Cross-Country Learning: Pertemuan Lintas Negara, Bahas Toleransi hingga Keamanan Digital

JAKARTA – Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) Indonesia menggelar kegiatan lintas negara bertajuk “Cross-Country Learning on Youth, Digital Safety, and Human Rights” pada 7-17 September 2025 di tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Kegiatan yang melibatkan Jaringan GUSDURian, Peacegen, Interfidei, dan Imparsial tersebut bertujuan untuk melibatkan orang muda dan media kreatif untuk menangkal radikalisme, polarisasi, serta ekstremisme-kekerasan, sekaligus mempromosikan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB).

Heru Prasetia, salah satu penyelenggara dari Jaringan GUSDURian, menjelaskan bahwa kegiatan ini mempertemukan 30 peserta dari tujuh negara, pemerintah Indonesia, serta para pemangku kepentingan internasional.

“Di sini, peserta dari berbagai negara ini terlibat dalam dialog kebijakan dan advokasi dengan pemerintah lokal maupun komunitas internasional terkait KBB dan pencegahan ekstremisme, terutama yang muncul dari dunia digital,” ungkap Heru Prasetia.

Heru menambahkan, selama sepuluh hari para peserta juga melakukan pembelajaran antar-sebaya (peer-to-peer learning), fasilitasi pendidikan perdamaian, lokakarya singkat, dan kunjungan lapangan. Melalui lokakarya, mereka belajar tentang gamifikasi, nilai-nilai perdamaian, dan kampanye media sosial. 

“Selain melakukan sesi-sesi workshop dan diskusi, mereka juga melakukan pembelajaran di lapangan. Para peserta mengunjungi beberapa tempat seperti Museum Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Komunitas GUSDURian Yogyakarta, Interfidei, hingga Candi Borobudur,” pungkasnya.

Habila Muhammad Kudu, peserta dari Nigeria, mengungkapkan kesan dan antusiasmenya tentang acara ini. Menurutnya, keterlibatan aktif, kontribusi pengetahuan, dan semangat kolaborasi para peserta telah memperkaya pemahaman bersama tentang pemberdayaan pemuda, keamanan digital, serta hak asasi manusia lintas negara.

“Saya yakin bahwa pelajaran yang kita peroleh, jaringan yang telah kita bangun, dan strategi yang telah kita bahas akan terus menginspirasi tindakan nyata yang bermakna di komunitas kita,” paparnya.

Sementara itu peserta dari Republik Demokratik Kongo, Yvette Ditsh Mwilambwe, menceritakan pengalamannya ketika bersinggungan langsung dengan budaya baru. Ia mengaku bahwa perjalanannya di Indonesia tidak hanya memungkinkannya untuk menemukan kekayaan budaya, tetapi juga memahami bagaimana negara lain mengatur perlindungan anak muda di dunia digital, sekaligus membela kebebasan beragama dan berkeyakinan.

“Saya secara khusus menghargai pertukaran pengalaman antar-peserta. Masing-masing membawa realitas, tantangan, dan solusi mereka sendiri. Hal ini memperluas perspektif saya, bukan hanya tentang keamanan digital, tetapi juga tentang bagaimana pemuda dapat menjadi penggerak kohesi sosial serta melawan polarisasi dan ekstremisme kekerasan,” ungkap perempuan yang akrab disapa Yvette tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *