JAKARTA – Komunitas GUSDURian Jakarta bekerja sama dengan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film Besok Kita Nanem Lagi di Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2026) malam. Kegiatan dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Gus Dur ini mengusung tajuk ”Mungkinkah Jakarta Berdaulat Pangan dari Pekarangan Sendiri?” guna membedah tantangan pangan perkotaan melalui lensa sinematik.
Film yang diputar menyoroti perjuangan dua generasi petani, yaitu Sardi (baby boomer) yang setia pada tradisi dan Ryan (gen Z) yang mengadopsi inovasi teknologi di tengah tantangan krisis iklim serta hambatan regulasi.
Koordinator Gusdurian Jakarta, Annas Eka Wardhana, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini menjadi ruang refleksi mengenai posisi warga kota dalam rantai pangan nasional, sekaligus pemantik agar masyarakat urban bisa lebih mandiri secara pangan.
Solusi Bertani di Lahan Padat Perkotaan
Diskusi yang dipandu oleh Nadia selaku moderator ini berjalan interaktif dengan adanya tanggapan langsung dari para peserta.
Menjawab pertanyaan dari Dela mengenai solusi bertani di wilayah padat penduduk seperti Jakarta, Head of Research CIPS, Aditya Alta, menjelaskan bahwa metode hidroponik menjadi pilihan paling ideal bagi masyarakat perkotaan.
Pendiri (Founder) Survival Architecture Indonesia, Taufiq Supriadi, menambahkan bahwa keterbatasan ruang bukan hambatan untuk berinovasi. Ia mencontohkan keberhasilannya menyulap selokan di RT 008 RW 004 Malaka Jaya menjadi tempat budi daya lele.
”Lorong sempit bukan jadi hambatan dalam berinovasi. Dari lorong sempit justru lahir solusi besar,” ujar Taufiq.
Meski sempat mendapat penolakan awal dari warga, ide tersebut akhirnya diterima setelah melalui proses musyawarah.
Mengurai Peran Swasta dan Akar Masalah Pangan
Peserta lain bernama Rachel mempertanyakan isi film terkait alasan petani lebih banyak mendapat bantuan dari pihak swasta ketimbang pemerintah.
Aditya memaparkan bahwa masalah pangan di Indonesia memang kompleks, mencakup isu produksi, distribusi, hingga kerentanan posisi petani yang sulit mengakses modal, teknologi, dan pasar.
Sementara itu, Digital and Content Specialist CIPS, Eky Triwulan, menjelaskan bahwa pihak swasta sering kali bergerak lebih cepat dan fleksibel dalam memberikan pendampingan teknologi serta pembiayaan. Menurut Eky, film ini menjadi refleksi agar publik terus mendorong pembenahan fasilitas dari pemerintah, seperti sistem irigasi dan subsidi pupuk bagi petani desa.
Taufiq turut mengkritik sistem birokrasi administratif yang rumit karena dinilai menghambat produktivitas masyarakat akar rumput. Sebagai solusi nyata, ia telah menyusun cetak biru (blueprint) program strategis berdurasi empat tahun di tingkat RT yang mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) yang berlaku.
Membangun Inisiator Lingkungan Berbasis Sistem
Ketika peserta bernama Ridwan menanyakan cara melatih komunitas agar menjadi penggerak lingkungan, Taufiq menekankan pentingnya pembuktian digital yang nyata daripada sekadar teori.
Ia memperlihatkan situs web resmi lingkungan RT-nya untuk mendiseminasikan inovasi pertanian perkotaan (urban farming) secara transparan kepada publik.
”Jangan hanya seremonial, tapi buat sistemnya,” tegas Taufiq.
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci
Di akhir acara, para narasumber memberikan pernyataan penutup yang tegas. Eky menyatakan bahwa ketahanan pangan harus melibatkan kolaborasi lintas sektor antara komunitas, petani, dan swasta. Ia juga meminta pemerintah memberi ruang inovasi yang luas bagi petani tanpa hambatan regulasi.
Aditya mengingatkan perlunya strategi baru pada abad ke-21 untuk menghadapi tantangan nyata, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga masalah susut sisa pangan (food waste).
Menutup diskusi, Taufiq mengajak seluruh peserta untuk memulai perubahan paradigma dari tingkat paling bawah.
”Indonesia butuh perubahan paradigma, bukan di pusat tapi di akar, dan akarnya adalah kita. Kita adalah pelaksana terdepan fundamental negara,” pungkasnya.
Penulis: Yohana (Penggerak GUSDURian Jakarta)