Jombang – Di halaman PP Salafiyah Syafiiyah Seblak, Jombang. Di tengah helatan Festival Jagat, sebuah mobil terparkir dengan tulisan besar yang mengundang tanya: “Mobil Laboratorium Mikroplastik”. Bagi sebagian peserta yang baru pertama kali melihatnya, kehadiran mobil ini sempat menimbulkan rasa penasaran.
Mobil Laboratorium Mikroplastik tersebut merupakan milik ECOTON (Ecological Observation and Wetland Conservation), yayasan lingkungan yang bergerak dalam penelitian, edukasi, dan advokasi untuk melindungi ekosistem sungai dan lahan basah di Indonesia.
Berdiri pada 1996 dan berpusat di Gresik, kini banyak bekerja pada isu pencemaran sungai, sampah plastik, limbah industri, dan mikroplastik, dengan pendekatan yang melibatkan masyarakat dalam upaya mewujudkan pengelolaan sungai yang berkeadilan dan partisipatif. Kehadirannya di Majelis Keadilan Ekologi ditujukan untuk memberikan edukasi sekaligus layanan pemeriksaan mikroplastik secara gratis bagi peserta. Di sini, pengunjung dapat melihat buku dan media edukasi mengenai mikroplastik. Salah satunya berupa media yang menggambarkan keberadaan mikroplastik di sekitar janin dalam kandungan.
Sebuah mikroskop menjadi pusat perhatian. Alat yang sekilas tampak seperti perlengkapan praktikum sekolah itu justru menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang selama ini sulit dibicarakan: bagaimana mungkin kita bicara tentang sesuatu yang tak bisa dilihat mata telanjang?
Mikroplastik memang berukuran sangat kecil, sehingga keberadaannya kerap luput dari kesadaran. Untuk itu, peserta diajak melihat langsung lewat mikroskop, dengan sampel sesederhana kulit tangan atau wajah mereka sendiri. Caranya pun sederhana: tisu basah dioleskan ke bagian tubuh, lalu sampel itu diperiksa di bawah lensa. Dari situ, peserta melihat ternyata mikroplastik memiliki bentuk yang beraneka, ada yang berbentuk filamen, berupa lembaran pipih kecil yang biasanya berasal dari hasil pembakaran sampah plastik. Ada pula fiber, yang menyerupai rambut-rambut halus.
“Bisa karena kita pegang-pegang meja, atau bambu, atau apa, bisa jadi ada fiber-nya,” jelas fasilitator ECOTON yang mendampingi pemeriksaan.
Benda-benda yang kita sentuh sehari-hari, rupanya, bisa menjadi bagian dari jejak panjang perjalanan mikroplastik. Produk kosmetik dengan kandungan glitter, atau scrub yang mengandung microbeads, merupakan contoh mikroplastik yang perlu diwaspadai.
Salah seorang peserta sempat bertanya, bagaimana cara mengetahui apakah mikroplastik sudah masuk ke dalam tubuhnya sendiri. Fasilitator menjelaskan bahwa pemeriksaan semacam itu bisa dilakukan lewat sampel darah. Satu catatan menarik bahwa mereka yang terbiasa mencuci tangan, membersihkan diri, dan berwudhu, cenderung membawa lebih sedikit mikroplastik di permukaan tubuhnya. Sementara itu, mikroplastik yang terlanjur masuk ke dalam tubuh disebut berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan mulai dari depresi, obesitas, hingga gangguan fertilitas.
Setelah sesi check-up, fasilitator ECOTON mengajak pengunjung untuk mulai mengurangi penggunaan bahan-bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Kayu, bambu, keramik, dan gerabah disebut sebagai alternatif yang bisa menggantikan sebagian peralatan berbahan plastik. Satu hal yang juga ditekankan, berhenti membakar sampah plastik, sebab proses pembakaran itulah yang justru menghasilkan mikroplastik dalam bentuk filamen. (SDH)