YOGYAKARTA – Delegasi Greenpeace Indonesia mengadakan pertemuan dengan Sekretariat Nasional (SekNas) Jaringan GUSDURian di Griya Gusdurian, Yogyakarta, Senin (14/9/2026). Pertemuan ini membahas peluang kolaborasi antara organisasi kampanye iklim dan jejaring sosial keagamaan tersebut dalam merespons isu lingkungan dari tingkat komunitas hingga kebijakan publik.
Tim Kampanye Sosial Ekonomi Greenpeace diwakili oleh Muharram Atha Rasyadi, Abdul Ghofar, dan Riska Rahman. Acara dibuka oleh Haiba Iskandar dari SekNas GUSDURian, lalu dilanjutkan dengan presentasi program dari masing-masing pihak.
Dalam pertemuan tersebut, Riska mempresentasikan program global Greenpeace bernama Ummah for Earth. Program ini menyasar kelompok lintas iman, khususnya umat Islam. Pemilihan target ini didasarkan pada data demografis yang menunjukkan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, dengan letak geografis yang rentan terkena dampak perubahan iklim.
Kelompok sasaran utama kampanye ini adalah anak muda muslim perkotaan (urban muslim youth). Untuk tahun 2026, Ummah for Earth berfokus pada tiga hal, penyusunan panduan masjid sebagai pusat ketahanan iklim, pengajuan silabus perubahan iklim di perguruan tinggi keagamaan bersama Kementerian Agama, dan perbaikan tata kelola keuangan syariah.
Mengenai keuangan syariah, Riska menekankan perlunya pergeseran prinsip pendanaan dari sekadar halal menjadi thayyib (baik dan tidak merusak lingkungan). Menurut temuan Greenpeace, sejumlah perbankan syariah masih menyalurkan pembiayaan ke sektor energi kotor.
“Keuangan syariah kita mungkin sudah memenuhi syarat halal yang ketat, tapi belum thayyib. Buktinya, masih banyak perbankan syariah yang memberi pinjaman ke proyek batu bara. Kita ingin menggeser paradigma ini, jangan sekadar bicara halal, tapi juga memastikan apakah uang kita memicu kerusakan alam atau tidak,” kata Riska.
Gagasan tersebut direspons oleh Heru Prasetia dari SekNas GUSDURian melalui pemaparan program JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi). Heru menjelaskan krisis lingkungan berdampak pada semua kelompok masyarakat tanpa memandang identitas agama. Oleh karena itu, gerakan lintas iman perlu menjadikan isu ekologi sebagai salah satu agenda utama.
Melalui JAGAT, GUSDURian telah memfasilitasi delapan inisiatif lingkungan di berbagai daerah. Praktik tersebut meliputi pengelolaan sampah di Lombok, pengorganisasian warga pesisir di Semarang, hingga pendirian sekolah alam bagi anak-anak kelompok Ahmadiyah di Tasikmalaya.
Melihat kesamaan fokus tersebut, Greenpeace mengundang Jaringan GUSDURian bergabung dalam aliansi global Ummah for Earth, yang saat ini beranggotakan 60 organisasi. Abdul Ghofar dari Greenpeace menilai kolaborasi ini bisa dikembangkan ke bentuk teknis, misalnya mendorong transisi energi melalui pemasangan panel surya di masjid, gereja, atau vihara.
Tim Kampanye Sosial Ekonomi Greenpeace, Atha, menambahkan bahwa kedua lembaga dapat membagi peran dalam kampanye. Greenpeace berfokus pada penyediaan riset dan strategi kampanye, sedangkan GUSDURian berfokus menggerakkan kesadaran masyarakat melalui pendekatan kultural.
Meski memiliki basis massa di tingkat akar rumput, Heru Prasetia mengingatkan bahwa edukasi warga tetap harus diikuti dengan dorongan perubahan di tingkat kebijakan publik.
“Kalau gerakannya cuma sekadar memilah sampah dan pengelolaan di level akar rumput, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Perubahan ini harus didorong menjadi gerakan struktural yang berani menyentuh sisi kebijakan,” ucap Heru.
Pertemuan ini diakhiri dengan rencana penyusunan strategi kampanye bersama di media sosial. Penggerak kampanye GUSDURian, Adin, menyatakan siap mengoordinasikan akun-akun komunitas di berbagai daerah agar kampanye isu lingkungan dapat dilakukan secara lebih luas. (SDH)