Jombang – Komunitas Gusdurian Mojokerto membawa inovasi media belajar interaktif melalui permainan kartu dalam rangkaian kelas fun games Festival Jagat di Seblak, Jombang. Kali ini game yang dibawakan bernama Kartu 9 Nilai Utama Gus Dur. Seperti namanya, permainan ini bertujuan untuk memperkenalkan para peserta kepada nilai-nilai ala Gus Dur. Permainan ini menggunakan media proyektor untuk menampilkan soal-soal yang harus dijawab dan kartu yang kemudian dibagikan kepada para peserta.
Para peserta yang terdiri dari siswa dan siswi SMP/MTs pun dibagi ke dalam tiga kelompok untuk beradu pemahaman dan ketepatan menjawab soal. Mekanisme permainan dirancang kompetitif: setiap kelompok yang berhasil menjawab studi kasus dengan benar akan memperoleh tambahan 10 poin, jika benar kedua kalinya maka tambahan poinnya adalah 20 poin, sedangkan jawaban yang keliru akan mendapatkan pengurangan 5 poin dan yang kedua kalinya berkurang 10 poin. Jika tidak menjawab, kelompok mendapatkan 0 poin.
Materi dalam kartu menyajikan berbagai situasi riil keseharian, salah satunya mengangkat isu ruang digital dan etika komunikasi melalui studi kasus sekelompok murid yang membuat akun media sosial palsu. Ada juga studi kasus cerita tentang seorang pemuda karang taruna yang menolak musyawarah desa karena merasa pendapatnya paling hebat. Persoalan-persoalan ini dihadirkan kepada anak-anak untuk kemudian didiskusikan, setelah itu mereka berebut menjawab pertanyaan yang diajukan. Hal inilah kemudian yang dijadikan sebagai bahan pemantik bagi para fasilitator untuk mengaitkannya dengan salah satu dari 9 Nilai Utama Gus Dur.
Arini, salah satu penggerak Gusdurian Mojokerto, mengatakan, sesi ini menjadi ajang prototyping atau uji coba permainan kartu edukatif bertema 9 Nilai Utama Gus Dur. Langkah ini menjadi fase untuk menguji interaksi, tingkat pemahaman, serta daya tarik visual sebelum media tersebut diintegrasikan ke dalam kurikulum rutin Rumah Belajar binaan Gusdurian Mojokerto. Melalui pendekatan berbasis permainan, nilai-nilai luhur seperti keadilan, kesetaraan, kemanusiaan, dan kearifan tradisi diterjemahkan ke dalam skenario interaktif yang ramah anak.
Selain Arini, fasilitator lainnya, Arifin berharap permainan ini tidak hanya berhenti pada hafalan, namun dapat dipraktikkan dalam kehidupan mereka.
“Harapannya, agar temen-temen yang main bisa memahami mendalam tentang nilai-nilai Gus Dur, tidak hanya hafal, tapi juga bisa mengimplementasikan dalam keseharian mereka,” ungkap Arifin.
Eksperimen media belajar ini melengkapi fokus gerakan GUSDURian Mojokerto yang sedang gencar bergerak di bidang ekologi, khususnya program pengelolaan dan penghimpunan sampah dari warga sekitar yang juga diterapkan kepada para wali murid di lingkungan Rumah Belajar.
“Program ini merupakan kolaborasi GUSDURian dengan warga Suko yang sudah berjalan selama tiga tahun. Jadi di Rumah Belajar ini ada pembentukan karakter, melatih kepemimpinan dan melatih kreativitas.” Sambung Arifin.
Sejalan dengan gagasan Festival Jagat, Bank Sampah Mojokerto yang mengedepankan isu-isu ekologi dalam pendidikan sudah berjalan hampir tiga bulanan. Awal mula diinisiasi oleh Bu Nisa dan Pak Shoffan, wadah ini juga yang menjadi wadah untuk mengadakan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, seperti istighosah, diskusi, serta pendidikan ekologi.
Tak lupa, Rumah Belajar GUSDURian Mojokerto juga gencar melakukan berkolaborasi dengan lembaga-lembaga yang memiliki visi keberlanjutan seperti BSI dan Dinas Lingkungan Hidup untuk memberikan penyuluhan. Tentunya dengan tetap melibatkan anak-anak dan orangtuanya.
“Dua-duanya (anak dan orangtuanya) ikut. Jadi anak-anak itu, ikut membawa sendiri sampah, dan teman-temannya. Kemarin baru diklaim anak-anak dapat 18.000 setiap orang.” tukas Arifin. (SDH)