Sandwich Movement: Belajar Rawat Alam dari Ayam Belgia

Kalian tahu sandwich? Sebuah makanan yang bagian tengahnya terdiri dari daging, mayones, dan saus yang dihimpit oleh dua roti di bagian atas dan bawah? Makanan khas Spanyol ini belakang namanya sangat sering disebut-sebut, bukan hanya karena rasanya yang enak dan praktis untuk mengganjal perut, tapi istilah ‘sandwich’ dirasa sangat cocok untuk menggambarkan beberapa hal, termasuk menggambarkan gerakan dalam tulisan ini.

Makanan dan produk kebutuhan sehari-hari menjadi penyebab utama banyaknya sampah di bumi, termasuk di Indonesia. Pasalnya untuk menambah nilai ekonomis sebuah produk, bungkus plastik masih menjadi andalan, misal snack Chiki-Chiki yang sebenarnya lebih besar bungkusnya daripada isinya, atau buah apel yang dibungkus plastik satu per satu untuk memberikan kesan higienis dan lebih mewah, skincare yang dibungkus dengan kardus lengkap dengan segel plastik sebagai bukti barang aman dan new, dan seterusnya.

Plastik ini bagaikan buah simalakama, jika digunakan menghasilkan banyak sampah, apabila tidak digunakan juga akan menghasilkan sampah makanan yang tidak akan tahan lama apabila tidak dibungkus plastik.

Sampah makanan dan plastik makanan merupakan permasalahan serius dan berdampak terhadap ekosistem, kesehatan manusia, dan masa depan planet bumi. Sampah yang dihasilkan dari rutinitas makan kita sehari-hari mungkin terdengar sepele, padahal jumlahnya sangat signifikan.

Bayangkan! Saat kamu makan di sebuah restoran, berapa banyak pelanggan yang tidak menghabiskan makanannya? Atau jangan-jangan kamu sendiri juga begitu? Lalu kemana makanan yang tidak dihabiskan itu berakhir? Tentu saja tong sampah.

Masih tentang makan, coba sesekali kamu hitung berapa banyak plastik yang kamu hasilkan dari proses makan? Beli nasi dibungkus plastik, beli minum pakai botol atau gelas plastik, beli cemilan juga dibungkus plastik, bahkan untuk makan kadang kita juga menggunakan sarung tangan dari plastik. Sekali makan saja, berapa banyak plastik yang kita hasilkan, kalau hal ini dilakukan 10 orang, 50 orang, maka berapa banyak jumlah plastiknya?

Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), setiap tahunnya jumlah sampah plastik mencapai 25,29 juta ton. Fakta menariknya, sampah plastik masih menempati posisi kedua sampah terbanyak di Indonesia. Sedangkan posisi pertama diduduki oleh sampah makanan yang jumlahnya mencapai 38,96 %.

Berdasarkan laporan UNEP Food Waste Index Report 2022, penyumbang sampah makanan ini 79% berasal dari rumah tangga, kemudian layanan makanan (seperti restoran dan kafe) 36%, dan 17% dihasilkan dari ritel. Apabila dikalkulasikan 17% pangan dunia berakhir menjadi sampah makanan.

Sandwich Movement

Supaya plastik tidak menjadi kambing hitam dan selalu menjadi pemain antagonis, mari kita fokus pada pembuat sampah ini dan solusi apa yang bisa dilakukan. Sampah plastik tentu tidak akan menjadi masalah yang serius jika semua orang memiliki kesadaran untuk meminimalisir penggunaannya, memilahnya, membuang sampah pada tempatnya, dan mengolahnya kembali.

Begitupun dengan sampah makanan. Andaikan semua orang berbelanja bahan makanan dan memasak secukupnya, mengambil nasi dan lauk-pauk sesuai dengan kapasitas perutnya, pun sebisa mungkin tidak membuang surplus makanan, Hal itu tentu akan mengurangi jumlah sampah makanan.

Untuk mengatasi sampah makanan dan sampah plastik ini, dibutuhkan kerja sama antarpihak yang penulis sebut dengan sandwich movement. Seperti sandwich yang ditutupi roti bagian atas bawah dan berisikan daging di tengahnya, dalam menyelamatkan lingkungan juga diperlukan gerakan serentak dari atas (pemerintah), tengah (NGO, komunitas, atau institusi yang bergerak dalam bidang sosial lingkungan) dan bawah (masyarakat).

Sebenarnya sandwich movement ini telah diterapkan dalam beberapa case. Sebagai contoh pemerintah Kota Surabaya yang menerapkan larangan penggunaan kantong plastik ketika berbelanja di toko retail (PERWALI Kota Surabaya No. 16 Tahun 2022). Kebijakan tersebut dipatuhi oleh pelaku bisnis retail dan juga masyarakat yang sudah mawas diri untuk membawa kantong sendiri saat berbelanja.

Contoh lainnya, kali ini agak jauh penerapannya, di Belgia sana. Pemerintah Belgia membuat program mengurangi sampah makanan dengan menawarkan tiga ayam betina kepada tiap rumah yang bersedia untuk merawatnya, dengan syarat memiliki ruang yang cukup dan tidak boleh dikonsumsi atau diperjualbelikan selama dua tahun.

Terhitung 2.000 rumah tangga tertarik akan program tersebut, 6.000 ayam betina pun dibagikan. Ayam-ayam yang diberi pakan sisa makanan hasil rumah tangga ini pada bulan pertama berhasil mengurangi sampah makanan di Tempat Pembuang Akhir (TPA) sejumlah 100 ton. Tidak hanya itu, warga juga menikmati telur hasil ayam-ayam yang mereka rawat sehingga tidak perlu membelinya lagi.

Gerakan-gerakan di atas merupakan contoh nyata betapa program dan inovasi kebijakan yang tepat dari pemerintah, lalu dipatuhi oleh masyarakat akan memberikan dampak positif dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan, khususnya sampah makanan.

Dalam beberapa kesempatan saat diskusi lingkungan, saya kerap kali dapat pertanyaan, “Seberapa efektif sih gerakan lingkungan dalam mengurangi sampah?” atau “Program diet sampah itu kadang tidak bisa bertahan lama” dan pertanyaan-pertanyaan senada lainnya. Jawaban saya ya itu tadi, karena kita masih berjalan sendiri-sendiri. Yang sadar di bagian tertentu saja, tidak menyeluruh. Ibarat sandwich, hanya roti bagian atasnya yang dimakan, atau hanya dagingnya saja yang di tengah, tidak keseluruhan. Makanya, yuk makan semua bagian sandwichnya. Yuk sadarkan dan gerakkan semua sektornya, serentak. Agar benar-benar terjaga lingkungan kita. Ngomong-ngomong tentang sandwich, kalian suka makanan ini nggak?

Penggerak Gerdu Suroboyo/Komunitas GUSDURian Surabaya, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *