Air Mata untuk Sang Jenderal

Hari itu, laut di kampung pesisir mendadak sunyi. Padahal biasanya ombak selalu cerewet—menyela doa subuh, menepuk tiang rumah panggung, dan menyapa perahu-perahu kecil yang pulang membawa ikan kembung dan harapan. Namun pagi itu, laut seakan tahu: salah satu anak terbaiknya telah berpulang.

Namanya terpahat di berita, di layar televisi, di media massa dan di telepon genggam jutaan orang. Seorang jenderal meninggal dunia. Ditangisi jutaan manusia dari berbagai penjuru negeri. Orang-orang menyebutnya pahlawan, negarawan, simbol integritas, dan teladan kesederhanaan. Namun bagi kampung pesisir itu, ia tetap anak laut—anak lelaki yang dulu sering pulang dengan kaki berpasir tanpa alas dan mata penuh mimpi.

Ia lahir di sebuah rumah panggung yang menghadap laut. Atapnya seng tua, dindingnya terbuat dari papan  yang berderit jika disentuh angin. Ibunya perempuan lembut yang percaya bahwa doa adalah bekal terbaik hidup. Ayahnya nelayan yang mengajarkan satu hal paling penting: jangan pernah mengambil lebih dari yang laut izinkan.

“Kalau kau serakah, laut akan diam,” kata ayahnya suatu sore, sambil menatap lautan luas di hadapannya. Dan diamnya laut, bagi nelayan, adalah petaka. Anak lelaki itu tumbuh dengan suara azan yang bercampur desir ombak. Ia belajar membaca dari papan bekas peti ikan. Ia belajar berhitung dari jumlah perahu yang pulang dan tidak pulang. Ia belajar kejujuran dari laut—yang selalu memberi apa adanya, tak lebih, tak kurang.

Tak ada yang menyangka anak pesisir itu kelak akan menjadi jenderal. Tak ada yang lebih tak masuk akal selain mimpinya sendiri. Ketika ia diterima di akademi militer, kampung itu geger kecil-kecilan. Orang-orang menyalakan petromaks lebih lama malam itu. Ibunya menangis dalam diam. Ayahnya hanya mengangguk, lalu menatap laut lebih lama dari biasanya.

Akademi militer bukan laut. Ia keras, dingin, dan penuh perintah. Anak pesisir itu belajar berbaris, menahan lapar, menahan lelah, dan—yang paling sulit—menahan ego. Ia pernah jatuh karena keletihan saat latihan. Pernah dihukum karena membantu temannya yang sakit. Pernah ditegur karena terlalu sering salat di sela waktu istirahat.

Namun dari tempat itulah ia belajar arti disiplin yang manusiawi: bahwa kekuasaan tanpa empati hanyalah kebisingan. Ia lulus. Ia naik pangkat. Ia berpindah dari satu daerah konflik ke daerah lain. Di medan tugas, ia tak pernah lupa pesan ayahnya: jangan mengambil lebih dari yang diizinkan kehidupan. Ia menolak hadiah. Ia menolak fasilitas berlebih. Ia memilih makan bersama prajurit biasa. Ia dikenal keras pada diri sendiri, lembut pada rakyat kecil.

Ada kisah yang beredar tentangnya. Suatu hari, ia menolak penggusuran paksa di sebuah kampung. Ia berdiri di depan buldoser dan berkata, “Negara tidak boleh menang dengan membuat rakyatnya kalah.” Kalimat itu menyebar lebih cepat dari peluru. Ketika ia pensiun dari militer, banyak yang mengira hidupnya akan berubah. Rumah besar. Mobil mewah. Tanah di mana-mana. Namun hidupnya tetap sama: koper kecil, buku doa, dan pusaka antik yang menjadi kesukaannya.

Ia masuk dunia politik bukan karena ambisi, melainkan karena rasa tanggung jawab. “Kalau orang baik tidak mau masuk, maka ruang itu akan diisi oleh yang tak peduli,” katanya suatu kali. Sebagai pejabat publik, ia tetap sederhana. Ia tinggal di rumah dinas tanpa pernah mengklaimnya sebagai milik. Ia menolak renovasi berlebihan. Ia sering terlihat berjalan tanpa pengawalan ketat, menyapa pedagang kaki lima, mendengar keluhan petani, dan menunduk khusyuk di masjid-masjid kecil yang bahkan tidak tercatat di peta.

Ia religius tanpa pamer. Saleh tanpa menghakimi. Ia percaya Tuhan lebih suka kerja sunyi daripada pidato panjang. Ironisnya, setelah puluhan tahun mengabdi, ia tak pernah memiliki rumah pribadi. Tak ada sertifikat atas namanya. Tak ada vila di pegunungan. Tak ada apartemen di ibu kota. Hanya kenangan. Dan ketika kabar kematiannya menyebar, negeri ini seperti kehilangan satu tiang. Jutaan orang menangis—yang mengenalnya, yang hanya mendengar namanya, bahkan yang hanya tahu kisahnya dari cerita orang lain.

Jenazahnya dibawa ke Taman Makam Pahlawan. Tanah paling terhormat bagi seseorang yang tak pernah merasa terhormat. Upacara berlangsung khidmat. Bendera dilipat rapi. Tembakan salvo menggema. Para pejabat berdiri tegak. Para prajurit menahan air mata.  Sementara, rakyat kecil  yang selama ini mengaguminya menyaksikan pemakaman sang jenderal dari kejauhan. Di antara mereka, ada nelayan tua dari kampung pesisir. Rambutnya memutih. Tangannya gemetar. “Anak laut telah pulang,” gumamnya.

Ironi terbesar hidup sang jenderal adalah ini: Ia tak punya rumah semasa hidup, tetapi diberi tanah paling mulia setelah wafat. Namun barangkali, rumah sejatinya memang bukan bangunan. Rumah adalah tempat seseorang dikenang dengan jujur. Dan di hati jutaan orang, jenderal itu telah lama menetap—sebagai teladan bahwa kekuasaan bisa bersih, bahwa integritas bisa hidup, bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan kekayaan.

Laut di kampung pesisir kembali bergelombang keesokan harinya. Ombak kembali cerewet. Perahu kembali berlayar. Namun di antara desir itu, seolah ada doa yang terus berulang: doa para ibu yang kehilangan anaknya di medan konflik namun disapa keadilan, doa nelayan yang jaringnya pernah diselamatkan oleh satu kebijakan jujur, doa rakyat kecil yang tak pernah ia ingat namanya satu per satu, tetapi selalu ia bawa dalam keputusan-keputusannya. Doa-doa itu naik bersama uap air laut, mengambang sebentar di langit pagi, lalu jatuh kembali sebagai ketenangan yang sulit dijelaskan.

Di kampung itu, anak-anak masih berlari di pasir dengan kaki telanjang, menirukan barisan tentara tanpa tahu betul apa artinya pangkat dan jabatan. Mereka hanya tahu satu kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut: tentang seorang anak pesisir yang pergi jauh, mengenakan seragam hijau, lalu pulang sebagai teladan. Bukan untuk dipuja, melainkan untuk ditiru—bahwa hidup boleh tinggi cita-citanya, asal tetap rendah hatinya.

Dan laut, yang sejak awal menjadi saksi, menyimpan namanya dalam gelombang. Ia tidak mengabadikannya dengan prasasti, melainkan dengan irama. Setiap kali ombak menyentuh pantai, seolah laut sedang mengajarkan satu pelajaran sunyi: bahwa manusia besar bukanlah mereka yang mengumpulkan rumah dan harta, melainkan mereka yang ketika pulang, meninggalkan jejak kebaikan—cukup dalam, cukup luas, dan cukup abadi untuk dikenang.

Penggerak Senior Komunitas GUSDURian Majene, Sulawesi Barat. Pegiat Literasi PaGi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *