Opini

Desmon Tutu dan Agamawan yang Melawan

(AI/Gemini)

Beberapa tahun yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Museum Apartheid di Johannesburg, Afrika Selatan. Museum itu terletak di selatan Kota Johannesburg, tidak terlalu jauh dari Stadion Soccer City tempat pembukaan dan final Piala Dunia 2010 diadakan. Di museum yang diresmikan pada 2001 itu kisah penindasan, peliyanan, dan semangat perjuangan masyarakat Afrika Selatan dan para pendukung anti-apartheid diabadikan.

Ada banyak faktor yang membuat Afrika Selatan kemudian terlepas dari politik peliyanan akibat warna kulit itu. Salah satu yang sangat kuat membentuk wacana pembebasan sehingga menjadi gerakan yang masif adalah agama.

Orang mungkin lebih mengenal Afrika Selatan dari sosok Nelson Mandela alias Madiba yang melegenda. Namun upaya Nelson Mandela tidak bisa dilepaskan dari perjuangan elemen-elemen lain yang juga menggelorakan semangat anti-apartheid, salah satunya adalah seorang pastor humoris yang murah senyum bernama Desmond Tutu. 

Di museum itu, Desmond Tutu diletakkan dalam rute paling akhir sebelum jalur keluar. Penempatan sosok dalam sebuah exhibition flow tentu tidak acak. Hal ini bisa dimaknai bagaimana pengelola museum menempatkan Pastor Tutu sebagai sosok pembebas yang penting untuk selalu diingat. 

Mungkin karena ini juga yang membuat saya langsung teringat sosoknya ketika nama Desmond Tutu muncul dalam sebuah poster dalam aksi demonstrasi dengan kutipannya yang sangat terkenal, “Jika kamu bersikap netral di dalam situasi ketidakadilan, maka kamu telah memilih berada di pihak penindas” (If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor).

Agama dan ketidakadilan

Ketidakadilan merupakan salah satu penyebab mengapa agama-agama Abrahamik muncul. Nabi Muhammad SAW misalnya menyiarkan Islam bukan sebatas untuk mengajarkan umat manusia melakukan ritual, tetapi menanamkan nilai-nilai keberpihakan terhadap liyan. Ritual justru muncul sebagai upaya konsolidasi dan mempertebal semangat jihad dalam melawan segala bentuk penindasan.

Kristen juga punya kisah serupa. Kisah Nabi Isa AS atau Yesus bukanlah kisah tentang bangsawan yang tiba-tiba menerima wahyu dan menggunakan firman Tuhan untuk menundukkan. Nabi Isa AS justru melihat bagaimana agama yang semestinya memberdayakan sudah bergeser menjadi ritual dan atas nama Tuhan banyak rabi yang lebih memilih memperbesar bangunan tempat ibadah, sementara masyarakat di sekitarnya hidup dalam kemiskinan yang ekstrem. 

Tak mengherankan jika Pastor Tutu menyebut bahwa perjuangannya merupakan perjuangan agama. Agama yang oleh banyak orang kira hanya mengajarkan ibadah harian, mingguan, hingga tahunan, ternyata memiliki maksud yang jauh lebih besar. Khususnya dalam menghadapi penindasan, agama—dan khususnya para pemukanya—mesti memiliki kesadaran untuk memihak pada mereka yang terpinggirkan.

Desmond Tutu meyakini betul agama yang diyakininya menolak segala bentuk kezaliman dan peminggiran hanya karena warna kulit. Oleh karenanya, ia berjuang menggunakan ajaran-ajaran agama tentang keadilan dan kesetaraan demi melawan apartheid yang begitu mengakar di Afrika Selatan. Terlebih sebagai orang yang lahir dari lingkungan yang miskin dan orang tua kelas pekerja, Desmond Tutu tentu punya kepekaan lebih dalam mengorkestrasikan agama sebagai jalan menuju pembebasan.

Sebagai pemuka agama, Desmond Tutu bisa saja tutup mata dan fokus pada urusan ukhrawi. Namun ia terlihat sebagai seorang pastor yang meyakini bahwa kebaikan akhirat tidak bisa dilepaskan dari kebaikan dunia. Artinya, ketika jutaan warga Afrika Selatan hidup dalam jurang ketidakadilan, di situlah peran tokoh agama semestinya hadir dan memberi suara yang nyaring. Tidak ada kata netral dalam ketidakadilan.

Tiga Jari di Mimbar Gereja

Minggu awal November, media sosial dihebohkan dengan banyaknya gereja yang mengunggah isi pidato dan simbol tiga jari yang digunakan sebagai bentuk protes. Banyak yang mengapresiasi, namun ada juga yang menyebut gereja semestinya jauh dari politik. Narasi ini kemudian dilawan dengan ajaran iman harus berpihak. Kepada siapa? Tentu saja kepada masyarakat yang tertindas. 

Berpihak adalah sikap politik. Sejak kemunculannya, agama memang tidak pernah jauh dari politik, dalam arti identitas agama dibentuk untuk melakukan konsolidasi dan perubahan sosial. Di sinilah kita perlu membedakan apa itu politik agama dan apa itu politisasi agama. Politik agama berorientasi pada keberpihakannya pada kemaslahatan rakyat, sementara politisasi agama berarti mengkapitalisasi agama untuk keuntungan individu atau kelompok dan biasanya digunakan sebagai cara meraih kekuasaan. 

Apakah gerakan-gerakan gereja ini juga akan terjadi di agama-agama yang lain? Wallahua’lam. Sebagai seorang muslim saya tentu berharap masjid memiliki keberpihakan yang sama. Apalagi sebagai negara muslim terbesar di dunia, nyaris belum ada suara yang nyaring dari pemuka agama Islam untuk menekan penguasa dalam kasus-kasus mutakhir. 

Setidaknya, gerakan pembebasan berbasis keimanan sudah mulai muncul ke permukaan. Ini saja sudah cukup membahagiakan. Pasalnya, banyak sekali pemuka agama di Indonesia yang berasal dari tradisi kelas sosial yang mapan. Sebagian di antaranya mungkin pernah turun dan melihat realitas masyarakat. Namun sebagian lainnya tidak. Hal ini menjadikan kata ketidakadilan mengalami pemaknaan yang berbeda-beda. 

Sesuatu yang oleh rakyat biasa dianggap sebagai bentuk ketidakadilan, bagi sebagian pemuka agama adalah ujian kehidupan. Dalam kasus karhutla, para pakar menyebutnya krisis ekologis (yang disebabkan ulah manusia), sebagian pemuka agama mungkin masih melihatnya sebagai takdir Tuhan (yang harus diterima dengan legawa). Oleh sebab itu, alih-alih menjadi penggerak perubahan, sebagian tokoh agama justru berlomba-lomba untuk berkhutbah tentang ikhlas dan ganjaran berlipat-lipat di surga. Sementara perut rakyat keroncongan dan token listrik berteriak-teriak tanpa permisi. 

Di tengah gempuran kabar buruk, gerakan gereja-gereja ini kita bisa berharap tumbuhnya kesadaran dari kelas privileged untuk hadir dan membela kepentingan kelompok yang disingkirkan.

Sarjoko S

GUSDURian yang suka mengkaji media & cultural studies.