Oleh: Hakim Cendikia Samputra
PAGI di Ciganjur pada April 2026 beraroma sama seperti dekade sebelumnya: tanah basah, melati, dan teh tubruk kental. Di teras belakang, seorang lelaki tua duduk di kursi jati mengilat dimakan usia. Kakinya diselonjorkan di atas kursi kecil, tangannya menggenggam tablet elektronik. Membaca berita dengan huruf ekstra besar. Kacamata tebalnya sesekali melorot, namun instingnya tetap tajam melampaui usia delapan puluh lima tahun.
Gus Dur menghela napas. Di layar tabletnya, tajuk utama media nasional berkedip: “Skandal Korupsi Proyek Strategis Nasional” dan “Miliaran Rupiah Menguap di Tengah Kebijakan Bansos Populis.” Ia terkekeh serak, tawa serak khasnya yang dulu sering membuat politisi di Senayan gemetar sekaligus rindu.
“Ini penyakit ‘pede’ yang kelewatan,” gumamnya. “Merasa rakyat kenyang bagi-bagi sembako, pintu belakang dibuka buat maling. Lupa kalau perut kenyang tapi hati nurani kosong cuma bikin bangsa jadi zombi.”
Gus Dur membetulkan posisi duduknya. Tahun 2026 ternyata tidak secanggih bayangan para futuris dalam hal moral. Jakarta boleh dipenuhi mobil listrik dan kecerdasan buatan, tapi masalah manusianya masih itu-itu saja. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo yang memasuki tahun kedua, kebijakan populis tampak gagah di permukaan, namun menabrak keadilan sosial yang paling mendasar.
Subuh tadi, seorang kiai melaporkan pembangunan rumah ibadah yang dihentikan paksa kelompok mayoritas. Persekusi minoritas seolah mendapat panggung baru di era digital, algoritma kebencian bekerja lebih cepat daripada hukum.
“Orang kalau sudah merasa jadi wakil Tuhan di bumi, biasanya lupa caranya jadi manusia,” bisiknya.
Beragama tanpa kemanusiaan hanya menjadi topeng bagi keangkuhan.
Suara langkah mendekat. Asisten pribadinya membawa singkong rebus dengan wajah cemas. “Gus, utusan PBB dan menteri luar negeri Timur Tengah sudah menunggu. Situasi perbatasan kritis. Dunia di ujung tanduk Perang Dunia III, Gus.”
Gus Dur terdiam. Di tengah ego geopolitik pemimpin dunia, ia adalah jembatan tersisa yang dipandang Barat dan Timur. Baginya, diplomasi adalah memanusiakan musuh.
Gus Dur terdiam sejenak. Ia tahu betul apa yang mereka cari. Saat para pemimpin dunia terjebak dalam ego geopolitik, antara ambisi nuklir, perebutan jalur gas, dan dendam sejarah yang tak kunjung padam, ia tetap menjadi satu-satunya jembatan yang tersisa.
Dunia Islam dan Barat memandangnya sebagai anomali yang menenangkan, seorang ulama yang berani bicara soal normalisasi hubungan dengan Israel bukan karena pengkhianatan terhadap Palestina, melainkan karena ia tahu perdamaian tidak akan pernah lahir dari meja yang kosong. Baginya, diplomasi adalah upaya memanusiakan musuh.
“Suruh masuk,” kata Gus Dur sambil mengambil singkong. “Kalau mau bicara perang, makan singkong dulu biar otaknya dingin. Perang itu hobi orang yang tidak punya selera humor.”
Matanya menerawang ke kebun rimbun. Ia membayangkan dunia seperti kebun: penuh perbedaan, namun berhak atas air dan matahari yang sama. Itulah esensi Rahmatan lil Alamin yang ia perjuangkan. Bukan Islam dengan pedang terhunus, melainkan payung di tengah badai.
Dunia tahun 2026 sedang sakit karena para pemimpin berebut mainan di atas tumpukan mesiu. Di Ciganjur, jauh dari menara kekuasaan, duduk orang tua pemegang kunci jawaban. Kehadirannya pengingat bahwa di atas politik ada kemanusiaan, dan Tuhan tak perlu dibela dengan amarah, tapi dengan cinta yang paling sunyi.
“Gitu aja kok repot,” desisnya sebelum pintu terbuka. Para diplomat masuk dengan wajah tegang, seolah keselamatan Bumi bergantung pada lelaki tua bersarung ini.
Ruang tamu terasa sempit. Tiga diplomat senior blok Barat, Liga Arab, dan Yerusalem duduk tegang. Sementara Gus Dur bersantai memakai batik pudar, menyeka kacamata dengan ujung sarung.
“Gus,” ujar utusan Liga Arab berat, “rudal sudah diarahkan. Sentimen agama bisa membakar segalanya jika Anda tidak meredam amuk massa dari Kairo hingga Jakarta.”
Gus Dur meletakkan kacamata, matanya yang sayu menatap mereka satu per satu.
“Kalian jauh-jauh ke sini minta saya jadi pemadam kebakaran? Masalahnya, yang kalian bakar itu hutan, sementara saya cuma punya segelas air teh.”
Ia terkekeh, lalu suaranya mendingin tajam.
“Dunia mau kiamat bukan karena takdir, tapi karena ego kalian. Bicara damai di mimbar PBB, tapi di bawah meja jualan senjata. Itu bukan diplomasi, itu dagang maut.”
Gus Dur menoleh ke utusan Yerusalem. “Dulu, waktu saya bilang perlu membuka hubungan dengan Israel, orang memaki saya pengkhianat. Padahal, kalau kita tidak bicara dengan yang kita benci, bagaimana menghentikan tangan mereka menarik pelatuk?”
Upaya normalisasi yang ia gagas bertahun-tahun lalu adalah bentuk pembebasan dari belenggu kebencian yang buta. Baginya, keadilan bagi Palestina tidak akan tercapai hanya dengan teriakan di jalanan, melainkan dengan keberanian untuk duduk sejajar dan menuntut kemanusiaan di meja yang sama.
Di saat yang sama, asisten masuk membawa tablet siaran langsung kerusuhan. Sebuah gereja dibakar, aparat ragu bertindak. Inilah Indonesia tahun 2026 yang terluka: korupsi menggila di pusat kekuasaan menciptakan kecemburuan sosial yang mudah diledakkan menjadi sentimen agama.
“Lihat itu,” Gus Dur menunjuk dengan jari gemetar. “Pemimpin sibuk memoles citra dengan kebijakan populis dan makanan gratis. Tapi di akar rumput, kesetaraan diinjak-injak. Minoritas dipersekusi seolah mereka bukan penduduk asli tanah ini.”
Gus Dur menggebrak meja dengan pelan, tapi efek getarnya begitu kuat bagi siapa pun yang mendengar.
“Korupsi menghilangkan kepercayaan pada keadilan. Kalau rakyat tidak percaya hukum, mereka lari ke kebencian. Itulah kenapa intoleransi subuh. Kalian, para penguasa, lebih sibuk mengamankan kursi daripada warga negara.”
Para diplomat terdiam dihantam realitas moral. Mereka datang mencari solusi, namun Gus Dur justru menghantam dengan realitas moral paling mendasar.
“Anda ingin saya bicara pada dunia Islam?” tanya Gus Dur retoris.
“Saya akan bicara soal kemanusiaan. Islam rahmatan lil alamin itu melindungi, bukan mengepal. Syaratnya: kalian berhenti bersikap seperti tuhan-tuhan kecil yang menentukan nasib orang lain.”
Notifikasi serangan udara masuk. Ruangan sunyi senyap. Di tengah ketegangan yang sanggup meledakkan saraf itu, Gus Dur justru meraih singkong rebusnya.
“Gitu aja kok repot,” gumamnya. “Masalah dunia itu gampang kalau semua mau sedikit merasa malu. Tapi malu itu barang mewah yang nggak dijual di bursa saham.”
Gus Dur bangkit dibantu tongkatnya, menatap langit Ciganjur yang mendung.
“Bawa saya ke bandara besok pagi,” kata Gus Dur tanpa menoleh.
“Saya akan menemui mereka sebagai manusia yang tidak ingin melihat Bumi hangus karena kebodohan penghuninya.”
Para diplomat tahu, saat ‘Singa Tua’ keluar dari sarangnya, peta kekuatan dunia akan dipaksa bergeser oleh ketulusan kata-kata.
Di jet pribadi PBB, di tengah laporan eskalasi perbatasan Lebanon, perhatian Gus Dur teralih pada berita domestik, seorang menteri tertawa seusai memotong subsidi kesehatan demi proyek mercusuar era Prabowo, sementara masyarakat adat Kalimantan kehilangan tanah tanpa kompensasi adil.
“Keadilan itu seperti angin, Gus,” bisik staf muda.
Gus Dur mengoreksi tajam, “Keadilan itu fondasi. Kalau dicuri buat bangun menara, menaranya tinggal tunggu waktu buat roboh menimpa yang di bawah. Masalahnya, yang di atas sudah punya parasut emas.”
Beliau pedih melihat nilai kesederhanaan telah luntur. Di matanya, korupsi tidak sekadar pencurian uang negeara, tetapi hilangnya martabat manusia.
“Apa mereka tidak malu? gumam Gus Dur.
“Bicara kesejahteraan sambil menimbun kekayaan di negeri orang. Ini yang saya sebut kehilangan nilai kesatriaan. Pemimpin harusnya pertama lapar dan terakhir kenyang. Sekarang terbalik.”
Pembicaraan beralih ke mediasi Doha. Para pemimpin faksi besar dan negara adidaya setuju untuk bertemu Gus Dur hadir sebagai penengah.
Gus Dur menarik napas panjang, mengevaluasi posisi sulitnya. Upayanya dulu untuk menormalisasi hubungan dengan Israel kembali menjadi titik sentral. Bukan untuk mencari pengakuan politik, melainkan sebagai penerapan nilai persaudaraan universal.
“Dunia di ambang kehancuran karena pemimpinnya takut terlihat lemah jika berbicara dengan musuh,” ujar Gus Dur kepada utusan PBB.
“Mereka pikir perdamaian adalah tanda menyerah. Padahal, perdamaian adalah keberanian tertinggi. Jika kita tidak bisa melihat kemanusiaan pada lawan, kita sendiri sudah kalah sebagai manusia.”
Beliau merenungkan bagaimana nilai kesetaraan yang ia perjuangkan di Indonesia kini menjadi resep penyelamat dunia. Jika dunia Islam menerapkan nilai ini, menghargai minoritas di rumah sendiri dan mengedepankan dialog lintas iman, maka stigma negatif global akan runtuh. Gus Dur ingin menunjukkan bahwa ulama bukan sekadar penjaga teks suci, tapi juga penjaga nyawa manusia.
Namun, pikirannya kembali ke kasus penolakan rumah ibadah yang kian marak di Tanah Air. Beliau merasa ada yang gagal dalam sistem pendidikan dan dakwah jika pada tahun 2026 orang masih merasa terancam oleh suara doa tetangganya.
“Ini pengkhianatan terhadap kearifan tradisi kita,” tegasnya.
“Indonesia besar karena beragam. Kalau kita dipaksa seragam, kita bukan lagi Indonesia, kita cuma jadi barisan robot yang dikendalikan rasa takut.”
Saat pesawat menurunkan ketinggian, Gus Dur menutup bukunya. Pertemuan di Doha bukan sekadar soal pembagian wilayah atau gencatan senjata, melainkan pertaruhan ideologi: antara dunia yang dikelola kebencian dan kepentingan sesaat, dengan dunia yang dituntun nilai kemanusiaan yang teguh.
“Gus, apa Anda yakin mereka akan mendengar?” tanya stafnya sangsi.
Gus Dur tersenyum arif.
“Tugas kita bukan membuat mereka mendengar, tapi memastikan kebenaran disuarakan. Soal mereka mau dengar atau tidak, itu urusan mereka dengan Tuhan. Tapi setidaknya, jangan sampai sejarah mencatat kita hanya diam saat dunia sedang membakar dirinya sendiri.”
Dengan langkah berat namun mantap, disangga tongkat setianya, Gus Dur bersiap turun dari pesawat. Di luar, lampu- lampu Doha berkilauan, menyembunyikan kegelapan konflik di balik cakrawala. Sang Ulama Kemanusiaan melangkah menuju panggung dunia, membawa beban sembilan nilai sebagai satu-satunya kompas terakhir bagi peradaban yang tersesat.
Pertemuan di aula utama Doha berlangsung dalam ketegangan yang nyaris meledak. Para pemimpin berjas mahal dan seragam militer penuh medali duduk melingkar dengan tatapan saling menghunus.
Di tengah pusaran ego itu, Gus Dur duduk di kursi roda, hanya mengenakan batik parang dan peci hitam memudar. Namun, justru dari sosok tampak ringkih ini, otoritas moral memancar begitu kuat hingga ruangan yang tadinya bising mendadak senyap.
“Kalian ini pemimpin negara besar atau sedang rebutan remot kontrol nuklir?” celetuk Gus Dur.
Suaranya tidak keras, namun berkat sistem akustik canggih dan keheningan aula, kata-katanya terdengar jelas hingga barisan belakang.
Tanpa menunggu penerjemah, beliau melanjutkan dalam bahasa Inggris yang elegan dengan humor khas Jombang.
“Wajah kalian tegang sekali. Padahal kalau kalian tersenyum sedikit saja, harga gandum dan minyak di pasar global mungkin tidak akan mencekik leher rakyat kalian.”
Tawa kecil meledak, termasuk dari Sekjen PBB yang tampak lega yang semula membatu itu mulai mencair.
Gus Dur melanjutkan dengan nada serius, menyentuh inti nilai pembebasan dan kesetaraan. Beliau memandang para pemimpin yang bertikai di Timur Tengah, termasuk perwakilan Israel dan faksi Arab yang puluhan tahun menolak duduk satu meja.
“I have been accused of many things for wanting to talk to everyone, including Israel,” ujarnya lugas.
“Banyak yang mengira itu soal politik praktis. Padahal sederhana: bagaimana mewujudkan persaudaraan universal kalau kita memelihara tembok di dalam kepala? Perdamaian bukan berarti setuju dengan semua tindakan lawan, tapi perdamaian itu pengakuan bahwa lawan kita juga manusia yang punya ibu, anak, dan hak untuk hidup.”
Sikap konsistennya adalah strategi Rahmatan lil Alamin, menjadikan Islam sebagai payung pelindung bagi semua, bukan pedang yang membelah. Di hadapan dunia, Gus Dur menjadi wajah ulama yang tidak hanya bicara akhirat, tapi juga fasih menyuarakan keselamatan bumi dalam berbagai bahasa internasional.
Resolusi yang ditawarkan tidak berbasis pada pembagian wilayah, melainkan keadilan distribusi kemanusiaan. Beliau mendesak penghentian lomba senjata demi dialihkan pada penanganan krisis iklim dan kelaparan yang mendasari turbulensi geopolitik.
“Selama kalian masih korupsi terhadap masa depan anak cucu dengan membeli peluru, jangan harap ada stabilitas,” tegasnya dalam bahasa Arab fasih ke delegasi Timur Tengah.
“Di Indonesia, korupsi dan kebijakan populis salah kaprah merusak tatanan. Jangan bawa penyakit itu ke level global. Kembalilah pada kesederhanaan. Dunia ini cukup untuk kebutuhan semua orang, tapi tidak akan pernah cukup untuk keserakahan satu pemimpin.”
Satu per satu pemimpin tertunduk. Kata-katanya adalah suara hati nurani yang lama mereka bungkam. Lewat mediasi hingga fajar, kesepakatan de-eskalasi ditandatangani. Bukan karena takut pada militer, tapi karena malu pada kearifan orang tua tanpa rudal yang memiliki integritas tak tergoyahkan.
***
Sekembalinya ke Jakarta, Gus Dur langsung mengumpulkan para tokoh agama yang berkonflik di ruang tengah Ciganjur yang kembali tenang.
“Dunia sudah mulai belajar damai, masa kita yang punya Pancasila malah mau perang saudara?” tanyanya lembut.
“Menjadi mayoritas itu tanggung jawabnya melindungi, bukan mendominasi. Kalau kalian menyakiti yang kecil, kalian sedang mempermalukan agama kalian sendiri.”
Intervensi ini memicu gelombang perubahan. Pemerintah mulai merevisi regulasi rumah ibadah yang diskriminatif di bawah tekanan moral sang Guru Bangsa. Kasus persekusi menurun drastis karena Gus Dur tak segan turun ke lapangan, berdiri di depan rumah ibadah minoritas yang diancam, menjadikan dirinya sendiri perisai manusia.
***
Di penghujung tahun 2026, Indonesia dan dunia melihat pemandangan mengharukan. Gus Dur duduk di halaman Masjid Istiqlal bersama para pemimpin lintas iman dan perwakilan diplomatik dunia, merayakan hari perdamaian internasional. Beliau membuktikan bahwa dengan memegang teguh sembilan nilai utamanya, seorang individu bisa menjadi poros stabilitas global.
Gus Dur memejamkan mata sejenak, menghirup udara malam Jakarta yang mulai terasa lebih bersih dari kebencian. Beliau tahu tugasnya belum usai, namun setidaknya, ia telah menanam benih keberanian di hati banyak orang.
“Gus, dunia memuji Anda sebagai penyelamat,” bisik seorang asisten.
Gus Dur terkekeh. “Penyelamat itu tugasnya Tuhan. Saya cuma orang tua yang nggak mau dunia ini jadi terlalu membosankan karena isinya cuma orang marah-marah. Lagian, gitu aja kok repot.”
Dalam senyumnya yang tulus, tersimpan gambaran Islam menyejukkan yang tidak perlu berteriak untuk didengar, namun kehadirannya dirasakan sebagai rahmat bagi semesta alam. Gus Dur, di tahun 2026, tetaplah oase di tengah padang pasir peradaban yang gersang.
Malam di Ciganjur terasa lebih tenang, seolah semesta sepakat memberikan jeda bagi napas tua sang Guru Bangsa. Di meja kerja kayu yang penuh dengan tumpukan buku lintas bahasa, Gus Dur duduk bersandar. Cahaya lampu meja kekuningan mempertegas garis-garis keriput yang menjadi saksi bisu sejarah panjang Indonesia, dan kini, saksi bagi perdamaian dunia yang baru saja ia jahit kembali di Doha.
Beliau meraih radio tua, memutar tombolnya dengan perasaan. Suara penyiar berita melaporkan indeks kepercayaan investor yang membaik seiring langkah berani pemerintah mengevaluasi besar-besaran beberapa kebijakan populis yang menguras kantong negara, serta peluncuran kurikulum ‘Kemanusiaan Universal’ di sekolah-sekolah untuk mengatasi intoleransi.
“Nah, begini kan enak,” gumamnya pelan. “Negara itu kalau diurus pakai akal sehat dan hati nurani, ya jalannya lurus. Kalau diurus pakai nafsu dan baliho, ya jalannya muter-muter di tempat parkir.”
Pikiran beliau melayang pada pertemuan rahasia dengan Presiden Prabowo beberapa minggu sebelumnya. Saat itu, dengan gaya kesatriaan yang lugas, Gus Dur mengingatkan, “Sampeyan itu sudah punya segalanya, jangan lagi cari pujian palsu lewat kebijakan yang cuma manis di bibir tapi pahit di perut rakyat. Berantas itu maling-maling di sekeliling sampeyan, baru sampeyan bisa tidur nyenyak.”
Dan malam ini, radio mengabarkan pembersihan di lembaga antikorupsi mulai membuahkan hasil.
Namun, yang paling membuat Gus Dur tersenyum adalah foto yang dikirimkan asistennya lewat tablet. Foto itu memperlihatkan warga sebuah desa di Jawa Barat, Muslim, Kristen, dan penganut kepercayaan, bergotong royong memperbaiki atap gereja yang sempat dirusak dan pembangunannya ditolak. Tidak ada aparat atau kamera televisi yang dibuat-buat, hanya ada nilai persaudaraan yang kembali tumbuh secara organik dari kearifan tradisi lokal.
“Tuhan tidak perlu dibela, tapi manusia yang tertindas harus dibela,” bisiknya, mengulangi kalimat yang telah menjadi mantra hidupnya.
Di kancah global, dunia mulai melabeli fenomena ini sebagai ‘The Wahid Doctrine’. Para pakar politik di Harvard dan Al-Azhar membedah bagaimana sembilan nilai Gus Dur, terutama kesetaraan dan keadilan, jauh lebih efektif meredam konflik nuklir dibanding pakta militer mana pun. Islam Rahmatan lil Alamin bukan lagi dianggap konsep utopis, melainkan solusi pragmatis bagi peradaban yang sakit.
Normalisasi hubungan dengan Israel yang dulu dikecam kini dilihat sebagai pintu gerbang dialog yang menyelamatkan ribuan nyawa di Gaza dan Tel Aviv. Beliau membuktikan ulama sejati mampu membawa cahaya di ruang paling gelap tanpa harus kehilangan identitas imannya.
Tiba-tiba, seorang cucunya masuk membawa secangkir air putih. “Mbah, dunia sedang heboh. Nama Mbah dicalonkan lagi untuk Nobel Perdamaian. Bagaimana perasaan Mbah?”
Gus Dur terkekeh hangat dan membebaskan. Beliau meraih tangan cucunya, menepuknya pelan.
“Nobel itu cuma medali, Le. Yang penting itu bukan medalinya, tapi apakah besok orang-orang masih bisa sarapan dengan tenang tanpa takut rumahnya dibom atau uangnya dimaling pejabat. Kalau itu sudah terjadi, Mbah sudah dapat Nobel setiap hari.”
Beliau meminta cucunya mematikan lampu. Di dalam kegelapan yang teduh, Gus Dur memanjatkan doa terakhirnya agar bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa yang ‘kagetan’ dan dunia tidak lagi menjadi tempat yang haus darah.
Seiring mata beliau terpejam, bayangan Indonesia dan dunia tahun 2026 yang lebih manusiawi menjadi mimpi indah yang menyertai tidurnya selaku penjaga gawang moral.
Di luar, angin malam Ciganjur berbisik membawa pesan perdamaian ke setiap sudut bumi.
“Gitu aja kok repot….” desisnya terakhir kali sebelum terlelap, meninggalkan warisan abadi yang menjadi mercusuar cahaya bagi peradaban yang kini telah menemukan kembali kompas nuraninya.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.