Peristiwa

Kongkow Bareng Gusdurian Jogja: Panggung Teatrikal Menggugat Keserakahan

YOGYAKARTA – Komunitas Gusdurian Jogja menggelar acara Kongkow Bareng Gusdurian Jogja (KBGJ) dengan mengusung tema ”Persiapan Kiamat Lingkungan Berikutnya”. Acara berlangsung pada Jumat (11/9/2026) di Griya Gusdurian, Yogyakarta.

KBGJ kali ini diisi dengan pemutaran film dokumenter pendek berjudul Kiamat Sampah karya Ravacana & Friends. Selaras dengan tema, pemutaran film dan rangkaian acara dirancang sedemikian rupa untuk menyuarakan isu ekologi kepada masyarakat Yogyakarta.

Tidak seperti nonton bareng (nobar) pada umumnya yang diisi sesi diskusi formal, nobar kali ini lebih mengajak penonton berefleksi dan menyuarakan kegelisahan mereka secara langsung.

Acara terbagi dalam beberapa babak. Sebagai pembukaan pada episode pertama, sorot lampu mengarah ke area panggung dan menggelapkan suasana sekitarnya. Diiringi musik latar yang mendebarkan, Najma naik ke panggung memantik berbagai pertanyaan reflektif tentang kondisi alam saat ini. Ia mempertanyakan, benarkah kita sudah mencintai lingkungan, ataukah kita sebatas puas mengunggah foto setelah menghadiri kegiatan lingkungan?

Najma juga mengingatkan bahwa alam kerap menjadi korban keserakahan manusia. Ia lantas mengajak penonton mengingat kembali momen pertama kali mereka menyadari bumi yang makin rusak, lalu menyimpannya sebagai bahan perenungan pribadi.

Film karya tahun 2022 berdurasi 19 menit 22 detik tersebut ditayangkan pada episode kedua.

Usainya penayangan film menjadi penanda dimulainya episode ketiga. Najma kembali ke tengah panggung memanggil penampil pertama, Martin, yang membawakan orasi. Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) itu menyoroti bagaimana alam kerap sekadar dijadikan latar (background) foto liburan.

Penampil kedua, Kinar, membawakan puisi. Diiringi lagu ”Kulihat Ibu Pertiwi”, perempuan yang belajar di Sanggar Anak Alam itu sukses memukau penonton.

Tidak hanya menampilkan penampil yang telah dipersiapkan untuk merespons isi film, Najma juga mengajak penonton ikut bersuara. Rian, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, turut menyampaikan orasi. Sesi tersebut dilanjutkan oleh Ikay dan Ubay yang membawakan lagu ”Kebenaran Akan Terus Hidup” karya Fajar Merah.

Tiga penampil berikutnya berasal dari perwakilan Garda Seni Budaya (Gasibu) yang membawakan puisi. Setelah itu, Wasil membagikan refleksinya melalui puisi yang dikemas menyerupai percakapan sepasang insan yang saling mengingatkan untuk mencintai lingkungan. Egi kemudian membawakan dua lagu dan menutup penampilannya lewat lagu ”Darah Juang” yang dinyanyikan bersama seluruh penonton.

Epilog disampaikan oleh Najma pada penghujung acara. Penonton diajak kembali melihat esensi pertemuan malam itu. Najma mengingatkan bahwa pertunjukan segera berakhir dan lampu sorot akan padam. Penonton pun disentil tentang kesementaraan pertunjukan: saat semua kembali ke kehidupan sehari-hari, masihkah ada dorongan untuk terus merawat bumi?

Demikian acara KBGJ berlangsung. Penonton pulang membawa keresahan, untuk disimpan dan dijadikan pemantik bersama dalam merawat umur bumi. (SDH)

Penulis: Sayidah Chovivah (Penggerak GUSDURian Jogja)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian