Peristiwa

Gus Irul, Sosok Pengayom yang Melimpah Kesabaran dan Teguh dalam Prinsip Nilai

Rabu pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, kabar duka datang dari salah satu keluarga ndalem pondok. Kabar berpulangnya Gus Irul, sapaan akrab beliau, menjadi kehilangan mendalam bagi keluarga besar pesantren maupun orang-orang yang selama ini berinteraksi dan berjuang bersama beliau.

Almarhum wafat pada Rabu, 4 November 2026, setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di KM 78, dalam perjalanan dari arah Merak menuju Jakarta. Rencananya, jenazah almarhum akan dimakamkan pada malam hari, pukul 00.00 WIB, di pemakaman keluarga, Pendopo Maqam PP Internasional Al Illiyin, Sumberwaru, Wringinanom.

Kepergian beliau menyisakan banyak kenangan, terutama bagi para penggerak Komunitas GUSDURian Gresik yang selama ini merasakan langsung ketulusan, kesabaran, dan sikap terbuka beliau dalam mendukung gerakan keberagaman.

Sosok yang Mengayomi dan Selalu Membuka Ruang

Bagi Nur Khosi’ah, Gus Irul merupakan salah satu sosok paling sabar yang pernah ditemuinya. Sosok yang selalu hadir, membuka ruang, serta memfasilitasi gerakan keberagaman, khususnya Komunitas GUSDURian Gresik.

“Beliau adalah sosok pemimpin yang mengayomi. Kesabarannya begitu luas, tetapi tetap teguh dalam memegang prinsip dan nilai. Sebuah keteladanan tentang bagaimana merawat keberagaman bukan sekadar melalui kata-kata, melainkan juga melalui tindakan nyata,” kenang Nur Khosi’ah.

Baginya, Gus Irul bukan sekadar sosok yang memberikan dukungan dari kejauhan. Di tengah kesibukannya mengelola pesantren, beliau senantiasa menjaga komunikasi dan koordinasi dengan para penggerak komunitas. Kehadiran dan perhatiannya menjadi ruang aman bagi tumbuhnya berbagai inisiatif sosial dan keberagaman.

Hal serupa juga disampaikan Mujiburrohman, salah satu penggerak muda GUSDURian Gresik. Menurutnya, Gus Irul merupakan pribadi yang ringan tangan, rendah hati, dan senantiasa berusaha menghormati setiap tamu yang datang tanpa memandang latar belakang, golongan, maupun keyakinan.

Beliau dikenal gemar berbuat baik dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pergaulan. Baginya, menjaga persaudaraan, menghargai sesama, dan menebarkan kebaikan jauh lebih penting daripada mempertajam perbedaan pandangan, termasuk dalam urusan politik praktis.

Merawat Nilai Gus Dur dalam Kehidupan Sehari-hari

Sikap dan kepribadian Gus Irul mencerminkan ikhtiar untuk menghidupkan sembilan nilai utama Gus Dur (9 Nilai Gus Dur).

Tentu, tidak ada manusia yang sempurna. Namun, berusaha menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk kecintaan terhadap kemanusiaan, keislaman, dan ke-NU-an.

“Pada akhirnya, menjadi NU bukan sekadar tentang identitas, atribut, atau kepentingan politik. Lebih dari itu, bagaimana kehadiran kita dapat membawa manfaat, menebarkan kebaikan, dan menghadirkan rahmat bagi sesama,” ungkap Mujiburrohman.

Pertemuan Terakhir dan Rencana Gerakan yang Belum Sempat Terwujud

Kenangan kebersamaan dengan Gus Irul masih begitu lekat. Pada Ahad, 25 Oktober 2026, para penggerak Komunitas GUSDURian Gresik bersilaturahmi ke kediaman beliau seperti biasanya.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang diskusi untuk membahas agenda rutin Forum 17-an GUSDURian Gresik serta sejumlah rencana tindak lanjut gerakan komunitas.Dalam pertemuan itu, berbagai hal turut dibicarakan, mulai dari rencana pengelolaan sampah di lingkungan pesantren hingga keberlanjutan program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana), yang selama ini juga mendapatkan perhatian dan pengawalan dari beliau.

Bahkan, beberapa hari setelah pertemuan tersebut, tepatnya Kamis malam, 29 Oktober 2026, Gus Irul masih menyempatkan diri hadir dalam Forum 17-an GUSDURian Gresik secara daring.

Bagi para penggerak, hal tersebut menjadi bukti bahwa di tengah kesibukan dan tanggung jawabnya di pesantren, beliau tetap memberikan perhatian terhadap keberlangsungan gerakan komunitas. Komunikasi, dukungan, dan keterlibatan beliau tidak pernah terputus.

Kini, sejumlah rencana yang pernah dibicarakan bersama mungkin belum seluruhnya terwujud. Namun, nilai-nilai kebaikan, keteladanan, dan semangat merawat keberagaman yang beliau tinggalkan akan selalu menjadi pengingat bagi para penggerak untuk terus melanjutkan perjuangan.

Gus Irul telah berpulang, tetapi keteladanan tentang kesabaran, kerendahan hati, kemanusiaan, dan persaudaraan akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya.

Selamat jalan, Gus Irul. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kami dalam merawat kemanusiaan dan keberagaman.

Nensi Indrianti

Author at Kampung GUSDURian