat posisi jabatan,” terang Ose.
“Kau juga harus tahu, sampai sekarang tidak ada presiden orang kita, kita tenang-tenang saja. Di tempat kita juga tidak ada orang mati hanya karena beda cara berdoa. Bukankah itu yang paling penting?” lanjutnya.
Tepat setelah Ose menyelesaikan kalimatnya, lampu lalu lintas di perempatan jalan berubah warna menjadi hijau. Timo segera memutar tuas gas, kembali memacu motor tuanya.
Motor tua itu tetap melaju mantap menjauhi pusat keramaian kota, bergerak semakin masuk ke arah jalan-jalan pinggiran yang mulai ditumbuhi pohon-pohon peneduh di kanan kirinya.
“Timo, kenapa kita tidak sampe-sampe eee ke tempat saya nginap?”
Timo tidak langsung menjawab. Motor tetap melaju pelan.
“Kalau sudah sampai,” kata Timo pelan “nanti kau berhenti bertanya Ose!”
Motor terus melaju, membawa tubuh kedua anak muda itu lenyap ditelan bayang-bayang keramaian kota istimewa, meninggalkan jejak-jejak pertanyaan yang tak kunjung selesai.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.