Jombang – Memadukan ide peningkatan kesadaran ekologi dan pelestarian budaya berbasis permainan tradisional, Kampung Lali Gadget memfasilitasi pembelajaran berbasis permainan (fun games) sebagai rangkaian dari Festival Jagat (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi) di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Sabtu (29/8/2026). Dimulai pada pukul 09.30 WIB, kelas ini diikuti oleh setidaknya 45 siswa laki-laki dan perempuan.
Selaras dengan fokus dari komunitas Lali Gadget, fasilitator memulai forum dengan pengantar tentang gadget dan dampaknya terhadap pola perilaku generasi sekarang. Selain potensi kehilangan unsur kebudayaan yang disebabkan oleh tidak tersentuhnya permainan-permainan tradisional, gadget juga berpengaruh cukup signifikan terhadap pola sosialisasi dan psikologis masyarakat modern.
Ahmad Irfandi, sang fasilitator, memulai pembelajaran dengan membagi para siswa menjadi 14 kelompok kecil yang kemudian diajak untuk bermain permainan tradisional berbasis tembang (lagu), yaitu cublak suweng. Permainan yang cukup lumrah di sejumlah daerah di Indonesia. Dalam prosesnya, fasilitator memberikan improvisasi-improvisasi tertentu dan menyesuaikan kondisi para siswa.
Pembelajaran selama dua jam tersebut berlanjut dengan disusul banyak permainan lain, seperti jamuran dan ontong-ontong bola yang juga berbasis tembang. Kemudian ada juga permainan yang berbasis alat tradisional berupa bilah bambu, yang kemudian dianyam menjadi wayang tradisional yang cantik. Peserta kemudian diajak juga untuk membaca buku tentang permainan-permainan tradisional.
Irfandi melihat satu celah besar dalam kehidupan anak-anak generasi ini. Proses belajar yang didapatkan dari mengobservasi kehidupan di sekitarnya, proses interaksi yang mempererat relasi sosialnya, kini mulai hilang digantikan eksplorasi dalam gadget.
“Kita hari ini menghadapi masalah yang sangat besar untuk anak-anak generasi penerus kita, yaitu kecanduan gadget. Anak-anak tidak bisa lepas dari kecanduan gadget. Saya pikir permainan ini yang bisa mengembalikan masa kecil anak-anak, waktunya dia bermain, waktunya dia berinteraksi, waktunya dia belajar banyak hal, mengetahui banyak hal tentang bagaimana dunia ini bekerja itu dari bermain, dari berinteraksi dengan teman-temannya, dari melakukan banyak hal baik berbasis sains, lingkungan, dan sebagainya. Itu yang sebenarnya telah dilakukan anak-anak sejak zaman dulu. Dan hari ini hilang karena gadget ini,” ucap Irfandi.
Hal ini menjadi permasalahan yang cukup serius, sebab proses itu juga yang menjadi landasan penting untuk membangun kepedulian lingkungan dan sosial anak terhadap kehidupan sekitarnya sejak dini.
Selanjutnya Irfandi memberikan apresiasi kepada Jaringan GUSDURian yang telah merumuskan ide untuk memadukan edukasi ekologi dan permainan tradisional dalam satu payung besar.
“Jadi saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada teman-teman Gusdurian yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Jadi, mengaitkan antara permainan tradisional dan isu ekologi itu satu hal yang sangat luar biasa,” pungkasnya kepada tim Kampung Gusdurian. (SDH)